#JumblingJuly2017, Curhat

Foto

20181006_214347_00011833804598.png

Ketika kini sebagian besar orang mengabadikan memori hidupnya dengan foto, aku justru nggak terlalu suka difoto. Foto selfie-ku bisa dihitung dengan satu jari tangan. Daripada menjadi objek foto, aku lebih suka jadi fotografernya saja. Maka, aku akan dengan senang hati menawarkan diri sebagai tukang foto ketika teman-temanku yang doyan foto itu butuh fotografer dadakan. Karena hampir semua temanku suka difoto, jadi nggak ada yang rela jadi fotografer. Takut nggak masuk frame, mungkin.

Walaupun begitu, bukan berarti aku nggak pernah difoto.

Momen-momen aku mau difoto biasanya menyesuaikan mood sambil memerhatikan situasi dan kondisi. Kalau lagi foto kelas ya pasti aku ikut. Kegiatan berfoto lainnya yang masih aku iyakan seperti foto tim kepanitiaan atau foto selepas acara (perpisahan, bukber, dsb). Kalau lagi nggak mood, bahkan berfoto dengan ponsel teman bersama teman peer-group saja aku menolak. Tapi, sekalinya mood lagi bagus, aku bahkan mau saja diajak photobox―pernah kejadian sekali dan entah kenapa aku menerima ajakan itu dengan lapang dada.

Iya, aku memang agak rumit memang. Hahaha. :”D

Namun, ada satu hal yang nggak kusukai dari sesi foto zaman sekarang, yaitu … nggak ada kata cukup. Empat kali itu kurang banyak. Padahal aku bukan tipe yang punya referensi pose befoto yang keren, dan kebiasaan foto lebih dari empat kali ini sering kali membuatku kurang nyaman. Apalagi kalau yang berfoto orangnya banyakan dan tiap dari mereka selalu saja ada yang komentar, “Ih gue di sini kurang bagus, lagi dong!” Sampai semuanya kebagian dialog itu. 

Kalau sudah difoto berulang kali tapi teman-temanku masih saja berseru, “Lagi! Lagi!” Aku biasanya langsung menyingkir sambil bilang, “Udah ah.” Mereka akan mengeluh sebentar, lalu kembali berfoto lagi.

Aku juga kurang tahu awal mula aku kurang suka difoto itu gimana .. soalnya aku sadar diri kalau waktu masih SD justru selalu narsis kalau difoto. Mungkin sejak ada foto muka beler yang diejek-ejek, dan ternyata masuk ke hati (ternyata aku baperan, hahaha). Entahlah, masih dugaan juga (?). Tapi frekuensi aku yang menolak foto itu mulai berkurang sih―walau rasa kurang nyamannya tetap ada. Aku lebih senang berfoto ramai-ramai daripada sendirian.

Jadi … kalau disuruh memilih jadi yang diambil gambarnya atau yang mengambil gambar, tentu aku akan menjawab “yang mengambil gambar” tanpa pikir panjang.

.

.

rufindhi

Banjarbaru, 25 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s