#NulisRandom2018, Islam, Keluarga, Ramadhan Bercerita [2018]

Melanggan Saluran Televisi Islami

Dulu kami melanggan parabola yang menyajikan film dan acara dari saluran televisi luar negeri. Sebut saja FOX Crime, NGC, Discovery, AXN, Food Networks, Waku Waku Japan, Nat Geo People, dan lain-lain―semua itu menjadi saluran yang kami konsumsi, bahkan jauh lebih sering daripada saluran televisi dalam negeri yang didominasi sinetron dan tayangan kurang menarik lainnya.

Setiap akhir bulan selalu ada reminder untuk membayar biaya langganan bulanannya. Awalnya ibu dan ayah santai saja. Namun, lama-lama, mereka mulai merasa tidak terlalu diuntungkan oleh parabola tersebut. Terlebih, ayah dan ibu memang bekerja dari pagi hingga sore, Senin sampai Jumat. Sepulang bekerja terlalu lelah untuk menonton televisi, jadi mereka hanya menonton ketika akhir pekan. Mana biaya langgan lama-lama semakin naik, dengan tayangan yang tidak berkembang. Tayangannya memang bagus dan menarik, tetapi umumnya merupakan episode yang diulang, jarang ada tayangan episode baru―paling cepat ya satu minggu satu episode. Kalah sama sinetron Indonesia yang sudah mencapai ribuan episode. #eh

Untuk alasan itu dan beberapa alasan lainnya, keluarga kami memutuskan untuk berhenti melanggan parabola tersebut. Berhentinya memang agak menyebalkan sih, kami sengaja tidak membayar. 😂 Tidak membayar artinya saluran akan diputus dan kami tidak bisa menonton apa-apa. Yah, kami juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Ayah dan ibu jelas jarang menonton televisi, aku juga jarang (lebih sering berkutat dengan ponsel, laptop, atau sibuk dengan hobi lain), kakak dan adik juga kadang-kadang saja.

Justru, lucunya, customer service parabola tersebut kemudian jadi rajin menghubungi kontak keluarga kami, dari telepon rumah, ponsel ayah, hingga ponsel ibu. Kalau nomorku diberitahu ke mereka juga, aku yakin mereka akan menelepon ponselku juga, hahaha. Kutebak mereka ingin mengingatkan pembayaran sekaligus juga tidak ingin kehilangan pelanggan. Tapi, yang agak menyebalkan, ayah dan ibu sengaja tidak pernah mengangkat telepon dari mereka. 😅 Kalaupun pernah, aku kurang tahu sih apa yang mereka bicarakan, yang jelas sih customer service itu setelahnya tetap kerap menelepon. Makanya hampir sebulan lebih kami selalu mendapat panggilan dari perusahaan tersebut, kayak diteror, hahaha.

Alasan lain kenapa kami tidak mengangkat panggilan mereka ke telepon rumah kami juga karena telepon rumah agak rusak. Setelah diangkat, suara peneleponnya ada, tetapi kadang suara kitanya justru tidak terdengar oleh mereka. Dikiranya malah kita lagi iseng, padahal sudah halo-halo tapi mereka tidak dengar….

Walaupun begitu, sebenarnya saat kami masih melanggan mereka ayah lebih senang melihat rekaman kamera orang-orang sedang tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram. Terkadang, ayah juga sengaja mencari tahu waktu sholat Subuh di sana agar bisa beliau lihat melalui Youtube secara live. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat ayah dan ibu memutuskan untuk berhenti melanggan parabola luar negeri, beralih ke parabola islami.

Parabola saluran televisi islami ini bisa dibilang menguntungkan. Kami bahkan tidak perlu membayar biaya bulanannya, pun biaya sewa (karena decoder-nya menjadi hak milik). Cukup sekali bayar di awal saja. Harga yang ditawarkan juga beragam, tergantung paket yang kita ambil. Walaupun harganya terbilang mahal, tetapi aku berani bilang akan sangat worth it karena hanya sekali bayar untuku selamanya. Tayangannya juga lebih berfaedah. Akan ada banyak saluran televisi islam, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sejak melanggan parabola islami ini, televisi rumah kami jadi sering dihidupkan untuk murottal, kajian islam, atau sengaja menayangkan saluran kamera yang menayangkan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi secara langsung. Banyak ilmu baru yang kami dapatkan. Dari tayangan Masjidil Haram yang menampilkan orang-orang sedang tawaf mengelilingi Kakbah pun selalu tercipta topik pembicaraan. Bisa tentang ibadah itu sendiri, tentang kondisi terkini Masjidil Haram (misalnya aku menanyakan renovasi Masjidil Haram yang terkini), sampai mengomentari keadaan di sana (misalnya kalau siang tawaf-nya lebih sepi, kalau malam atau sore malah penuh, dsb.) sekaligus bernostalgia. Berharap bisa berkunjung ke sana lagi sekeluarga.

Lucunya, saat baru pertama kali dipasang, kami melihat-lihat saluran lainnya karena ada juga saluran yang menayangkan kartun berbahasa Arab, sinetron Arab, hingga olahraga di Arab. Nah, kalau di luar negeri kan olahraganya ya F1, sepeda, tenis, atau golf. Saluran olahraga di Arab ini justru pacuan unta. Dan penontonnya tuh naik mobil, berkeliling di sepanjang luar sirkuit lari untanya. 😅 Terus, pernah juga aku lihat tayangan sepakbola di saluran televisi Arab, bahasanya pun bahasa Arab. Komentatornya melontarkan kalimat “Alhamdulillah!” dan “MasyaAllah!”, mendengarnya entah mengapa lombanya jadi terdengar lebih barokah. 😂

Walaupun kami melanggan saluran televisi islami, kami juga tetap mendapat saluran dalam negeri. Selain itu kami juga mendapat gratis beberapa saluran televisi luar negeri yang kusebutkan di awal tulisan. Lama gratisnya tergantung paket parabola yang kita ambil, ada yang hanya beberapa bulan ada juga yang satu tahun. Penuh berkah banget kan ya. 😂 Padahal sejak diganti jadi parabola islami, aku sudah menyiapkan diri bahwa tidak akan bisa menonton saluran televisi yang menayangkan film serial aksi detektif polisi luar negeri favoritku, seperti Criminal Minds, CSI Cyber, dll.

Jadiii, begitulah. Mungkin sebagian orang masih berpikir panjang untuk melanggan parabola yang menyediakan saluran televisi islami, tetapi, percaya deh, sebenarnya tidak ada kerugian daripadanya. Bahkan akan ada banyak ilmu, manfaat, dan pahala yang datang dan bisa kita ambil darinya. 😄

.

Depok, 1 Juni 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s