#AksaraAgustus2017, Curhat, UI

Gelar Jepang UI 23 [Day 3]

20181006_232345_00012127111720.png

20181006_232409_0001-508357890.png

Seenggaksukanya aku dengan tempat panas, penuh, pudat, dan memiliki definisi menunggu, aku tetap saja nggak kapok, dan ini berlaku untuk acara Festival Kebudayaan Jepang yang tadi siang kukunjungi, yaitu GJUI.

Hari ini telah berlangsung hari puncak Gelar Jepang UI yang juga menginjak hari ketiganya. Dengan lokasi yang sedikit lebih luas serta booth merchandise, lembaga, dan komunitas yang lebih banyak dari dua hari sebelumnya, membuat hari ini menjadi hari terpudat bagi GJUI 23. Manusia tumpah ruah. Rasa-rasanya antrian sembako bisa kalah dari antrian kami yang hanya sedang menunggu giliran body checking dan masuk ke dalam area event.

Sebenarnya aku nggak tahu berangkat pukul 10 itu bisa dibilang terlambat atau terlalu awal. Dengan kemacetan Kota Depok yang nggak bisa ditebak, aku bersama adik akhirnya tiba di lokasi dan beres memarkirkan motor sekitar pukul 10.45. Disambut dengan antrian yang menjalar kayak ular, aku sempat syok walaupun sudah bisa menduganya.

Setelah bertanya ke tiga orang panitia berbeda, akhirnya kami bisa masuk dengan … nggak mulus. Kami sempat bertanya ke panitia A dan disuruh antri untuk penukaran tiket pre-sale, tapi di tengah perjalanan menuju ujung antrian kami juga bertanya ke panitia B dan disuruh langsung ke depan. Bingung. Akhirnya kami balik lagi ke depan, bertanya ke panitia C―yang sebenarnya sudah kami incar ingin ditanyakan pertama kali tapi entah kenapa malah nggak jadi―dan barulah kami mendapat infomasi yang lebih jelas. Ternyata antrian panjang tadi bukan penukaran pre-sale.

Senanglah hati ini ketika melihat antrian penukaran tiketnya nggak tumpat oleh orang-orang. Namun, kami terlalu berpikir positif hingga mengira dengan memegang tiket pre-sale ini bisa membuat kami masuk dengan wajah yang nggak selusuh para antrian tadi―padahal kenyataannya nggak. Setelah ditukarkan dengan gelang tanda masuk, ternyata kami harus antri lagi. Dan antriannya ya … yang kayak ular menjalar tadi itu. Yang barusan kusebut wajah-wajah orangnya sampai lusuh karena kepanasan dan kebosanan. Panjang b a n g e t. Apalagi saat itu pukul 11 siang. Setelah terbengkil-bengkil, akhirnya kami bisa masuk sekitar pukul 12 siang.

Aslinya sih nggak sesingkat dan semulus mengetik kalimat “akhirnya kami bisa masuk“. Mengantri pada siang hari tentu nggak pernah menyenangkan, apalagi dalam kondisi sedang terik (alhamdulillah sesekali berawan juga), jarak antrian yang cukup jauh, rasa bosan menunggu, hingga telinga pengang karena rombongan di belakang aku dan adikku sibuk curhat terbuka ke teman-temannya. Bahkan aku yang nggak berniat menguping pun sampai bisa menyimak tanpa sadar, lol. Curhatannya ya … berkisar keluhan tiket pre-sale kok ngantri juga, apa bedanya pre-sale sama OTS, dan sejenisnya―yang sebenarnya mirip-mirip dengan keluhanku juga, tetapi ia diselingi humor berbau sarkas dan provokatif. Lucu saja sih mendengarnya, padahal mereka cowok-cowok kekar (?).

Setelah terbengkil-bengkil bahkan terpisah sebentar karena body checking laki-laki dan perempuan berada di antrian yang berbeda, aku masuk ke GJUI lebih dulu dari adikku. Namun, itu bukan serta-merta aku bisa duduk santai istirahat sambil menunggu, aku justru menawarkan membelikan minuman teh dingin untuk kami berdua. Selain karena efek capek walaupun sejam itu nggak terlalu berasa, kami tetap haus juga. Akhirnya aku kembali terbengkil-bengkil demi membeli dua buah minuman.

Satu hal yang kusyukuri adalah jalur booth makanan dan minuman nggak seramai dan sepudat jalur booth merchandise, jadi alhamdulillah aku masih bisa bernapas.

Setelah itu, kami tetap harus terjun ke jalur booth merchandise karena itulah alasan kami datang ke sini. Satu kali menyusuri jalur itu, lalu balik arah satu kali, dan terakhir menyusuri kembali setengah jalurnya, akhirnya kami sudah merasa cukup jadi pepes manusia.

Kaki kami beralih ke jalur makanan dan minuman yang mulai ramai karena sudah dua jam berlalu sejak kami menginjakkan kaki di dalam area GJUI. Membeli taiyaki (sejenis waffle berbentuk ikan dengan varian isian) dan okonomiyaki (mudahnya sih … bisa dibilang bakwan dadar), kami memutuskan untuk pulang.

Sebenarnya hari itu aku bisa saja janjian meet up dengan beberapa teman. Hanya saja aku terlalu malas membuka ponsel di tengah manusia yang berjejal dan tenggelam dalam lautan ketek―eh.

Alhamdulillah kami tiba di rumah dengan selamat plus kaki dan tangan (khusus aku saja karena menyetir) yang lelah. Lalu, setelah melihat betapa terbengkil-bengkilnya aku hari ini, apakah aku akan kapok untuk datang di hari ketiga GJUI tahun depan … aku masih bingung juga.

Tapi kalau melewatkan hari puncak rasanya sayang saja, apalagi booth hari ketiga lebih beragam. Mungkin itu adalah satu satu hal yang nggak kusesali setelah terbengkil-bengkil ketika hunting barang lucu di tengah pudatnya manusia. Alasan itu juga yang nggak menutup kemungkinan untuk aku datang lagi dan terbengkil-bengkil lagi tahun depan. 😅

.

.

rufindhi

Depok, 6 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s