#AksaraAgustus2017 · Menulis

Thesaurus ≠ Tyrannosaurus


tesaurus /té·sau·rus/ n 1 buku referensi berupa daftar kata dengan sinonimnya; 2 buku referensi berupa informasi tentang berbagai perangkat konsep atau istilah dalam pelbagai bidang kehidupan atau pengetahuan.

cuai /cu·ai/ a 1 remeh; tidak penting; tidak berharga; 2 lalai;

mencuaikan /men·cu·ai·kan/ v 1 mengabaikan; memandang rendah (hina, tidak berharga, dsb); 2 tidak mengindahkan; mengabaikan: ~ peringatan

lazim /la·zim/ a sudah biasa; sudah menjadi kebiasaan; sudah umum (terdapat, terjadi, dilakukan, dsb): sekarang sudah — wanita berambut pendek;

antarmuka pengguna adalah bagian dari desain sebuah komputer, perangkat, atau program yang menerima perintah dari pengguna dan mengembalikan informasi kepada pengguna; padanan bahasa Indonesia untuk kata user interface.

daring /da·ring/ n akr dalam jaring(an), terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya; padanan bahasa Indonesia untuk kata online.

Sebelum mengenal tesaurus (thesaurus), aku nggak tahu apa fungsinya dan nggak ada keinginan untuk mencari tahu. Cenderung mencuaikannya. Bahkan, sebelumnya kupikir ia sejenis dinosaurus dan bersaudara dekat dengan Tyrannosaurus (T-rex). 😂

Tapi, nggak mengenal bukan berarti nggak pernah mendengarnya. Aku sering mendengar istilah tesaurus, apalagi sejak aku kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan istilah itu sudah lazim di telingaku. Untuk mengelompokkan suatu klasifikasi sebuah buku, biasanya dibutuhkan kepemahaman terhadap tesaurus untuk memudahkan ‘pekerjaan’ dalam mengelompokkan isi buku tersebut.

Seperti yang sudah disebutkan, tesaurus berbeda dengan kamus bahasa pada lazimnya. Tesaurus fungsinya mirip seperti kamus, tetapi kamus kata. Ia merujukkan daftar sinonim dan antonim pada sebuah kata (ini fungsi dasarnya). Aku pernah sekali membuka tesaurus kedokteran saat mencari buku untuk tugas kuliah menuliskan data buku di lembar monograf INDOMARC, tapi aku nggak begitu melihat isinya. Dan baru benar-benar melihat seperti apa sih tesaurus itu melalui aplikasi di ponsel.

… ah, ya. Itu ada dua aplikasi tesaurus yang ter-install di ponselku karena aku sedang mencari yang enak dipakai―dan sepertinya aku cenderung menyukai yang berlogo lingkaran berwarna toska dengan huruf t di tengahnya.

Warnanya lebih menyegarkan mata dan antarmuka penggunanya (user interface) lebih sederhana. Biasanya, simple is the best.

Dan tesauruslah salah satu yang berjasa dalam proyek menulisku bulan ini. Dari aplikasi ini, aku bisa mengetikkan kata yang sudah lazim di telingaku, lalu menemukan kata sinonimnya yang belum lazim bagiku. Setelah itu aku mencocokkan definisinya melalui aplikasi KBBI V (aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-5) atau mencarinya di KBBI Versi Daring, lalu menyalin atau mengetikkan ulang definisinya di seperti yang ada di paling atas tulisan ini. 

Setelah itu, yang kulakukan adalah menyelesaikan sebuah tulisan menggunakan kata yang barusan kutemukan, dan … taraa! Aku sudah menyelesaikan sebuah tulisan untuk #AksaraAgustus2017. 🙂

Di atas ini antarmuka pengguna aplikasi KBBI V yang bisa diunduh di Play Store. Lalu yang di bawah ini antarmuka pengguna KBBI Versi Daring. Perbedaannya? Yang bawah harus pakai internet, yang atas nggak.

.

.

di tengah jam makan siang,

Depok, 9 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s