#JumblingJuly2017, Curhat, Kuliah, Nostalgia, Opini

Dukamu Bukan Dukaku

20181006_215650_0001-360944824.png

Bagi mahasiswa yang kuliahnya merantau ke luar kota atau pulau, banyak yang memutuskan untuk tinggal di kos. Aku termasuk yang pernah (terpaksa) kos selama setahun. Tepatnya tahun 2015-2016 karena aku tinggal di Depok dan kampusku di Jatinangor (Sumedang). Bolak-balik naik angkot + bus saja bisa tiga jam, itu kalau nggak macet. Kalau macet ya … bisa dua sampai tiga kali lipatnya. Untuk alasan yang sangat masuk akal itu, aku nggak mungkin kuliah pulang-pergi dan memutuskan untuk mengekos.

Ada sebagian mahasiswa baru yang sepertinya sangat mengimpikan kehidupan kuliah rasa mengekos, bahkan rasanya nggak sedikit yang rumahnya di kota sebelah tapi ia mengekos di dekat kampus. Alasannya ada dua: Nggak sanggup menerjang kemacetan (biasanya dia sudah pengalaman pulang-pergi naik kendaraan sendiri/umum tapi akhirnya lelah juga) atau pingin saja.

Iya, pingin. Banyak yang ingin merasakan kebebasan mengekos karena jauh dari orang tua.

Aku nggak bisa memutuskan secara langsung bahwa mahasiswa rantau yang mengekos itu suka atau duka. Semuanya kembali pada prinsip hidupku: Aku sendiri yang menentukan semua itu akan menjadi suka atau duka. Walaupun pada dasarnya semua hal selalu ada suka dan dukanya, aku lebih suka menyebut duka itu menjadi kejadian yang terlihat menyedihkan tapi biasanya akan menjadi bahan cerita dan tertawaan di kemudian hari.

Ada contoh kejadian-kejadian yang sering dianggap sebagai duka. Sebagai anak kos, aku tinggal sendiri. Waktu semester satu, aku hampir nggak pulang karena sibuk OSPEK. Bahkan rasanya aku cuma pulang dua kali: Waktu libur Idul Adha (ada libur empat hari berturut-turut) dan liburan akhir semester. Alasannya sepele sih, karena aku nggak tahu cara pulang naik bus sendirian dan temanku yang anak FK baru ngajak pulang waktu Idul Adha dan libur akhir semester. :”)

Sebagai anak kos juga, aku mengandalkan makanan warteg kalau lagi kangen masakan rumah. Hampir setiap malam aku makan roti. Kalau nggak ada lauk, aku masak nasi dan makan sama abon. Kamar selalu sepi, terkadang ditemani suara televisi yang di layarnya semut semua (sinyalnya jelek). Aku hampir nggak pernah sarapan (cuma pas puasa aja yang sarapan pas sahur, itu pun karena puasa ramadhan dan cuma empat hari). Pulang dari OSPEK habis kotor-kotoran biasanya setelah mandi langsung tepar, kali ini aku harus membersihkan baju dan sepatu dengan pegal-pegal di seluruh tubuh, mengepel lantai yang terkena lumpur, lalu baru bisa tidur.

Apa cuma segitu?

Masih banyak lagi.

Namun, di balik semua kejadian itu, aku memilih untuk belajar dari semua yang pernah kualami. Karena setiap kejadian selalu menyimpan hikmah. Sesederhana “tidak ada akibat tanpa sebab.”

Aku memang tinggal seorang diri di sebuah kamar, pulang kuliah buka pintu nggak ada yang menyambut. Tapi, darinya aku mengetahui betapa berharganya kehangatan keluarga. Mereka benar-benar nggak tergantikan.

Aku pulang naik bus. Kadang sendirian (pas semester dua). Tapi, darinya aku belajar lebih mandiri, bahkan mengapresiasi diri sendiri. “Wah, betapa hebatnya aku bisa bolak-balik Depok-Nangor naik bus sendirian berulang kali.” Aku merasa bangga karena … bahkan sekarang ini mau ke Nangor naik bus sendiri malah dilarang orang tua karena berbahaya. Berarti kemarin-kemarin itu aku hebat kan? #eh

Aku nggak pernah sarapan. Kalau kangen makanan rumah musti beli di warteg. Tapi, dari yang jarang sarapan itu, aku jadi lebih irit (apa pelit dan malas ya, hahaha) dan kurusan (asyique). Darinya pula aku lebih menghargai masakan rumah setiap lagi pulang ke rumah, menikmati setiap butir nasinya. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk kembali pulang dan melakukan perbaikan gizi.

Aku nggak ditemani siapa-siapa ketika lelah sehabis OSPEK, nggak disemangati siapa-siapa. Baju kotor pun nggak bisa kutinggalkan begitu saja karena kalau bukan aku yang mencuci ya siapa lagi, gitu. Tapi, darinya aku mengetahui kerja keras Ibu. Aku belajar untuk lebih mandiri, nggak melulu bergantung pada Ibu atau saudara yang ada di rumah. Darinya pula aku mengetahui, “Ternyata kalau aku mau, aku juga bisa kok. Selama ini aku hanya dikalahkan oleh kemalasan yang hakiki.”

Fyi, setahun setelah OSPEK itu berlalu, Ibu selalu menolak kalau aku mau menceritakan masa-masa mengenaskan dan menyedihkanku pas OSPEK. Katanya beliau nggak mau dengar cerita sedihku semasa indekos karena sekarang sudah senang dan kumpul lagi—sejak aku pindah kampus.

Begitulah ceritaku. Semua kejadian yang terlihat sebagai duka itu selalu kuanggap sebagai guru. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Mungkin apa yang kualami di atas akan tetap dianggap duka bagi orang-orang yang nggak mencoba memerhatikannya dari sisi yang berbeda.

Karena aku percaya, setiap kejadian itu akan terlihat suka atau duka; positif atau negatif; menyenangkan atau menyebalkan, semuanya tergantung bagaimana kita ingin memandangnya.

.

.

Sejujurnya aku sedikit sedih (?) karena kemarin lupa menulis untuk #JumblingJuly2017 prompt Suka-Duka Mahasiswa. :”) Faktor sedang dalam perjalanan yang nggak memungkinkan menggunakan ponsel atau laptop, ditambah tiba di tujuan yang sudah kemalaman, dan berujung kelelahan. Akhirnya lupa, huft. Makanya, hari ini aku sengaja menulis entri tentang suka duka mahasiswa.

Alasan sebenarnya sih karena … aku lagi asyik mengetik tulisan ini, dan setelah tulisannya selesai, aku baru sadar kalau hari ini promptnya kan udah ganti. Hahaha. :”)

.

.

rufindhi

Banjarbaru, 16 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s