#JumblingJuly2017, Curhat, Kuliah

Kelas Di-cancel

20181006_215714_0001-222008060.png

Ada satu hal yang nggak bakal terjadi di masa SMA, tapi sering (banget) kejadian di masa kuliah.

Kelas di-cancel.

Aku nggak tahu ini suka atau duka. Yang kuyakini adalah hanya kita yang bisa menentukan sendiri akan menjadikan fenomena “kelas di-cancel” itu sebagai kesialan atau keberuntungan. Faktor kelas mendadak dibatalkan ini biasanya hampir selalu karena dosen, entah dosen ada rapat mendadak, lagi sakit, izin ada urusan tertentu yang urgent atau mendadak, lagi pergi ke luar kota tapi lupa mengabari, dan masih banyak lagi. Menurut pemikiranku yang rada ngaco malam ini, seenggaknya bagi mahasiswa ada empat sudut pandang cara mereka menyikapi fenomena yang bagiku setengah nikmat dan setengah menyebalkan ini. Sudut pandangnya dibagi ke dalam dua kelompok besar, si Rajin dan si Malas; si Negative Thinking dan si Positive Thinking.

Bagi si Rajin yang negative thinking, fenomena itu akan dianggap sebagai suatu hal yang merugikan banyak orang, baik bagi dirinya, orang tuanya, bahkan agama, negara, nusa dan bangsa sekalian. Bayaran UKT sebesar jutaan rupiahnya terbuang sia-sia karena kelasnya di-cancel. Mendadak pula. Lebih sia-sia lagi kalau dosen nggak berniat membuat kelas pengganti. Padahal ia sudah semangat datang ke kampus untuk menuntut ilmu, sayangnya rapat dosen sering memadamkan semangatnya yang tadinya sudah membara sejak ia bangun tidur.

Bagi si Rajin yang positive thinking, fenomena itu akan dianggap sebagai momen untuk belajar mengulangi materi minggu lalu secara mandiri yang sengaja diberikan oleh Tuhan. Kalau ada tugas, ia akan dengan sangat bersyukur bisa menyempurnakan tugasnya lagi―karena dia rajin, pasti tugasnya sudah selesai. Ia juga sangat gemar menghubungi dosen untuk membuat kelas pengganti―yang biasanya juga berakhir wacana atau dosennya lupa sih. Kalau deadline tugasnya hari itu juga, ia akan menjadi orang pertama yang melobi dosen sekaligus mengingatkan kalau hari itu ada tugas yang harus dikumpulkan―tentu saja hal ini membuat teman sekelasnya jadi sebal dan gatal ingin menyantetnya, terutama si Malas yang mau kubahas di bawah ini.

Bagi si Malas yang negative thinking, kelas yang di-cancel mendadak itu menjadi ladang umpatan baginya. Apalagi kalau si Malas ini baru tahu kelas di-cancel tepat setelah ia menginjakkan kaki di kelas yang sepi. Paling sakit memang kalau informasi kelas di-cancel itu muncul ketika ia sedang di tengah perjalanan. Maka dari itu, nggak heran kalau segala binatang dari hewan peliharaan hingga kebun binatang langsung diabsen satu-satu. Misalnya, “Dasar kucing!” atau “Jerapah emang itu dosen!”―umpatan sesungguhnya sengaja disensor dengan binatang yang lebih lucu. 

Yang terakhir, si Malas yang positive thinking. Kelas di-cancel baginya adalah nikmat Tuhan yang nggak bisa didustakan. Walaupun sudah telanjur parkir motor―apalagi kalau parkirannya bayar―ia tetap legowo (ikhlas; bahasa Jawa) dan dengan senang hati kembali ke parkiran untuk pulang detik itu juga. Ia takut kalau dosen mendadak berubah pikiran, lol. Hobinya adalah memberi kejutan orang di rumah (kalau ngekost ya minimal mengejutkan ibu kost atau teman sebelah kamar) kalau ia sudah balik dari kampus, padahal baru berangkat satu jam yang lalu. Iya, satu jam itu 30 menit pergi dan 30 menit pulang. Momen kelas di-cancel itu juga menjadi anugerah baginya kalau kebetulan kelas hari itu ada tugas yang musti dikumpulkan dan deadline-nya dimundurkan.

Menurutku, tiap manusia punya sisi rajin dan malas, cuma berbeda kadar kecenderungannya aja. Kayak extrovert dan introvert gitu, kan nggak ada orang yang murni introvert, adanya cenderung introvert atau cenderung extrovert. Nah, kalau merujuk teori ngawur yang kubuat di atas, aku ini tipe mahasiswa yang positive thinking, baik si Rajin maupun si Malas. Cenderung yang si Malas yang berpikir positif sih, hehe. Da aku mah mageran anaknya, malas gerak, tapi selalu berpikir positif kok, hehe.

Oh ya, teori di atas murni ngawur dan terpikirkan secara mendadak. Tapi, ada satu hal yang bisa diambil dari kengawuran itu. Apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kuliah kita, mau sika atau duka, mau nikmat atau menyebalkan, sebisa mungkin pandanglah sesuatunya dalam sisi positif. Niscaya kamu tidak akan merugi.

Seenggaknya, nggak “merasa” rugi karena selalu berpikir positif, hehe. :)) Apa sih kok aku nggak jelas. (?)

.

.

rufindhi

Depok, 14 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s