#JumblingJuly2017, Curhat

Delapan Jam di Atas Awan

20181006_214639_00011115282667.png

Kalau perjalanan darat paling lama yang pernah kurasakan memakan waktu hampir 40 jam, perjalanan udara paling lama yang pernah kurasakan adalah 8 jam. Dan ternyata, dengan perbedaan jenis kendaraan, dua-duanya sama-sama bikin tepos.

Perjalanan udaraku tentu saja dengan pesawat—nggak mungkin helikopter juga soalnya. Delapan jam perjalanan di udara itu adalah ketika aku dan keluarga hendak pergi umrah. Aku selalu amaze karena menuju negara bagian yang waktunya empat jam lebih lama dibanding Jakarta, serasa naik mesin waktu dan pergi ke masa lalu (?).

Waktu berangkatnya sih nggak terasa delapan jam berkat aku yang masih excited karena semua serba pertama—pertama kali naik pesawat besar(?), pertama kali ke luar negeri, pertama kali naik pesawat ada TVnya (iya aku agak norak memang, mohon dimaklumi), dan pertama-pertama lainnya. Keantusiasan itu mengalahkan rasa bosan, ditambah rasa kantuk yang turut membantu mempersingkat waktu karena dua jam kupakai tidur. Sebosan-bosannya paling hanya karena nggak bisa ke mana-mana saja saat di pesawat.

Setiap perjalanan udara yang memakan waktu berjam-jam, penumpang akan diberikan semacam flyer berisi menu. Ada menu makan besar, snack, beserta pilihan minuman tambahan. Rasanya baru saja diberi makan, tahu-tahu sudah makan lagi. Menu makan besarnya lengkap, ada appetizer, main course, dan dessert. Biasanya main course terdiri atas dua jenis dan kita akan ditanyakan oleh pramugarinya ingin menu yang mana. Bahkan kalau nggak ingin makan nasi, selalu tersedia makanan karbohidrat lain yang lebih ringan, seperti roti atau crackers yang ditemani mentega atau selai. Main course selalu disajikan panas-panas walau kuduga hanya dipanaskan melalui microwave atau sejenisnya (dankalau nggak segera dimakan ya bakal cepat dingin juga karena AC pesawat), dansaladnya selalu disajikan dingin—mungkin biar tetap awet. Salad yang dingin itu terkadang agak mengubah rasa, sedikit nggak akrab di lidah karena dingin bercampur asam sayur itu agak gimanaa gitu.

Aku mah apa atuh, nggak biasa salad-saladan. Tahunya cuma salad maghrib, salad isya.

Itu shalat deng. Hehehehehehehe.

Selain makanan, hal lain yang bisa menyita waktu selama delapan jam di pesawat adalah televisinya. Ada banyak film dan musik dari berbagai negara, juga berita dan permainan sederhana. Bahkan aku menemukan banyak film baru yang ingin kutonton di bioskop. Kalau mata sepet, bisa menghabiskan waktu dengan mendengar musik. Saking banyaknya aku sampai bingung memilih yang mana.

Tapi keseruan itu hanya terasa ketika berada di kanan dan kiri keluarga. Aku merasakan hal yang berbeda ketika duduk di antara orang asing—dan inilah yang terjadi ketika delapan jam perjalanan menuju Indonesia. Sangat-amat membosankan, menonton saja nggak bergairah (?). Delapan jam yang kudominasi dengan tidur, hanya bangun karena dikasih makan. Rasanya aku hanya membuang-buang waktu dan kesempatan dengan kegiatan yang nggak terlalu berfaedah dan produktif. :”)

Ah, secanggih-canggihnya kendaraan di udara, tetap lebih enak tinggal di daratan, ya. x”D

.

.

rufindhi

Banjarbaru, 24 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s