#AksaraAgustus2017, Curhat, Hobi

Sudut Pandang Tukang Gambar

20181006_221120_0001-2030389630.png

Kalau dilihat-lihat lagi, ternyata aku jarang menggambar sebagai hobi, tapi lebih karena tuntutan “kewajiban”. Entah karena tergabung dalam kepanitiaan bagian visual, entah karena masuk ke dalam divisi organisasi bidang visual kreatif atau sejenisnya. Itulah kenapa aku lebih cocok disebut Tukang Gambar, orang yang sering kebagian kerjaan menggambar.

Karena sudah berkecimpung di dunia menggambar sejak SMP, aku bisa mengatakan kalau kini sudah punya kemampuan menggambar―walaupun belum setara profesional. Ada yang mengapresiasi dengan pujian, ada juga yang mengapresiasi dengan kata, “Gambarin buat aku dong.”

Yah, walaupun yang terakhir agak menyebalkan (ehe), tapi itu bentuk apresiasi juga kok. Hahaha. 😂

Sebagai tukang gambar, tentu kami punya suka-duka versi sendiri, dan ini adalah suka-duka tukang gambar versiku.


DUKA
Menggambar itu memakan waktu. Lebih lama dibanding menulis. Kalau aku sedang menghibur diri dengan menulis di blog, biasanya maksimal memakan waktu sejam sudah termasuk proses editing typo, dsb. Kalau menggambar fanart untuk konsumsi pribadi, paling minimal dua jam untuk ukuran gambar yang lengkap plus berwarna. Kalau hanya coretan ngawur sih bisa lebih cepat, tapi … biasanya nggak pernah disimpan juga. Jadi nggak ada hasil akhirnya. :”)

Menggambar (digital) itu rawan nambah minus mata. Karena menggunakan elektronik sebagai medianya, tentu mata kita bakal beradu pandang dengan layar laptop/komputer. Ditambah waktu menggambar yang lama―paling cepat dua jam, entah sudah nambah berapa minus di mataku ini….

Menggambar (digital) juga cepat bikin mata lelah karena memandang layar laptop/komputer.

Menggambar itu bukan kemampuan instan. Harus terus diasah kalau mau berkembang atau menghasilkan mahakarya. Salah satu caraku adalah meniru drawing style dari yang profesional, setelah mulai terbiasa nantinya aku bisa menemukan style sendiri. 😗

Menggambar itu menuntut banyak hal. Menuntut kita untuk menguras otak, mengubah deskripsi menjadi visual. Menuntut kita untuk tahan banting, bertahan lama di depan komputer/laptop untuk menyelesaikan sebuah visual. Begadang pun dilakoni. Akibatnya? Mata panda melebar, jam tidur dilanggar, sakit semakin rawan, diomeli orang tua (karena ketahuan sudah malam masih bangun, lol), dsb. :”)

Sedihnya lagi, tukang gambar dihantui risiko penyakit sendi tangan yang bisa membuatnya harus berhenti menggambar sementara waktu (atau bisa lebih lama). Aku sering melihat webtoonist yang nggak melanjutkan webtoon-nya selama beberapa bulan karena alasan kesehatan, salah satunya cedera tangan itu. Menggambar itu kegiatan yang melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang. Kalau digital, ada tipe tukang gambar yang lagi gambar sebuah garis, eh mengot, di-undo, garis lagis, mengot lagi, undo lagi, dst. Itu salah satu penyebab cedera tangan tadi, dan sialnya aku sering melakukan itu. Akibatnya, aku pernah ‘mencicipi’ gejala penyakit itu, dan rasanya nggak enak banget. Tangan kanan kebas selama seminggu dari ujung jari hingga siku, dilanjut ngilu-ngilu dari jari manis dan kelingking hingga pergelangan tangan. Sejak rehat dua minggu dari nge-webtoon, aku berpikir, “Mungkin jalanku bukan di sini.” :”)

Kemudian, sama kayak desain, menggambar itu alamat kena revisi! Tulisan memang bisa kena revisi juga, tapi revisinya cenderung lebih mudah karena ada pakemnya, semacam ‘bahasa baku’ dan ‘bahasa tidak baku’. Sementara gambar adalah saluran atas interpretasi sebuah ide yang berasal dari imajinasi dan kreativitas seseorang―dan interpretasi serta imajinasi tiap orang berbeda-beda. Makanya, kalau kita sudah bangga banget sama hasil karya kita, lalu pas disetor malah kena revisi yang katanya “cuma geser sedikit”―padahal itu bukan perkara ‘cuma’―itu … yah … bertahanlah. :”)

Nggak semua orang mengerti struggle yang tukang gambar rasakan. Tentang bagaimana sulitnya memvisualisasikan ide dari narasi. Tentang revisi yang datang berulang kali. Tentang sakitnya hati ini karena tagihan visual datang setiap hari. Dan masih banyak lagi.

Terakhir, tukang gambar pasti sering banget diceletukin gini:

“Gambarin aku dong!”

“Gambarin ship AxB dong!”

“Bikin webtoon dong!”

“Bikin komik gih!”

… dan masih banyak lagi.


Visual untuk Indonesian Fanfiction Awards 2017 dalam rangka Dirgahayu RI ke-72.

SUKA

Di balik sebagian kecil duka yang kujabarkan sebelumnya, tukang gambar juga punya ‘suka’ versinya sendiri. Kalau punya kemampuan menggambar yang memadai, bisa menuai apresiasi berupa pujian. Menuai pundi-pundi uang juga bisa. =))

Bisa berkiprah di mana saja. Jadi partner penjual merchandise sebagai ilustratornya? Bisa. Bikin komik sendiri? Bisa. Duet bikin komik sama penulis? Bisa. Bikin buku berilustrasi? Bisa. Menyenangkan hati sendiri dengan menggambar hal yang disukai? Bisa banget. xD

Bisa bikin fanart dari komik/game/film favorit sendiri!

Kalau ada urusan gambar-menggambar, semuanya dipercayakan pada kita (bahkan terkadang diberi ekspektasi yang tinggi…).

Bisa memproduksi merchandise ilustrasi sendiri. =)) Baik untuk konsumsi pribadi maupun dijual ke publik.


Sebenarnya masih banyak lagi suka-dukanya, tapi mendadak nggak kepikiran lagi. 😅

Setiap orang punya suka-duka versinya sendiri. Kalau kamu, suka-dukamu apa? :))

.

.

mengisi hari-hari menulis yang bolong

Depok, 20 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s