#AksaraAgustus2017 · Curhat · Pojok Visual

Menghibur Diri Sendiri

sporadis /spo·ra·dis/ a 1 Bio keadaan penyebaran tumbuhan atau penyakit di suatu daerah yg tidak merata dan hanya dijumpai di sana sini; 2 tidak tentu; kadang kala; kadang-kadang: secara — kedua sahabat lama itu masih bertemu.

Aku sering menebar fakta di banyak tulisanku bahwa aku suka menulis. Bahkan, rasa sukaku itu terlihat jelas dengan betapa berusahanya aku mengisi blog ini sehari satu tulisan―walaupun ada yang bolong sih, hehe. Saking seringnya, aku sampai jarang menyinggung bahwa aku juga suka menggambar.

Tidak sebesar rasa sukaku dengan menulis memang, tapi aku suka dan bisa menggambar. Sejujurnya, aku lebih dulu suka menggambar daripada menulis.

Kemampuan ini kudapat dari upaya latihan yang tidak terus-menerus sejak SD. Berkembang, tapi naiknya lambat. Aku terlalu banyak penasaran dan mencoba banyak hobi sehingga nggak semua hobi diseriusi―tapi itu dulu. Namun, faktanya, aku jarang menggambar untuk membahagiakan diri sendiri.

Aku sering menyebut bahwa menggambar tidak untuk kuseriusi, tetapi aku hanya menggambar jika ada tagihan deadline dari divisi kepanitiaan yang mengandung unsur desain atau visual. Aku hanya menggambar jika ada orderan khusus dari guru atau ekstrakurikuler untuk mendesain merchandise. Tidak ada keuntungan pribadi yang kudapatkan. Dari semua itu, aku hanya mengoleksi rasa lelah. Apakah aku pernah melakukan yang menguntungkan? Pernah, yaitu lomba. Hanya saja, lomba itu persaingan, dan aku lebih sering kalah. Pernah menang, tapi itu hanya satu dari puluhan lomba.

Hiburan dalam menggambar yang pernah kulakukan hanya membuat doodle. Coretan tanpa tujuan, salah satunya yang menjadi logo blog ini. Membuat fanart? Masih sporadis saja. Itu juga kalau ingat.

Saking aku baru ingatnya sudah pusing ditekan tagihan deadline menguras tenaga tanpa balas jasa, kemarin aku baru kembali membuat fanart. Malam-malam, setelah mandam bermain Raft Survival 3 yang kubahas di tulisan sebelum ini. Pukul 12 malam dan aku masih terjaga. Bukannya menarik selimut, malah membuka laptop, menekuk lutut.

Aku butuh refreshing dari menggambar urusan kepanitiaan, kata otakku saat itu. 

Lantas, aku teringat bulan April lalu pernah ditagih secara iseng oleh seorang teman. Partner menulis sejatiku. Ia menggambar siblingship dari sebuah anime berjudul MAGI. Saat itu ia menceletuk:

“Ipin gambar juga dong biar aku punya asupan kemanisan mereka hehe.” Kurang lebih begitu.

Dan aku, yang belum pernah menonton MAGI―tapi tahu sebagian karakternya―akhirnya menggambar siblingship itu. Hakuryuu Ren dengan Kougyoku Ren. Saudara sepupu.

Pukul dua dini hari aku baru melihat jam, terkejut karena lupa waktu. Lalu memutuskan rehat sejenak setelah menyelesaikan outline si Gadis dan mensketsa si Pemuda. Kulanjutkan besok, dan harus segera kelar.

Di hari yang sama aku terbangun pagi-pagi. Suatu hal yang langka karena biasanya kalau begadang aku sulit bangun dan bertahan untuk tidak lanjut tidur di pagi hari. Mengantuk, tapi hasrat ingin menyelesaikan gambar itu lebih besar. Setelah sarapan langsung membuka laptop, dan baru selesai sejam sebelum jam makan siang.

Aku cukup senang dengan hasilnya. Akhirnya aku bisa membahagiakan diri sendiri (juga partner menulis sejatiku yang kini sedang dilanda kesibukan tanpa henti juga sepertiku). Walaupun harus dibayar dengan jam tidur, setidaknya aku sedikit lebih lega.

Mungkin lain kali aku akan menggambar fanart lagi. Yah … kalau kepanitiaan visual yang mendadak nambah satu itu selesai, mungkin.

Huft.

.

.

pusing gara-gara hectic kepanitiaan baru di akhir liburan

Depok, 12 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s