Kuliah, Trivia, Unpad

“Ngebus” Depok-Jatinangor

Sebelum belajar untuk UTS besok, mau nulis dulu deh. Sudah berhari-hari bolong nulis, rasanya jadi sedih dan ada yang kurang afdol. :”)

Waktu masih kuliah di Unpad, terutama semester dua, aku punya sebuah rutinitas setiap minggu, yaitu ngebus alias naik bus. Jatinangor-Depok, Depok-Jatinangor. Bisa digunakan untuk yang butuh tips naik bus dengan rute yang sama. =))

Dan seperti biasa, tipsnya kusampaikan dalam model bercerita. So, betah-betahin aja ya, hehe.

Kebiasaan ini bermula sejak semester dua karena semester satu masih sibuk OSPEK yang mengambil jatah akhir minggu dan belum bisa pulang sendiri naik bus ke Depok. Aku cuma pernah pulang naik bus dua kali, waktu liburan Idul Adha (libur empat hari) dan libur semesteran. Itu juga diajak bareng sama teman SMA yang kuliah di FK Unpad. Sayangnya, kegiatan pulang ke Depok waktu semester satu itu selalu sore hari, jadi sampainya malam dan aku buta arah. Tidak punya klu saat itu sedang berada di mana. Makanya, aku bertahan hanya pulang dua kali selama semester satu.

Tapi, semester duaku berubah. Saat memasuki semester baru dan diantar orang tua dengan mobil, tanteku ikut serta. Saat itu aku baru mau KRS-an, minta tanda tangan dosen wali (di Unpad waktu itu masih manual) dan hanya makan waktu sehari―kalau dosennya bisa ditemui. Tanteku akan menemaniku naik bus dari Jatinangor ke Depok saat aku mendepok (pulang ke Depok) supaya aku tahu jalannya dan selanjutnya bisa pulang sendiri. Bahkan Tanteku juga pernah menemaniku saat aku kembali ke Jatinangor dengan bus. Sejak saat itulah, aku selalu pulang tiap minggu di semester dua. Naik bus sendirian.

Oh, sekali dua kali aku pernah di bus kebetulan bertemu dengan teman SMA yang kuliah di FKG dan teman sekelas yang juga tinggal di Depok. Enaknya adalah jadi punya teman duduk dan mengobrol.

Mungkin ini bisa dijadikan panduan untuk yang punya kegiatan mendepok dan menangor. Fyi, semester dua lalu, aku punya tiga hari kuliah reguler, yaitu Selasa hingga Kamis. Inilah alasan kuatku untuk memberanikan diri pulang sendiri sekaligus tidak ingin menghabiskan empat hari seorang diri di kosan.

Kelas hari Kamis selesainya paling lama pukul tiga. Saat itu aku sudah membawa tas mode-mendepok (isinya laptop, tugas minggu depan, dsb) sejak kelas pagi karena selesai kuliah ini aku langsung pulang ke Depok. Aku mengupayakan untuk mendepok tidak terlalu sore (apalagi aku sendirian) dan agar tiba tidak terlalu malam.


.:: Naik Bus Jatinangor-Depok ::.


Dari fakultas, naik odong-odong atau angkot (angkutannya kampus) sampai Gerlam (gerbang lama), lalu berjalan menapaki pinggir jalan yang banyak orang jualan sampai jalan raya. Menyeberang, lalu naik angkot yang melewati pintu masuk Tol Cileunyi (aku lupa nomor berapa). Tanya saja ke sopirnya, ia lewat Cileunyi atau tidak. Kalau iya, segera naik, dan turun di sebelum Tol Cileunyi. Tepat di tempat bus-bus ekonomi/eksekutif menaik-turunkan penumpang.

Dari sini, perhatikan setiap jurusan bus yang lewat di depanmu dan menuju ke arah pintu masuk tol. Ini sistemnya untung-untungan sih, bisa jadi lama banget, atau malah baru turun angkot langsung ada busnya. Untuk ke Depok, biasanya aku mengincar tiga target:

  1. Jurusan Lebak Bulus, Jakarta (paling sering lewat). Tarif AC Ekonomi Rp40.000. AC Eksekutif Rp55.000.
  2. Jurusan Cililitan, Jakarta (lumayan sering lewat). Tarif AC Ekonomi Rp40.000, AC Eksekutif Rp55.000.
  3. Jurusan ke Depok (ibarat di game, ini super rare dan untung-untungan). Kalau bus Doa Ibu AC Ekonomi, tarifnya Rp43.000.

Kalau sudah lihat bus dengan jurusan itu, langsung mendekat ke pinggir jalan raya dan pasang pose/tampang ingin-naik-bus. Kemungkinan selanjutnya ada tiga: (1) Pintu bus dibuka dan bus berhenti agak lama, (2) bus membuka pintu sambil melambat, dan kalau sudah naik nanti akan melaju lagi, atau (3) kamu dicueki total oleh bus karena sudah penuh―ini sih yang paling mengenaskan.

Untuk jurusan Depok, seumur-umur aku baru pernah dapat dua kali dari puluhan perjalanan mendepok ini. Biasanya aku turun di persimpangan Jalan Tole Iskandar dan Jalan Raya Bogor. Disesuaikan saja tempat turunnya dengan melihat rute bus dan lokasi tempat tinggal kita.

Untuk jurusan Lebak Bulus dan Cililitan, aku tidak turun di perhentian terakhir, tetapi di Pasar Rebo karena rumahku di Jalan Raya Bogor. Selalu tidak bisa tenang hingga bus tiba di Pasar Rebo. Mau tidur juga khawatir kelewatan. Harus hafal suasana dan patokan Pasar Rebo, sekaligus dengar keneknya bilang “Rebo, Rebo”. Biasanya setelah turun di sana, aku lanjut naik angkot (lupa nomornya … 34 kalau tidak salah) menuju depan komplek yang bisa makan waktu 30-60 menit.


.:: Naik Bus Depok-Jatinangor ::.


Nah, selanjutnya rute Depok-Jatinangor. Bisa dibilang sama seperti Jatinangor-Depok, tinggal dibalik saja. Tapi, aku jelaskan sebagian detailnya di sini, deh.

Karena rumahku di Jalan Raya Bogor, aku naik angkot atau diantar menuju Pasar Rebo. Pokoknya, Jalan Raya Bogor arah Jakarta sampai ujung gitu, yang ada flyover-nya. Atau bilang saja ke sopir angkotnya kalau kamu mau naik bus, tapi bukan di terminal. Nanti bakal diturunin di pinggir jalan setelah melewati bawah flyover. Di sana kembali menunggu bus, seperti yang dilakukan ketika menunggu di Tol Cileunyi, Jatinangor. Biasanya aku mengincar dua jurusan:

  1. Jurusan Tasikmalaya. Tarif seperti di atas.
  2. Jurusan Garut. Tarif seperti di atas.

Keduanya sama-sama sering lewat, jadi jangan khawatir ketinggalan salah satunya. Tapi, ada saatnya kedua bus itu lama lewatnya sih. Pokoknya, kalau melihat bus dengan jurusan itu, berjalan saja ke pinggir jalan dan menunggu bus berhenti. Kalau sudah berhenti, langsung naik saja karena bakal berebutan. Kekurangan di sisi jalan ini adalah penumpang yang ingin naik bus itu banyak.

Opsi lainnya, bisa juga menyeberang jalan. Di seberang juga suka ada bus jurusan Tasik atau Garut, tapi bedanya kalau yang di seberang jalan itu lebih sepi dan masuk ke tipe bus (2)―melambat, dan kembali melaju saat penumpangan sudah naik. Kekurangannya adalah kita harus menyeberangi jalan raya yang super lebar terlebih dahulu, jadi harus ekstra hati-hati kalau mau menyeberang.

Nah, kalau sudah naik, duduk manis saja di dalam bus. Kalau mau tidur juga silakan saja karena perjalanan normal itu memakan waktu tiga jam. Bisa lebih lama kalau macet. Aku pribadi sih tidak pernah tidak tidur, untungnya tidak pernah kelewatan tempat turun juga, hahaha. :”) Turunnya di (Tol) Cileunyi. Kalau ditagihin bayaran, bilang/tanya saja Cileunyi, nanti dikasih tahu tarifnya. Keneknya juga akan berseru jika sudah mau tiba di Cileunyi (biasanya aku juga memperhatikan plang arah kota yang suka ada di pinggir jalan tol).

Setelah turun dari bus, langsung naik angkot cokelat (nomor 04 kalau tidak salah mah) yang banyak mejeng di pinggir jalan. Itu angkot arah Sumedang. Kalau mau turun di kampus atau kos di sepanjang Jalan Raya Jatinangor, naik angkot ini saja. Cuma ya sering ngetem lama sih sampai isi angkotnya penuh sesak, hahaha.

Ini penampakan tiketnya, siapa tahu penasaran, hehe.

Daftar tarif Tasikmalaya – Lebak Bulus/Jakarta, AC Ekonomi, Primajasa
Daftar tarif Tasikmalaya – Depok, AC Ekonomi, Doa Ibu

Daftar tarif Garut – Jakarta/Cililitan, AC Ekonomi, Primajasa
Daftar tarif Tasikmalaya – Kampung Rambutan/Jakarta, AC Eksekutif, Primajasa

Sebelum ditanya, “Kamu nyimpenin tiketnya, Pin?” Aku jawab dulu: Iya, semua tiket yang tidak robek dan utuh masih aku simpan sampai sekarang.

Begitulah kira-kira ‘perjuangan’-ku tiap ngebus. 🙂 Untuk tipe busnya ada dua, ya. Eksekutif dan Ekonomi. Bedanya apa?

Ekonomi: Ada AC. Seat 2-3. Penuh. Kalau berhenti, suka ada orang jualan dulu (masuk pintu depan, jalan ke belakang, balik ke depan, baru keluar). Harganya standar.

Eksekutif: Ada AC. Seat 2-2. Cenderung sepi. Tidak ada penjual yang masuk. Harganya lebih mahal (hahaha).


Sekian! Semoga bermanfaat. 😀

Oh, ya. Semua tarif yang kusebutkan itu berlaku tahun 2016 ya. Mungkin sekarang sudah berubah. =))

UPDATE: Desember 2017 aku naik bus menangor dan mendepok lagi, ternyata harganya masih sama. Untuk 2018 belum tau soalnya belum ke sana lagi, hehe.

.

.

Depok, 22 Oktober 2017

Advertisements

5 thoughts on ““Ngebus” Depok-Jatinangor”

  1. Hi, kenalin aku devan. lg stay di depok dan punya niatan buat ke jatinangor main ke kosan temen. tulisan kamu bermanfaat banget, tapi kayanya masih ada yg perly aku tanyain secara detail boleh minta kontaknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s