Postcrossing

Pertama Kali Kirim Kartu Pos Lewat Postcrossing [UPDATED]

20181006_204729_000182786540.png

Ibu dulunya seorang filatelis, senang sekali mengumpulkan prangko hasil dari surat-suratan dengan sahabat penanya. Ada banyak prangko yang disimpan di sebuah album prangko miliknya. Waktu masih kecil, aku sempat terbesit ingin mencoba mencari sahabat pena juga, tapi ya pada akhirnya cuma jadi wacana. 😂

Bertahun-tahun kemudian, lama pokoknya, aku bertemu secara online dengan seorang teman yang belakangan kuketahui hobinya berkirim surat (aku tidak tahu dia hobi mengumpulkan prangko juga atau tidak). Dia punya beberapa sahabat pena dari luar negeri. Aku yang bawaannya pengin coba hal baru pastinya tertarik (lagi) dong, tapi sayangnya melalui website yang dia kenalkan padaku, interpals, aku tidak mendapat kenalan satu pun.

Sedih. 😦

Kemudian, entah dari mana awalnya, aku mencari-cari tentang kirim kartu pos ke luar negeri di google, lalu menemukan sebuah artikel yang membahas tentang website kirim-kirim kartu pos ke seluruh dunia, yaitu Postcrossing. Ceritanya menarik sekali, tidak lama kemudian aku langsung daftar sebagai anggota dan tertarik untuk mendapatkan alamat untuk kukirimi kartu pos.

Pada waktu itu, aku belum menyiapkan kartu pos sama sekali, pun dengan prangkonya. Bahkan aku tidak pernah sekali pun membeli prangko, pernah dapat kartu pos kosong juga bonus dari apa gitu, dan tidak kugunakan hingga hilang sendiri. Namun, namanya juga Ipin, ya nekatlah daftar Postcrossing. Saat sudah menjadi anggota, ada tombol send a postcard dan register a postcard di laman utama. Dengan rasa keingintahuan dan kesoktahuan yang tinggi, aku langsung menekan tombol request address di Postcrossing. Gunanya untuk mendapat alamat random yang kemudian menjadi alamat tujuan kita di kartu pos. Kuklik untuk melihat keadaan saja awalnya. Dapatnya alamat orang Jerman.

Setelah itu aku kaget karena baru sadar, ternyata setelah klik request address, mau tidak mau ya harus kirim ke orang itu karena hitungan waktu ‘perjalanan’ kartu posnya sudah terhitung sejak tanggal aku minta alamat acak (12 Februari). Aku langsung kelimpungan cari tempat yang menjual kartu pos. Banyak toko online yang menjual kartu pos bagus dan murah, tapi aku malas dengan ongkos kirimnya yang bisa lebih mahal dari kartu pos itu sendiri. Akhirnya cari tempat offline yang menjual kartu pos di internet, ada yang menulis di blognya kalau di Books and Beyond di Perpustakaan Pusat UI (perpusat) jual kartu pos. Wah, dekat dari fakultas, langsunglah kuincar toko itu untuk membeli kartu pos.

Besoknya beli prangko dulu di cabang kantor pos di Jalan Raya Bogor. Entah saking jarangnya orang membeli prangko atau bagaimana, Ibu-ibu kantor posnya sampai mengulang permintaanku.

“Prangko kan? Bukan materai?” tanyanya memastikan. Dan aku mengiyakan dengan cepat. Setelah itu, aku diberikan dua buah prangko Rp5.000, edisi Daerah Tujuan Wisata Indonesia. Karena membeli langsung di kantor pos, harga yang kubayar sesuai dengan nominalnya.

Besoknya lagi, hari Rabu, langsung deh coba menjajal Books and Beyond yang dari dulu mau kujabanin tapi tidak jadi-jadi karena katanya harga bukunya mahal-mahal.

Hari itu adalah kuliah hari Rabu tersemangat yang pernah kujalani (baru juga pertemuan kedua, hahaha). Soalnya kelasnya juga cuma satu, pukul 9.00 pula mulainya. Sudah merencanakan matang-matang nih sepulang kuliah mau ke Books and Beyond. Sampai di kampus juga langsung ambil fotokopian silabus dulu untuk bahan kuliah hari itu. Belum sampai di kelas, aku sudah disambut oleh dua orang teman yang sudah lebih dahulu datang dan duduk di koridor lantai dasar.

“Pin, nggak ada kelas!”

Aku berhenti melangkah. “Bercanda, ya?”

Sayangnya, muka temanku serius. “Beneran!” katanya.

Mendadak aku merasa semangatku jadi sia-sia. Belakangan kuketahui kalau sang dosen baru memberi tahu 40 menit sebelum kelas dimulai. Bagi aku yang berangkat 50-60 menit sebelum kelas dimulai, info jam segitu tuh tidak berguna. 😦 Sempat sebal, lumayan kan hari itu sebenarnya bisa jadi hari suci. Tapi aku ingat dengan rencana beli kartu pos. Akhirnya aku langsung mengubah rencana, langsung cek kartu pos di Books and Beyond.

Pukul sembilan, tokonya masih tutup―perpusat juga sepi. Aku menunggu bersama seorang teman sampai tokonya buka tidak lama kemudian. Kami pelanggan pertama mereka hari itu. Ada seorang pegawai sekaligus kasir laki-laki yang sendirian. Di dekat kasir, aku melihat sebuah rak putar berisi kartu pos lucu-lucu. Setelah kutanya pegawainya, kartu posnya hanya ada yang di sini saja. Dari @lestari_id, harganya Rp8.000―terhitung agak mahal, tapi bahannya tebal dan bagus sih. Ada yang Rp3.000, gambarnya foto menara air di Medan. Kurang menarik, jadi aku ambil dua kartu pos yang Rp8.000 tadi saja. Sepulangnya, aku langsung menulis kartu pos, dan berencana mengirimnya keesokan harinya.

Sayangnya, rencana kirim itu batal karena hari Kamis itu, yang sebenarnya pulang lebih awal jadi lebih sore biasanya karena menunggu teman yang belum selesai kelas untuk wawancara rekrutmen himpunan jurusan. Baru pulang pukul 16.30, dan saat aku pergi ke kantor pos tempat membeli prangko, tokonya tutup. 🙂

Besok? Tutup juga karena bertepatan dengan tanggal merah Imlek. 😂 Setelah tanya-tanya teman yang suka mengirim surat, katanya Minggu tutup dan Sabtu kantor posnya buka setengah hari. Jadilah aku berencana mengirim lusa. Karena menunggu ‘lama’ dan kemarin beli dua kartu pos, aku iseng menekan request address lagi. Kali ini dapat dari Rusia!

Tidak perlu kaget sih kalau dapat Rusia, karena anggota Rusia tuh banyak banget. Dua temanku, yang baru daftar Postcrossing berkat hasutan dariku, ikutan request address dua kali dan satu di antara kedua alamat yang mereka dapatkan adalah Rusia juga. Satunya dapat Jerman-Rusia, satu lagi dapat Amerika-Rusia. 😂 Walaupun jauh banget (8 ribuan kilometer!) dan sempat khawatir tidak sampai, aku tetap tuliskan juga pesannya. Harus tanggung jawab, lumayan juga kalau dia mau diajakin jadi sahabat pena. Aku senang menyenangkan hati orang dengan hal-hal kecil, jadi kugambarkan kartun landak, binatang kesukaannya, di kartu pos.

Tapi, namanya juga manusia, cuma bisa berencana ya. Hari Sabtu ternyata belum sempat kukirimkan karena banyak hal yang terjadi. Ada kejadian sedih, juga hilangnya hasrat. Kutunda deh sampai lusanya lagi, yaitu Senin. Pada saat itu aku sebenarnya sudah khawatir. Notifikasi kartu posku sedang traveling di website-nya itu masih aktif, terhitung sejak aku menekannya untuk meminta alamat. Pengirimannya diundur terus, tapi website-nya tetap menghitung hari tidak peduli aku sedang ada halangan apa. Makanya, kusarankan sebelum menekan tombol request access, lebih baik siapkan kartu pos dan prangkonya dulu, dan jangan lakukan H-1 hari kantor pos tutup.

Hari Senin, rencananya akan kukirim sepulang kuliah siang. Namun, hari itu, bawaan kejadian sedih di hari Sabtu, aku izin kuliah (jangan ditiru, wkwk). Hampir ditunda lagi, tapi akhirnya jadi juga setelah memaksakan diri.

Saat itu pukul 15.00, kantor posnya tentu masih buka. Karena kartu posku yang ditujukan ke Rusia belum ada prangkonya, aku pun membeli sekaligus bertanya prangko untuk Jerman dan Rusia.

“Rp10.000,” katanya. Dalam hati, aku sedikit terkejut karena sebelumnya aku pernah bertanya ke Twitter Pos Indonesia, dan dari lampiran foto yang tertera, biaya prangko untuk kartu pos paling mahal pun hanya Rp8.000, yaitu benua Amerika. Benua Eropa hanya Rp7.000, Asia Rp6.000-Rp7.000 tergantung zonanya.

Ini untuk yang ke luar negeri

Ini untuk domestik

Karena cari aman biar kartu posnya sampai, dan di kantor pos tersebut juga hanya menjual prangko Rp5.000, jadinya aku memasang prangko dengan total Rp10.000 saja. Saat itu pula, ketika Ibu-ibu di kantor pos itu tahu aku ingin mengirim kartu pos, beliau memberi tahu bahwa di sana ternyata menjual kartu pos.

“Lho, jual kartu pos juga, Bu?” tanyaku saat itu, kaget. Langsung dikeluarkanlah satu pak kartu pos edisi tanaman khas tiap provinsi.

Dari gambarnya, terlihat sekali kalau itu adalah foto bunga asli yang kemudian latar belakangnya dihapus―entah manual entah bagaimana. Sebagian besar hapusannya kurang rapi, masih terlihat sisa-sisa latar belakangnya. Kalau ada lowongan beginian, rasanya aku akan dengan senang hati membantu mereka agar hasilnya bisa lebih maksimal―karena ide tanaman khas ini sebenarnya bagus sekali. Bahan kartunya pun bagus, bagian fotonya dilaminasi doff halus, bagian belakangnya seperti art carton yang bisa ditulis. Aku tidak tahu berapa beratnya, tapi tebalnya satu milimeter.

Khilaf lagi….
Tampak belakang kartu (space nulisnya luas!)

Karena harganya murah, cuma Rp3.000, aku beli dua―belakangan ini aku konsumtif sekali…. Lalu membeli dua prangko untuk ke Rusia, dan dua prangko lagi untuk jaga-jaga. Lagi-lagi hanya tersedia prangko Rp5.000.

“Kantor pos bukanya hari apa saja, Bu?” tanyaku sambil mengoleskan lem kertas di kartu pos.

“Setiap hari kecuali Minggu,” jawabnya.

“Kalau tutupnya jam berapa, Bu?”

“Setengah lima. Kalau Sabtu buka setengah hari, jadi tutup jam 12.” Si Ibu merobekkan prangko yang ingin kubeli. “Tapi kalau mau beli materai atau apa, masih dilayani kok sampai jam lima gitu.”

Aku menanggapinya dengan “oh” panjang sambil menempel prangko. Selesai menempelkan prangko, aku memberikannya ke Ibu Pos. Hari itu, tanggal 19 Februari, kedua kartu posku dikirim.

Beres deh, setelah itu tinggal menunggu notifikasi registrasi kartu pos di Postcrossing kalau kartu posnya sudah sampai di tangan penerima. Semoga saja kedua kartuku sampai dengan selamat. :”)

Untuk kalian yang ingin tau lebih jauh seputar kiriman pos, bisa baca beberapa tulisanku di sini:


[UPDATE]

JERMAN (sent: 19/02 ; arrived: 30/03)

Kartu pos ke Jerman akhirnya sampai setelah penantian panjang. :”)

RUSIA (sent: 19/02 ; Arrived: 03/04)

Akhirnya ia selesai berkelana!

.

.

Depok, 26 Februri 2018

Advertisements

34 thoughts on “Pertama Kali Kirim Kartu Pos Lewat Postcrossing [UPDATED]”

  1. Halo.
    Kak, mau nanya
    Ngirim kartu pos nya tanpa amplop ya? Dan hanya dimasukkan ke kotak pos saja atau bagaimana?
    Ditunggu jawabannya! Terima kasih.

    1. Halo, Morty!
      Iya, kalau ngirim kartu pos, langsung kartunya aja dimasukin ke kotak pos/dikasih ke pegawai di kantor posnya. 😀

      1. Iya, untuk prangkonya aku pukul rata 10.000. Tapi, bisa ditanyakan langsung ke pegawainya (kalau kirim langsung ke kantornya) biar lebih pasti. Soalnya aku masih suka liat ada yang kirim kartu pos ke luar negeri di bawah 10.000 (dan kayaknya sampe). :”))

  2. Hai, Kak.
    Aku mau tanya dua hal nih 😀
    1. Misal kalau butuh prangko lebih dari tiga, menurut kakak apakah tetap ditempel berdampingan di kartu pos, atau dimasukkan ke dalam amplop dan prangkonya ditempel di sana?
    2. Ada biaya tambahan tidak kak, jika hanya mengirim kartu pos/surat dalam amplop yang sudah dibubuhi prangko yang sesuai?
    Terima kasih 🙂

    1. Maaf, Kak, maksud nomor 2 itu kalau prangko yang didapat itu tidak sesuai dengan yang seharusnya (misal 8 ribu, tapi hanya beli 2 prangko 3000-an)

    2. Hai, Riski. Aku coba jawab ya. 😀
      1. Kalau mau kirim kartu pos biasanya udah ada harga prangko yang harus ditempelkan kan ya. Jadi, misalnya butuh 8 ribu dan kamu punyanya pecahan prangko dua 3 ribu dan satu 2 ribu, langsung tempel aja di kartu posnya. 🙂 Karena kalau pakai amplop, biaya prangkonya agak beda karena ada nilai kerahasiaannya gituu, hehe.

      2. Prangko yang didapat itu maksudnya gimana? 😮 Atau ini tentang kekurangan prangko di surat/kartu pos yang kita kirim?

  3. Hello kak mau tannya kalau untuk penulisan alamatnya gimanaya.
    Contoh kalau dikirim me jepang, cina, atau negara lain.

    1. Halo! 🙂
      Kalau untuk penulisan ke negara yang punya huruf sendiri, kayak Jepang, Cina, dan Taiwan, direkomendasikan untuk menulis alamat dalam huruf mereka aja biar yakin sampainya. 😀 Kalau aku, misalnya pas mau kirim ke Cina kemarin, aku minta alamat mereka dalam huruf mandarin, terus kucetak dan kutempel di amplopnya. 🙂 Soalnya temenku ada yang kirim ke Cina pakai alfabet, itu udah dua bulan belum ada kabar.

      Kalau mau tau cara penulisan alamat negara lain, saranku sih tanyakan langsung ke orangnya karena mereka yang paling tau penulisan alamat mereka dengan benar. 😀

  4. Kak mau nanya, kalau beli kartu pos tema Indonesia yang bagus dimana ya? Bisa nitip nggak, kak? Hehe

    1. Kayaknya kita sering ketemu ya di kelas, jangan2 kita temen sekampus? Wkwkwk. 😌

      (( nitip ))
      Boleh aja sih asal ada duitnya. 😂 Tema Indonesianya tergantung, mau foto atau ilustrasi? Kalau yang gampang sih di online adaa, tapi kalau yang bukan online juga masih kucari sih. Masih hunting tempwt beli kartu pos yang kece juga nih. 😂

  5. Ka mau tanya, msh aktif berkirim kartu pos jg kah sampai saat ini?baru mau mencoba..udah tertarik dr bbrpa tahun yg lalu..tp takut..ada tips ka?terima kasih 😊

    1. Masih kok! Tipsnya jangan takut mencoba, hehe. 😁 Asal prangkonya cukup dan alamatnya bener, insyaAllah sampai kok. Ke luar negeri sekalipun. =)) Yuk, coba kirim!

  6. Mau tanya.. kalo nulis alamat kita di proscossing kita gimana? Apa tetep misal jl. Melati no 18 gitu? Atau harus pake bahasa inggris?

    1. Halo!
      Kalau nulis alamat kita, tulis apa adanya aja dalam bahasa Indonesia. Walaupun dikirim dari negara lain, kantor pos negara itu cuma pakai patokan “Indonesia” di alamatnya aja. Setelah sampai di Indonesia, yang menyampaikan suratnya ke alamat kita kan tetap Pak Pos. Kalau pakai bahasa Inggris malah bisa jadi menyulitkan. 😁

  7. Halo, kak. Aku mau nanya. Kalau kita nggak punya kotak surat, apakah kartu posnya diantar sampai pintu rumah? Aku mikirnya kotak pos itu diselipin di kotak surat. hehehe…

    1. Satu lagi, kalau kita belum kirim kartu pos, apakah ada kemungkinan kita dapat kartu pos duluan? Hehehe *ngarep :3

      1. Untuk postcrossing, ya? Setauku sih nggak, tapi mungkin ada yang begitu. Tapi kalau,baca di website Postcrossing, tahapnya tuh ① kita request address, ② kita kirim kartu pos, ③ kalau kartunya sampai, alamat kita baru masuk di mesin request address, ④ orang lain ngirim kartu ke kita, ⑤ baru deh kartunya sampai. =))

    2. Halo! =))

      Kalau kita nggak punya kotak surat, biasanya Pak Pos bakal manggil―kayak kartu pos pertamaku. Kalau orangnya nggak keluar, mungkin bakal diselipin gituu. Kayak aku kemarin2 diselipin di pagar, pernah juga dilempar gitu aja ke teras (untung cuma sekali). 😂

      Nggak enaknya diselipin tuh jadi ketekuk dan kadang suka ada bekas dilipat. :”)) Tapi kalau dari cerite temenku di Bandung, dia selalu dipanggil dan dikasih gitu, jadi kartunya baguus.

  8. Halo kak, dulu pengen kaya gini masih belum kesampaian, dan sekarang sudah ada kemauan lagi.
    kalau kita tinggal di kos kosan, bakal sampai ga ya kak?
    atau baiknya tulis alamar ke rumah aja?

    1. Halo, Damas! (Betul kan ya? hehe)
      Kalau alamat yang dituliskan lengkap dan jelas, kemungkinan besar akan sampai, kok. Aku punya beberapa teman yang menjadikan asrama dan kosannya sebagai alamat berkirim kartu pos, dan sampai dengan selamat. :)) Oh ya, bisa juga disampaikan ke bapak/ibu kosnya kalau kamu pakai alamat kos untuk berkirim pos, siapa tau kalau kamu lagi nggak di kosan bisa disimpan dulu.

      Aku punya saran yang mungkin bisa kamu coba. Biar tau apakah alamat kos kamu bisa ditemukan pak pos, coba kirim surat/kartu pos (pakai prangko) ke alamat kosanmu. Minimal, pak posnya sudah tau alamat kosanmu. :)) Semoga membantu!

      1. bener kok, wahh terima kasih jawabannya ya kak
        anyway, perangkonya ditempel dibagian mananya postcard ya? baru pertama soalnya hehehehehe

      2. Sama-sama! 😄
        Kartu pos kan ada gambar2nya gitu ya, kita nulis alamat sama pesan di baliknya. Nah, biasanya pesan di kiri, alamat di kanan, dan prangko di pojok kanan atas. :)) Kalau belum kebayang, bisa dilihat di review kartu pos di blogku, di situ ada foto kartu pos yang bisa kamu jadiin acuan juga, hehe.

  9. Halo kak Rifihana… saya baru 1 mimggu terakhir ini menggunakan web postcrossing. Karna masih menunggu lama, saya m3ncoba untuk bertukar kartu ke orang Indonesia yg bisa secara random didapat kontaknya di website (seperti ini salah satunya hehe)
    I’d like to have a postswap with you if you dont mind.
    It will be great.
    I’m waiting for your reply and agreement
    Happy PostCrossing.
    Setia Rian

    1. Halo! Aku manggilnya apa nih? Setia atau Rian? 😄
      Boleh bangettt. Kamu punya IG? Aku punya akun khusus untuk postcrossing dan penpalling, kamu bisa hubungin aku di sana. Username-nya rufinapostcards. Di situ juga ada foto koleksi kartu posku yang available untuk ditukar. :))

      Happy postcrossing!

  10. Halo kak, makasih banyak ya kak infonya. Aku baru mau nyoba postcrossing, tapi kejadiannya sama kayak kakak, aku udah dapet alamat penerimanya, tapi kartu posnya aja belom dibeli. gimana nih kak?

    1. Halo juga, Asyrofah! Senang kalau tulisanku bisa membantu. =))

      Hmm, mau cobain saranku? =))
      Kalau kamu punya foto pemandangan Indonesia dan printer di rumah, bisa tuh beli kertas foto dan dicetak sendiri ukuran A6. Kalau nggak punya printer, bisa cetak foto di fotokopian. =))

      Temanku ada yang awal gabung gitu dia cetak kartu sendiri. Kalau receiver-nya suka kucing, dia cetak foto kucingnya sendiri (yang bagus, tentunya). Tapi, dengan catatan, tetap berusaha disesuaikan dengan preferensi receiver-nya, ya! Biasanya di profil mereka tertulis kalau kurang suka handmade/self-printed postcard, dan sejenis itu. Sebenernya nekat nggak apa-apa sih, tapi mungkin receiver akan badmood. Buruknya lagi, kartu kita nggak di-register sama mereka. 😅

    2. Halo juga, Asyrofah! Senang kalau tulisanku bisa membantu. =))

      Hmm, mau cobain saranku? =))
      Kalau kamu punya foto pemandangan Indonesia dan printer di rumah, bisa tuh beli kertas foto dan dicetak sendiri ukuran A6. Kalau nggak punya printer, bisa cetak foto di fotokopian. =))

      Temanku ada yang awal gabung gitu dia cetak kartu sendiri. Kalau receiver-nya suka kucing, dia cetak foto kucingnya sendiri (yang bagus, tentunya). Tapi, dengan catatan, tetap berusaha disesuaikan dengan preferensi receiver-nya, ya! Biasanya di profil mereka tertulis kalau kurang suka handmade/self-printed postcard, dan sejenis itu.

      Sebenernya nekat nggak apa-apa sih, tapi mungkin receiver akan badmood. Buruknya lagi, kartu kita nggak di-register sama mereka. 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s