#JumblingJuly2017, Keluarga

Mudik Rasa Touring

20181006_214708_0001-1838732024.png

Ada sebuah kebiasaan yang lama-lama terlihat seperti tradisi di Indonesia ketika hari Raya Idul Fitri (lebaran), yaitu mudik, atau biasa disebut sebagai pulang kampung. Sebagai anak dari orang tua yang dulu tinggal di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, kami pun mengikuti tradisi ini setiap tahunnya, kecuali tahun ini—sepertinya Ayahku sedikit trauma karena tahun lalu macetnya parah. Kami menggunakan kendaraan pribadi, yaitu sebuah mobil, dengan lima orang penumpang termasuk Ayah yang mengemudikan mobilnya.

Mudik itu memang nggak lengkap tanpa macet, dan nggak bisa disebut mudik kalau jaraknya cuma sejam dua jam. Sehari perjalanan itu baru mantap. Dan perjalanan mudikku menuju home base bisa memakan waktu hingga 38 jam untuk waktu normalnya.

Namun, mudikku bukan mudik yang dari kota asal X menuju kampung halaman Y, lalu kembali lagi ke kota X—mudik keluarga kami lebih terlihat seperti … touring.

Aku tinggal di kota Depok, di pinggir Jakarta. Bagi sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa, kampung kami biasanya berada di Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Jawa Timur. Pokoknya bukan di barat karena barat dekat dengan ibu kota sehingga erat dengan para penduduk yang ingin mengadu nasib. Home base mudikku berada di Jombang, Jawa Timur. Namun, kami nggak langsung ke sana dan hanya menetap di sana.

Ketika berangkat mudik, kami menyempatkan mampir di Pati, kota kelahiran Ibuku. Kami hanya singgah sebentar untuk ziarah makam Ayahnya Ibu, mampir di pabrik kacang yang berlogo kelinci itu untuk membeli oleh-oleh, sholat jika memang sedang waktu sholat, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Mungkin ada beberapa pemudik yang menginap di tengah perjalanan mudiknya agar yang mengendarai kendaraannya bisa mengisi energi, tetapi keluarga kami nggak memilih opsi itu. Ayah—satu-satunya pengendara mobil kami di perjalanan mudik—lebih memilih istirahat sejenak di masjid daripada harus menginap di hotel semalam. Entahlah, aku mengasumsikannya sebagai ia yang sangat menghargai waktu dan nggak mau membuang waktu dengan menginap semalam. Namun, setiap keluarga pasti punya cara mudiknya sendiri, ya. Hehe.

Seperti halnya pemudik, rest area kami nggak hanya rest area di jalan tol atau yang disediakan untuk tempat istirahat bagi pemudik. Biasa kami beristirahat di masjid atau rest area di tol, tetapi yang di tol ini jarang sekali kami kunjungi karena selalu sudah penuh duluan. Apalagi kalau masih di pantura di Jawa Barat, hampir seluruh rest area penuh oleh pemudik dengan berbagai jenis kendaraan. Bus, motor, mobil, dan truk (?). Dan semakin sepi jika kami sudah menyentuh Jawa Tengah, apalagi Jawa Timur. Tapi ya … lama-lama di Jawa Timur juga jadi macet sih karena yang mudik ke Jawa Timur sudah sampai semua.

Walaupun home base kami di Jombang, kami juga mengunjungi rumah saudara di Sidoarjo. Kalau dibilang hanya menumpang makan nggak salah juga sih karena secara harfiah memang seperti itu, hahaha. Setelah sekitar seminggu di Jombang, kami melanjutkan ke base selanjutnya, tempat lahir Ayahku, yaitu Ngawi. Masih di Jawa Timur, di sana ada rumah adiknya Nenekku yang dulu pernah tinggal bersama almarhumah Buyutku. Biasanya kami menginap semalam (karena dipaksa), tapi tahun lalu kami hanya singgah sebentar dan (lagi-lagi) menumpang makan, hehe.

Belum selesai sampai di sana, kami masih ada persinggahan terakhir, yaitu di Yogyakarta. Ada rumah Omnya Ibu di sana, tepatnya di Kaliurang. Biasanya kami menginap semalam. Selain ada Omnya Ibu, ada sepupu-sepupu Ibu beserta anak-anaknya—yang berarti sepupuku. Kami nggak memanfaatkan momen itu sebagai agenda jalan-jalan keliling Yogyakarta, Ayah lebih memilih untuk istirahat. Tahun lalu kami tiba dini hari, jadi … pilihannya ya kami cuma numpang tidur (dan sarapan). Setelah itu kami lanjut pulang kembali ke rumah di Depok. Lewat pantura atau jalur selatan, semuanya terserah Ayah. Beliau mahir memprediksi segala hal yang berkaitan dengan waktu, hebatnya prediksi Ayah hampir nggak pernah meleset.

Kalau meleset, biasanya karena ada kendala teknis di tengah jalan yang terjadi di luar perkiraannya. Atau jam berangkat yang sedikit ngaret juga memengaruhi (aku pernah melihatnya sendiri, lol).

Mudik keluarga kami kalau dibilang melelahkan tentunya sudah jelas lelah. Aku yang cuma duduk dan tidur saja lelah, apalagi Ayah yang mengemudi full. Tahun lalu kami terjebak macet di jalan keluar Brexit (Brebes Exit) dan itu parah banget. Kami bahkan sudah menghabiskan waktu hampir seharian, tapi baru keluar Brebes. Mungkin itu salah satu alasan mengapa keluarga kami tahun ini nggak mudik dulu, selain karena Nenekku mendadak ingin menghabiskan ramadhan di Depok.

Kalau ditanya apakah tahun depan kami akan mudik lagi, aku belum tahu jawabannya. Terlepas dari segala hal melelahkan itu, mudik itu seru kok. Lagipula segala hal itu tergantung bagaimana kita memadangnya kan? xD

.

.

rufindhi

Banjarbaru, 24 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s