Opini

Pelangiku Tak Pernah Sama Lagi

Pelangi, definisi universal untuk sebuah fenomena alam seusai hujan, juga untuk representasi ragam warna yang indah itu, kini maknanya berubah.

Aku merasa definisi pelangi yang menjadi milik bersama itu direbut. Menjadi identitas sebuah komunitas. Digaungkan tanpa henti, setahun sekali. Dijadikan simbol di seluruh dunia, dipakai di mana-mana. Rasa-rasanya makna pelangi yang asli perlahan betulan direbut. Paksa.

Tapi, apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya setitik manusia di antara milyaran yang ada di dunia. Walaupun aku yakin di luar sana ada orang-orang dengan resah yang sama, tetap saja yang paling keras bersuara setiap tahunnya bukan kami.

Aku sedih. Pelangiku tak pernah sama lagi.

Namun, walau kami memang tidak bisa berbuat banyak, setidaknya aku tetap ingin menyuarakan isi hatiku;

―bahwa pelangiku tetap pelangi yang ada di langit seusai hujan. Satu-satunya definisi pelangi yang kuakui. Tidak ada yang lain.

Hari-hari

Mencicipi Kembali Sekolah “Normal”

Tanggal 17-21 Januari 2022 kemarin semester genap dimulai, dan Kota Depok mengizinkan semua sekolah PTM (Pertenuan Tatap Muka) 100%. Alias masuk semua, tidak ada pembelajaran daring.

Cuma sepekan sih, sebelum kemudian kembali ke PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) karena satu dan lain hal. 😅 Tapi, aku ingin merekam memori itu, ketika akhirnya aku bisa merasakan sekolah “normal” ― yang tentu saja tidak bisa seperti normal yang dulu.

Continue reading “Mencicipi Kembali Sekolah “Normal””
#30HariBercerita2022

“Lewat Sini Bisa, Bu”

Suatu hari di akhir September 2021, aku dalam perjalanan menuju sekolah naik motor. Itu bulan ke-3 aku bekerja di sana. Sudah punya rute alternatif favorit untuk berangkat kerja, yaitu lewat dalam kompleks.

Namun, karena memang bukan warga di kompleks itu, aku hanya hafal jalan yang biasa kulewati. Belum tahu gang-gang tembusan dengan ujung yang sama. Itulah mengapa aku sempat agak panik ketika suatu hari rute langgananku ditutup portal. Ada acara khitanan. Dan jam sudah mau pukul 7.

Continue reading ““Lewat Sini Bisa, Bu””
#30HariBercerita2022

Doa Aja Dulu

“Kamu pingin coba itu nggak?” tanyaku tiba-tiba pada adik yang sedang menonton acara keluarga artis. Saat itu, mereka sedang membuat dessert box raksasa.

“Maulah,” jawabnya.

“Aku juga.”

“Belilah,” katanya, tapi aku menggeleng.

Dessert box, alias kue di dalam boks itu, sebenarnya sudah lama kuidamkan. Setidaknya sejak ia viral di tahun 2020. Namun, aku suka berpikir ulang setiap akan membeli sesuatu. Dessert box ini, walau memang rasanya akan se-worth it harganya, tetap saja bagiku terlalu mahal untuk sekadar cemilan. 😂

“Percaya nggak kalau kita bisa makan kue itu gratis, cuma modal doa aja ke Allah?” tanyaku, setengah iseng.

Continue reading “Doa Aja Dulu”