Ospek, Unpad

FIKOM Unpad: Dedikasi 2015

Setelah OSPEK universitas, sekarang OSPEK fakultas! Berhubung aku berada di FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi), jadi bahasan ini aku berfokus ke OSPEK FIKOM saja, yaitu Dedikasi 2015.

OSPEK ini kalau nggak salah berlangsung sekitar 3-4 hari (oke, lagi-lagi aku lupa). Langsung lanjut setelah OSPEK universitas selesai tanpa ada jeda hari untuk istirahat. Sayangnya, mungkin karena agak drop juga (plus homesick, maybe?), jadinya untuk rangkaian intinya aku cuma hadir hari pertama dan terakhir. Satu hari sakit, satu hari penyembuhan. Jadi … aku agak clueless dengan rangkaian OSPEK dan juga teman kelompokku. 😅

Dan di sinilah aku, kembali mengingat kisah mengenaskan dua tahun yang lalu, ketika baru pertama kali merasakan yang namanya OSPEK fakultas.

 Tepat berkumpul kami sama seperti OSPEK universitas, di gerbang samping yang lebih jauh dari gerbang pejalan kaki (tapi sekarang gerbang pejalan kakinya sudah diubah jadi gerbang kendaraan). Yang berbeda dengan Prabu 2015 adalah kami harus kumpul di sana pukul 4.45. Masih gelap, bahkan adzan subuh belum berkumandang. Daripada izin sholatnya ribet-ribet keluar barisan dan masuk lagi sambil diteriakin senior, aku lebih memilih sholat dulu sebelum berangkat. Agak terlamnat sih, maksimal 15 menit. Biar diomelinnya sekali aja, hahaha.

Di OSPEK fakultas ini pun ada atribut yang harus dibuat dan dibawa, yaitu alas duduk berbentuk heksagonal, buku tugas, tas serut, nametag tas bentuk heksagonal, nametag diri bentuk heksagonal, handband kain, dan tugas (printout). Semuanya serba kuning-hijau muda, warna untuk FIKOM. Aku agak kesulitan membuat alas duduk dengan berbagai aturan ukuran yang mendetail, hingga akhirnya … untuk alas duduk, handband, dan tasnya aku beli di depan kampus. Masa-masa OSPEK memang menjadi masa yang tepat bagi pedagang untuk meraup pendapatan dengan menjual atribut OSPEK sekampus karena tiap tingkatan OSPEK punya atribut berbeda. Pun antarOSPEK juga memiliki atribut berbeda. Coba bayangkan keuntungan yang mereka raih, ditambah dengan harga yang terlihat murah padahal itu sudah “dimahalin” juga. Saking nggak praktisnya membuat atribut itu sendirian, ada yang memilih opsi membeli atribut tanpa membuat sama sekali. Bahkan ada percakapan begini di salah satu grup chat:

A: “Atribut mah beli aja di depan kampus, 80k kelar.”

B: “Wah, kelar semua tuh?”

A: “Iya, kalau ketahuan panitia ya bisa kelar juga hidup lo.”

😅

Hal lain yang membuat tas semakin berat adalah air minum 1500ml. Apalagi tasnya tas serut dengan tali seperti sumbu kompor. Semakin banyak beban yang dibawa, semakin tali sumbu kompor itu memberi tekanan pada pundak. Alhasil, pundak sakit, dsb.

Untuk beberapa benda yang berbentuk heksagonal, itu nggak cuma asal pilih bentuk. Logo Dedikasi 2015 adalah tulisan Dedikasi dengan lebah di atasnya. Mungkin heksagonal ini lambang dari rumah lebah, dan … sepertinya ada maknanya, tapi karena aku bolong OSPEK dua hari jadi belum paham benar makna heksagonal itu. Hehe.

Bagaimana sikap panitianya? Nah, ini yang menarik untuk dibahas. :9

Panitia tentu terbagi dalam berbagai divisi, ada tim acara, medis, transport/translog (cmiiw), disiplin (aku lupa sebutannya apa di FIKOM, asa singkatan gitu), dan masih banyak lagi. Cukup sekali lihat, tim acara dikenali sebagai panitia yang paling ramah senyum. Merekalah yang paling kencang menyanyikan lagu-lagu yang dibuat untuk OSPEK―umumnya jingle sederhana atau menggubah lirik dari lagu yang sudah ada dan terkenal. Tim medis dikenali sebagai panitia yang bisa dibilang “paling peduli”, atau yah minimal mereka harus peduli saat maba sakit―walaupun ada juga maba yang pura-pura sakit sih, hahaha.

Tim transport adalah sekumpulan panitia yang akan berjaga di segiap tikungan untuk mengarahkan maba. Ada yang ramah, ada juga yang memilih untuk menjadi misterius. Biasanya mereka menutup wajah―hidung ke bawah―dengan slayer, jadi sulit dikenali. Tapi kalau sekalinya ramah tuh ramah banget, sampai terbayang kalau ia sedang tersenyum. Sekalinya cuek ya cuek banget. Jadi, maba kan wajib bilang “punten” tapi nggak ditanggapi, itu agak menyebalkan sih sebenarnya. :”)

Nah, yang paling beda ya tim disiplin―atau apa gitu aku lupa sebutannya di FIKOM. Mereka adalah suatu kelompok panitia yang selalu meneriaki maba, memakai nada tinggi atau gertak, dan memasang mata melotot. Yang perempuan terkadang dengan lipstik merah merona. Kalau kena semprot, terkadang suka muncrat-muncrat, dan yah … karena mereka memakai hukum maba-selalu-salah, jadi terima saja tanpa komentar seperti, “Punten Kang, Teh, itu muncrat-muncrat euy.” Kalau bilang gitu―atau cari masalah dengan melanggar aturan, gosipnya kamu diadili di ruang gelap, atau apalah itu, hahaha. :”)

Di OSPEK Unpad, setiap melewati panitia harus bilang, “Punten, Kang/Teh.” Bahasa sunda yang artinya permisi. Kemudian panitia akan menjawab, “Mangga” yang artinya silakan. Kalau ada panitia yang lelah dipuntenin maba, biasanya mereka cuma ngangguk sambil menunjukkan gambar buah mangga, hahaha. Sebenarnya di OSPEK tingkat universitas aturan ini juga berlaku, tapi jarak tim disiplinnya berjauhan, jadi lebih jarang dilakukan. Nah, kalau OSPEK fakultas, terutama FIKOM, kadang tim disiplin atau tim transport-nya berdekatan, jadi lebih sering bilang punten. Dan harus sabar sesabar-sabarnya karena tim disiplin hampir nggak ada yang membalas, bahkan kayaknya nggak ada sama sekali. 😂

Nah, yang paling menarik dibahas sebenarnya tim disiplinnya sih, jadi mungkin akan lebih berfokus ke sana.

Ada perintah yang selalu diulang-ulang oleh mereka:

“Percepat langkahnya, Putri!”

“Tatapan mata ke depan!”

“Perhatikan langkah kakinya!”

Coba bayangkan, apa yang terjadi kalau ketiga perintah itu disebut secara bergantian oleh setiap panitia yang kami temui. Habis disuruh menatap ke depan, disuruh menatap kaki. Ini maunya apa―gitu kan ya. 😂

Nah, terus, tingkat ketinggian nada teriak panitia―terutama yang tim disiplin―berbanding lurus dengan seberapa menurutnya kamu dan seberapa patuhnya kamu dengan perintahnya. Maba (mahasiswa baru) yang datang pukul 4.45 tepat mungkin akan tetap mendapat gertakan, tapi itu gertakan normal. Namun, untuk maba yang datang pukul 5.30, suara mereka akan lebih tinggi dari biasanya. Karena nggak banyak maba yang mau mendapat risiko diteriakin stranger (kan belum kenal ya hehe), tentu yang datang terlambat pasti hanya hitungan jari. Memangnya kenapa kalau terlambat? Yah … siap-siap saja seluruh tim disiplin meneriaki dirimu sepanjang perjalanan yang, sejujurnya, jauh dan menanjak karena rutenya agak memutar. :”)

Di OSPEK FIKOM juga ada bagian di mana maba harus menundukkan kepala dan memejamkan mata. Ini dilakukan di area FIKOM, artinya akan ada pergantian tim panitia yang memasuki area OSPEK. Kalau tim acara, kami pasti akan disambut dengan ceria untuk membuka mata, tapi kalau disambut dengan gertakan tinggi, seperti “Buka mata kalian!” Yah, bisa ditebak kan ya itu panitia divisi apa, hehe.

Nah, selama OSPEK kami nggak boleh memakai jam tangan. Jadi, tanda kami akan pulang adalah matahari yang nggak terasa panas, langit yang mulai menjingga, juga … tim disiplin yang “berpesta”. Sebelum pulang dan diberi tugas untuk keesokan harinya, ada kegiatan yang membuat tim disiplin masuk ke arena OSPEK lagi. Kami disuruh baris dan memberi jarak satu lengan. Biar apa? Bia tim disiplin bisa berkeliaran mencari mangsa. Kalau kamu kurang memberi jarak dan mereka nabrak kamu, kamu yang diomelin (ingat pasal maba-selalu-salah). Mereka akan berkeliling ketika koordinatornya sedang “berceramah” di depan, dan maba hanya boleh tertuju pada koordinator itu. Lengah sedikit bakal jadi target panitia yang berkeliaran.

Kalau tiba-tiba ada panitia yang berhenti di depanmu dan menatapmu dengan mata melotot, sedetik kemudian ia akan menyuruhmu―juga dua-tiga maba nggak beruntung di sebelahmu―untuk merapatkan barisan dan menyuruhmu untuk menujukan perhatianmu kepada panitia itu saja. Kemudian kalian akan diomeli, diberi ceramah. Umumnya seputar, “Ke mana teman kalian?”, “Kenapa masih ada yang nggak hadir?”, “Angkatan kalian nggak kompak!”, dsb. Kunci utama untuk mencari aman, ya … menurut saja selama mereka masih di batas wajar.

Oh ya, OSPEK fakultas ini juga ada ketemu sama mentor sekali seminggu, dan aku membolos hahaha. Cuma datang dua hari, hari pertama dan satu hari di pertengahan yang kemudian kusesali. :”) Apa ruginya membolos? Yah, nggak punya cerita “seru”, nggak dapet slayer fakultas, dan nggak dapet kartu perpustakaan FIKOM (yang syaratnya dua hari hadir di pengenalan perpustakaan gitu, aku cuma datang satu hari karena ternyata setelah pengenalan malah digiring ke lapangan buat mentor, huft).

Dari semua suka-duka itu (banyakan dukanya sih), aku selalu belajar mengambil pelajaran darinya sebagai bagian dari berpikir positif. Belajar sabar, belajar mandiri dan menyiapkan semuanya sendiri (biasalah anak indekos). Belajar melihat dari sudut pandang berbeda, dari sudut pandang panitia misalnya. Kita datang pukul 4.45, mereka pasti datang lebih pagi, mereka juga meluangkan waktu mengurus dan menyumbang ide untuk OSPEK ini, yah pokoknya tenaga dan pikiran diberikan kepada maba walaupun manfaatnya nggak diterima secara nyata. Lalu, yang terakhir, belajar bahwa diomelin-orang-yang-keluarga-aja-bukan itu nggak enak, lantas memutuskan untuk nggak balas dendam.

Eh, jangan salah, godaan “balas dendam” ini ada lho, padahal kalau dilihat-lihat, balas dendamnya salah alamat. Yang ngomelin kan senior, kenapa balas dendamnya ke anak baru yang nggak tahu apa-apa? 😂 Jadi, kalau tujuan jadi tim disiplin untuk balas dendam, rasanya agak keliru ya, hehe.

Anggap saja OSPEK fakultas ini pemanasan untuk OSPEK jurusan yang rumornya lebih mantap jiwa. Dan diam-diam aku bersyukur pernah OSPEK di FIKOM Unpad karena OSPEK FIB UI masih kalah ganas dan tega.

Tapi bukannya aku senang diOSPEK dua tahun berturut-turut sih….

.

.

Depok, 25 Agustus 2017

p.s. tulisan ini hanya dari sudut pandangku, nggak serta merta akan menggeneralisir. Nggak ada maksud untuk menyerang pihak mana pun. Hanya berbagi cerita. =))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s