#JumblingJuly2017

Konservasi Mimpi

20181006_215343_00011683039240.png

Harapan. Sepertinya telinga kita lebih akrab dengan kata “mimpi”—padanan kata lain yang mengandung makna serupa. Bukan mimpi yang bunga tidur, ya, hehe. Semua orang pasti bisa dan pernah bermimpi. 

Aku senang bermimpi. Bagiku, menciptakan mimpi sama seperti sarana pengembangan diri karena yang namanya mimpi atau harapan itu sering kali nggak terlihat realistis bagi kita di hari ini. Namun, ada kemungkinan bahwa mimpi atau harapan itu akan menjadi realita bagi kita di hari esok.
Berbicara mimpi, aku punya sebuah kebiasaan. Sebenarnya aku pernah menuliskan ini di tulisan sebelumnya, tapi rasanya ingin kubahas lagi karena yang sebelumnya sudah tenggelam jauh sekali (hiperbola). Dan kebiasaan yang kumaksud adalah … aku senang menulis mimpi.

Ya, menulis secara harfiah. Di atas selembar kertas.

Kalau mengikuti judul tulisan kali ini, aku menyebutnya konservasi mimpi karena konservasi artinya pelestarian. Dan menulis adalah upaya melestarikan mimpi dan harapan kita. xD

Lagi-lagi aku nggak bisa melupakan tiga motivation training semasa aku SMA yang ketiga trainer-nya dulu pernah mengajak kami melakukan hal yang sama: Menulis Mimpi. Merekalah yang membuatku semangat dan menjadikan rencana ingin menulis mimpi itu benar-benar kulakukan—biasanya kan berakhir jadi wacana melulu, hehe. Mungkin akan muncul sebuah pertanyaan di pikiran kita.

“Untuk apa menulis mimpi? Mimpi ya bermimpi saja, toh hanya pikiran selintas.”

Bagiku, menulis mimpi itu berguna dalam berbagai sisi.

Pertama, jika ditulis, kita akan selalu ingat mimpi itu. Kita nggak pernah tahu apakah mimpi yang terbayang di otak itu akan menetap secara permanen, atau cuma numpang lewat saja. Maka dari itu, menulis mimpi adalah bagian dari kegiatan melestarikan memori serta harapan. Di dunia ini nggak ada yang namanya asuransi ingatan kan?

Kedua, jika ditulis—dan ditempel di dinding, ada kemungkinan bahwa kita akan sering memerhatikan harapan yang pernah kita tulis. Semakin sering dilihat akan semakin sering diingat untuk disebutkan dalam doa. Atau, misalnya kertas mimpi itu ditempel di lemari pakaian kita, siapa tahu Ibu kita kebetulan sedang ingin menaruh pakaian yang baru disetrika dan melihat tulisan kita, lalu diaminkan. Ya kan? =))

Ketiga, jika kalian belum tahu, menulis mimpi adalah bagian terasyik dari bermimpi itu sendiri. Kalau mimpi dan harapan kita tercapai sudah pasti senang, kan? Nah, menulis mimpi ini justru menambah esensi kebahagiaan dengan tambahan sensasi kejutan. Bagiku, menulis mimpi itu menyenangkan karena kita ingat dengan mimpi kita sekaligus melihat bagaimana proses mimpi itu terwujud. Kalau sudah terwujud, kita bakal mengenang bagaimana jerih payah dan pahit manisnya perjuangan mencapai mimpi dan harapan.

Itu hanya tiga alasan besar kenapa aku masih rajin menulis mimpi di atas selembar kertas—yang kini sudah beranak jadi tiga lembar kertas. Mimpiku sudah menyentuh angka 186 kalau aku nggak salah ingat—yah, sebenarnya belakangan ini aku mulai jarang menulis lagi sih karena lupa. :”) Mimpi dan harapan yang kutulis nggak semuanya muluk. Aku pernah menulis harapan kecil, seperti “Try Out 3 nilainya naik” atau “OSPEK jurusan beres”.

Selain karena faktor usia yang nggak pernah terduga—kita nggak tahu apakah kita masih bisa bernapas hingga mimpi itu tercapai—aku selalu senang saja ketika mencoret setiap mimpi dan harapan itu dengan spidol berwarna mentereng, seperti merah atau pink. Apalagi yang terasa seperti beban, contohnya OSPEK itu. OSPEK selalu melelahkan, dan aku menginginkannya segera berakhir. Maka dari itu, aku menuliskannya di lembar mimpi milikku, lalu berdoa agar OSPEK itu segera beres dan aku bisa menyelesaikannya dengan baik pula. Dan aku senang bukan kepalang ketika waktunya mencoret bagian yang rasanya seperti beban. Lol.

Yuk, lestarikan harapanmu, lihat prosesnya menjadi nyata, dan abadikan momen bersejarah itu dengan menuliskannya! Seperti kata Pramoedya Ananta Toer,

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

.

.

rufindhi

Banjarbaru, 16 Juli 2017

Advertisements

2 thoughts on “Konservasi Mimpi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s