#NulisRandom2018, Hari-hari, Ramadhan Bercerita [2018]

Kampus Sepi dan Bukber Dadakan

Hari Selasa.

Ketika teman-temanku sudah bersiap liburan dan mudik, aku malah ke kampus. Bergabung dengan segelintir mahasiswa yang juga ke kampus, entah untuk apa. Mungkin mereka masih belum rela libur dan kehilangan wifi kampus―apalagi kampus sudah sepi, pasti wifi-nya ngebut.

Tadinya aku berniat berangkat pukul 9, tetapi terpaksa ditunda karena kebablasan tidur tanpa pasang alarm. Jadilah si nyawa baru kembali lagi nyaris pukul 10. Setelah melakukan berbagai persiapan rutinan tiap mau ngampus, aku baru tiba di kampus pukul 11.

Parkiran mobil FIB sepi, paahal biasanya padat sekali. Kali ini hanya terlihat 4-5 mobil saja. Parkiran motor tidak sepenuh biasanya, tapi masih terbilang ramai. Merekalah oknum-oknum yang kupertanyakan tujuannya ke kampus, padahal libur telah tiba―bagi mereka yang tidak mengenal ujian bawa pulang ke rumah.

Oh ya, minggu ini adalah pekan sidang skripsi untuk kloter sebelum lebaran. Kutebak beberapa motor di parkiran adalah teman atau adik tingkat dari mereka yang hari ini kebagian jadwal sidang, menunggu yang disidang keluar dari ruangan, lalu merayakan sidang yang telah terlewati.

Langkahku tidak punya tujuan. Tahu-tahu saja mengarah ke Musas (Mushola Sastra). Satu jam aku menunggu di Musas tanpa tujuan―eh, sebenarnya ada, tapi hari ini adalah hari kedua aku digantung oleh dosen. Akhirnya luntang-lantung, bosan hingga hampir lumutan di kampus. Untung saja satu jam kemudian temanku datang, dan hal pertama yang kami lakukan adalah mengerjakan UAS bawa pulang berkelompok dari satu mata kuliah, sebut saja Mata Kuliah X.

Tidak sulit sebenarnya, bahkan kami sudah menyelesaikannya. ‘Hanya’ membaca tiga artikel jurnal internasional dengan topik yang sama, kemudian di-review dalam satu tulisan, tidak lebih dari seribu kata. Selesai direvisi, langsung kami kirim beserta ketiga artikel aslinya.

Setelahnya bukan berarti kami bersorak gembira karena UAS sudah selesai―masih ada UAS berkelompok bawa pulang lainnya yang musti digarap. Kali ini dari Mata Kuliah Y, kami diharuskan membuat media promosi untuk meningkatkan kesadaran akan preservasi dan konservasi di perpustakaan―eh, yah, kurang lebih begitu. Kelompokku terdiri atas empat orang: Mencari bahan yang ingin diinfografiskan, menemukan materi untuk infografis, mencari referensi poster, membuat sketsa poster, lempar ke forum untuk diberi saran, eksekusi (pembuatan poster dengan aplikasi desain), kembali mencari referensi, finishing, lalu selesai. Kebetulan aku yang mengeksekusi posternya. Kalau dikerjakan setelah Maghrib dan lanjut setelah Isya, mungkin bisa selesai pukul 12 malam.

Sayangnya itu menjadi mustahil ketika aku membuat bukber dadakan hari ini bersama temanku yang datang itu. Perantau dari Blitar yang belum pulang kampung juga.

“Bukber, yuk.”

“Yuk.”

Semendadak itulah ajakanku. Pun secepat itu temanku mengiyakannya. Lantas bukber ini pun tidak menjadi sebuah wacana.

Adzan Ashar menjadi alarm untuk menuju ke tempat kami berbuka puasa―setelah sholat, tentunya. Kami sempat pergi ke sebuah toko sepatu olahraga di daerah Akses UI. Titipan temannya temanku. Muahal, sepasangnya nyaris Rp700.000. Kalau itu uangku, mungkin sudah kugunakan untuk membeli komik dan buku.

Eh, hedon kartu pos, prangko, dan printilan snailnail sepertinya menarik juga. 😀

Oke cukup sampai di sini berkhayalnya.

Setelah dari sana, kami baru menuju ke Margo City, salah satu mal besar di Kota Depok. Parkiran sudah mulai penuh, padahal baru pukul 4 sore. Kami bahkan harus menggeser motor agar bisa dapat parkir. Untung temanku perkasa.

Sampai di dalam mal, kami langsung naik ke lantai tiga dan mencari meja dua kursi di pinggir pagar kaca(?). Mengobrol sebentar, lalu temanku memutuskan untuk memesan makanan, padahal masih pukul 4.30. Aku juga ikut memesan tidak lama setelah dia kembali. Kami bergantian menjaga meja karena meja adalah benda berharga, apalagi beberapa jam sebelum berbuka. Setelah itu kami membuat perjanjian bahwa selepas adzan Maghrib nsnti aku yang duluan sholat, dia menjaga meja sambil makan. Ketika aku kembali, gsntian dia yang sholat dan aku menjaga meja sambil makan.

Yah, kalau mau bukber di mal, memang harus pernuh perjuangan dan pengorbanan. 😂

Mengobrol ngalor-ngidul dan deep-sharing yang masih dangkal itu ditemani oleh jajanan ayam goreng krispi ala Cina(?) favorit temanku―rasanya pedas, ngomong-ngomong―dan minuman hedon yang khas dengan pearl bubble-nya. Kenyang―dan sadar bahwa tugas poster kami belum dikerjakan―akhirnyavkami pulang. Temanku ke kosannya, aku ke rumah.

Pukul 8 malam aku tiba di rumah, setengah jam kemudian sudah bersiap akan mengerjakan desain. Namun, terdistraksi oleh keluarga yang pulang Tarawih. Ibu dan adik bahkan malah mengajakku mengobrol. Aku semakin terdistraksi dan hampir lupa dengan tugas sendiri. Setelah kuusir secara halus, barulah mereka pergi. Ibu sempat datang lagi membawa takjil yang beliau dapatkan dari kantor, sedang adikku datang lagi ksrena meminta jatahnya―tidak mau rugi.

Aku baru benar-benar mengerjakan desain pukul 10 malam, ditemani pastel isi sayur, pie susu yang dicomot ibu, dan tahu goreng sisa takjil buka pussa di rumah. Baru benar-benar kelar pukul setengah 2 pagi, dengan hanya satu dari tiga orang temanku yang masih terjaga. Iseng, kutebak dia menunggu sambil mendengar dangdut―dan tebakanku diiyakan betulan. 😂

Walaupun mengantuk, sengaja kusempatkan melanjutkan tulisan tadi sore. Sedikit curang dengan menjadikan tulisan hari ini untuk hari Selasa―padahal selesainya Rabu dini hari.

Dan mata ini pun menagih tidurnya.

.

Depok, 5 Juni 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s