#NulisRandom2018, Curhat, Kuliah, Ramadhan Bercerita [2018]

Libur Sebelum Ramadan

Topik ini mungkin agak terlambat dibahas, mengingat sekarang sudah pertengahan bulan Ramadan. Yah, tidak apa-apalah, yaa. Soalnya awal Ramadan kemarin ada cerita di kampus. 😅

Hari pertama puasa kemarin aku ke kampus pukul 8 pagi, dan sepinya jalan raya pagi itu seolah memberitahuku bahwa (sepertinya) semua anak SD, SMP, dan SMA sedang libur karena hari pertama puasa. Hari pertama puasa waktu aku masih sekolah dulu juga identik dengan hari libur. Sekolah bahkan memang sengaja menyediakan hari libur untuk siswanya. Entah untuk apa, mungkin supaya bisa ‘fokus’ membuat sahur dan menyiapkan makanan buka pertama dengan keluarga―padahal kalau orang tuanya kerja juga sama saja sih, di rumah sepi, hahaha.

Saat hari pertama puasa tahun ini, aku pribadi tidak heran dengan fakta bahwa anak sekolah diliburkan, toh sepupuku yang masih SMA pun memang dapat libur, bahkan total dua hari sejak sehari sebelumnya. Yang membuatku terkejut justru ternyata kebijakan itu berhasil membuat jalan raya menjadi lebih lapang.

Enak sih jadi lancar, tapi … kok ada cekit-cekitnya gitu, ya. Pengen libur juga atuh. 😌 Tapi yah … ketika sudah menjadi mahasiswa, aku maklum saja kalau tidak disediakan hari libur di hari pertama puasa. Anggaplah karena kami sudah dewasa. (?)

Keterkejutanku ternyata masih kebawa sampai parkiran motor fakultas. Aku pernah bercerita tentang kantin fakultasku yang dipindahkan ke parkiran motor? Yang gara-gara itu space parkir jadi berkurang setengahnya dan membuat kami harus parkir di ‘bukit’ alias tanah rumput. Biasanya kalau sudah pukul 8.30, mustahil bisa dapat parkir di dalam, aku lebih sering parkir di luar karenanya. Lalu di hari pertama puasa itu aku justru dapat parkir di dalam, bahkan cukup sepi.

Apa-apaan ini. Masa ada jurusan di FIB yang diliburkan sih? Kok jurusanku tidak, ya? 😞

Topik parkiran-jadi-lebih-sepi ini menjadi topik hangat di antara aku dan teman-temanku yang sehari-harinya mengendarai motor ke kampus. Takjub, sekaligus heran. Topik libur-di-hari-pertama-puasa dan jalan-raya-ikutan-sepi juga terangkat di antara pembicaraan kami.

“Kok kita nggak libur ya?” celetuk salah satu temanku.

“Yah, kita kan bukan anak SMA lagi.” Aku membalas setengah guyon―bercanda. Padahal dalam hati pengen juga.

“Tapi masa di univ X libur. Bahkan dia heran kenapa kita nggak libur,” sahut salah satu temanku.

“Oh iya, di univ Z juga libur tuh dua hari sebelum puasa pertama.” Temanku yang lain menambahkan.

Aku yang awalnya sudah memaklumi ketiadaan libur di hari pertama puasa, jadi dilema gara-gara fakta-fakta barusan. Lalu, munculah pertanyaan yang sebenarnya sudah muncul di pikiran sejak beberapa hari lalu.

Kok kami tidak dikasih libur, ya…?

Tebakanku sih … karena kami sudah ‘kebanyakan’ dapat libur tanggal merah, bahkan fakultas juga memundurkan hari libur kami menjadi seminggu lebih lama karena hal itu―yang kemudian membuat temanku yang sudah membeli tiket jadi lebih dilema karena khawatir UAS belum selesai.

Itu cuma tebakanku saja sih.

Dan sampai hari ini, aku belum tahu alasan sebenarnya. 😌

.

Depok, 1 Juni 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s