#AksaraAgustus2017, Curhat

Di Balik Sebuah Kausa

20181006_221211_00011262542433.png

Terkadang, aku sering mempertanyakan dari mana saja para followers yang muncul di notifikasi media sosialku itu berasal. Dan yang paling membuatku penasaran adalah:

“Apa kausa mereka hingga ujug-ujug memutuskan untuk ‘mengikuti’-ku?”

Aku bukan tipe orang yang memiliki atau bisa memberi pengaruh besar. Duh, bahkan lebih dari setengah masa hidupku hingga saat ini sudah kuhabiskan sebagai manusia tidak terlihat. Aku lebih sering tidak dianggap keberadaannya. Dulu aku tidak punya prestasi apa-apa―hingga akhir masa SMP (masa tersuram dalam hidup) barulah aku mencari jati diri dengan mencari prestasi di dunia menulis.

Aku tipe orang yang media sosialnya selalu lebih banyak following daripada followers-nya. Semata-mata karena aku memiliki hobi yang membutuhkan banyak inspirasi, seperti ide prompt untuk menulis atau referensi untuk menggambar, makanya aku lebih banyak ‘mengikuti’ akun media sosial orang lain.

Itulah mengapa sering timbul di benakku, yang memang sudah kebanyakan mikir ini, apakah kausa yang menyebabkan mereka mau menekan tombol following di akun media sosialku?

Terkadang aku selalu merasa takjub ketika melihat ada orang, asing (luar negeri), memberi tanda suka pada foto yang kuunggah di Instagram, lalu ketika kulihat akunnya ternyata ia seorang yang followers-nya lebih dari puluhan ribu (yah, kalau mau instan, biasanya aku menilai seberapa-berpengaruh-orang-ini-terhadap-orang-lain melalui angka followers-nya sih hehe). Padahal, kupikir fotoku tidak sehebat prestasi yang ia ukir (kalau misalnya ia seorang penyanyi), dan yang kuunggah itu juga hanya foto benda, bukan orang.

Beberapa hari lalu malah tiba-tiba ada orang Jepang yang menjadi follower baruku. Lucunya, beberapa bulan lalu, aku pernah membuka akun orang Jepang itu karena ia semacam pemilik produksi kerudung bahan kain Jepang. Dan kini ia justru menjadi pengikutku―aku benar-benar syok karenanya. Semacam, “Lah dia bukannya nihonjin (orang Jepang) yang waktu itu aku stalk?” Kemudian aku melihat follower dan following-nya sudah ribuan (berimbang gitu). Jadi, kesimpulanku adalah: Ini strategi marketting. Hahaha.

Tapi karena (1) aku pernah stalk beliau sebelumnya jadi aku ‘tahu’, (2) aku punya minat terhadap Jepang, dan (3) kerudung produksinya memang bagus, akhirnya aku juga balas ‘mengikuti’nya juga. Hahaha.

Lalu, kita pindah ke WordPress. Biasanya aku mendapatkan notifikasi followers baru di email. Ada yang orang Indonesia, tapi yang luar negeri justru lebih banyak (blog mereka berbahasa Inggris, jadi kutuduh orang asing). Ini biasanya yang paling bikin aku heran bukan kepalang. Beberapa bulan ini blogku memang sedang hidup setiap hari, tapi tulisanku hampir semuanya berbahasa Indonesia. Pernah sekali aku mencoba menulis dalam bahasa Inggris, tetapi malah tidak mendapat feedback sama sekali. Jadi, aku balik lagi saja ke bahasa Indonesia, hahaha.

Yang mendapat feedback biasanya kalau judul tulisanku berbahasa Inggris (biarpun kontennya full bahasa Indonesia), atau yang general, seperti comic, film, book, dsb. Atau kalau aku menyertakan gambar (yang mungkin cukup menarik?) di tulisan, bisa fanart digital atau foto lain. Feedback-nya biasanya berupa like, dan itu sudah lebih dari cukup untuk bukti apresiasi. Terlebih kegiatan menulisku ini memang penggalakkan pada diri sendiri untuk menulis setiap hari. Jadi, mau ada feedback atau tidak, aku akan tetap menulis.

Lalu, apa lagi ya…. Selain yang menimbulkan pertanyaan, ada juga followers yang sangat kelihatan sekali tujuannya, baik itu tujuan murni atau tujuan berbau udang di balik batu. Yang murni biasanya datang dari teman, bisa keluarga, teman SD, SMP, SMA, kuliah, penyuka menulis/menggambar/Jepang/anime, pembaca buku atau webtoon-ku (too bad I discontinue the webtoon for now), hingga teman yang kukenal melalui media sosial. Selain itu, kepada akun yang tidak kukenali, aku tebak-tebak berhadiah saja kalau mereka hanya taktik marketting. Biasanya aku bisa mengikuti kembali jika isi akunnya bisa berguna untukku, baik untuk ide cerita, kepuasan pribadi, atau betulan berguna secara nyata. =))
Tapi, di luar tebak-tebakan berhadiah itu, aku masih tetap penasaran kausa dari semua itu. 😂

.

.

sedang bersedih karena bau liburan sudah memudar,

Depok, 17 Agustus 2017

Advertisements

1 thought on “Di Balik Sebuah Kausa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s