Postcrossing

Dari Sampah Jadi Hadiah

20181006_210212_00011385654359.png

Semenjak hobi kirim surat, aku jadi punya sebuah kebiasaan baru.

Ngumpulin sampah. (….)

Bukan literally sampah sih, disebut sampah karena benda-benda itu sering tidak dianggap oleh orang-orang dan berakhir di tempat sampah. Padahal―di mataku―benda-benda itu bisa didaur ulang, salah satunya untuk menghias surat atau malah dijadikan hadiah.

Yup, menghias dan membuat hadiah dari sampah!

Kalau menilik akun Instagram pegiat penpalling dan snailmailing ini, mereka sangat-amat bermodal dalam menghias dan mengisi hadiah untuk surat mereka. Karena aku kepentok modal, aku pun berusaha menyiasati ketidakmodalan ini.

Tidak berduit bukan berarti berhenti kreatif!

Saat melihat ayah mendapat bingkisan karena memberi presentasi di kantornya, aku sudah mengincar bungkus kadonya. Motifnya batik, bisa jadi amplop, dipotong dan dijadikan hadiah untuk ke sapen, atau untuk menghias amplop itu sendiri.

Pernah juga aku mendapat paket buku. Bukunya cuma satu dan dibungkus amplop cokelat ukuran lebih besar dari A4. Melihat sisa kertas yang lumayan buat jadi uiasan, jadilah aku potong untuk memisahkan yang bagus dan yang lecek atau bekas solasi. Bagian yang bagus kujadikan amplop dan hiasan untuk amplop lain, yang lecek ada yang jadi hiasan―ada juga yang super lecek ya tetap berakhir di tempat sampah.

Amplop di atas kubuat dari bungkus kado bekas ngebungkus kado. Jadinya … bungkus kado-ception. #bukan

Oh, terus hiasannya dari amplop cokelat bekas paket buku yang juga kugunakan untuk membuat amplop baru dengan ukuran A6-nya folio. Fotonya di bawah ini! :))

Beberapa bulan lalu, ketika di Jombang, tanteku membawa empat snack kardusan dari kondangan. Coba tebak apa yang kuincar pertama kali? Lace paper yang sering dijadikan alas snack di dalam kardus. Alhamdulillah tidak kena minyak, kuambil semua, deh! XD Lace paper itu kubagi empat dan kugunakan untuk menghias amplop atau hadiah untuk sapen (bisa digunakan untuk menghias amplop mereka juga).

Kejadian ini juga berulang ketika kemarin ibu membawa souvenir pernikahan. Sebuah pouch berukuran sedang dan tipis yang klipnya dihiasi lace paper. Yang kukatakan pertama kali adalah, “Lace paper-nya buat aku, ya!” Dan ibu tidak punya alasan untuk menolak. 😂

Aku sering lihat banyak stempel lucu, banyak juga dijual online tapi mahal. Akhirnya aku membuatnya sendiri dengan penghapus yang jarang kugunakan di rumah. Jadinya rubber stamp! Bentuknya sederhana aja, kayak segitiga atau hati. Susah bikinnya pakai cutter seadanya. 😂

Suatu hari ibu menawariku undangan pernikahan temannya. Ibu ingat kalau anaknya suka ngumpulin sampah hobi banget mendaur ulang barang yang tidak terpakai. Terlebih, undangan itu bahannya bagus, dan amplopnya dari kertas samson (cokelat) tebal. Aku pun tidak menolak, dan dikasihlah aku dua buah undangan berupa amplop berbahan kertas samson tebal dan kartu undangan berbahan kardus tebal pula. Tadinya aku sempat bingung, tapi dapat inspirasi! Amplopnya kupotong jadi empat dan kufungsikan sebagai ‘klip’ atau wadah untuk printilan buat sapen. Sementara kartu undangan dari kardusnya kupotong persegi panjang dan kujadikan untuk tempat melilit washi tape sample―salah satu printilan untuk sapen.

Aku tidak kepikiran hal lain, cuma itu aja. 😂 Karena biasanya pegiat penpalling memang suka membuat wadah agar hadiah-hadiah kecilnya tidak berserakan, dan mereka sering menggunakan kertas samson tebal berbentuk price tag untuk melilit washi tape sample. Aku cuma memodifikasi ‘sampah’ yang kudapat agar dapat berfungsi sama.

Selanjutnya, ada yang pernah lihat kaus dalam laki-laki yang dijual di supermarket? Itu lipatannya rapi karena ada kertas tebal di dalam lipatan kaus dalamnya. Nah, ibu pernah beli beberapa untuk ayah, dan aku ditawari kertas tebal itu. 😂 Langsung kuambil, dan kugunting jadi beberapa bagian, lalu jadi deh price tag ala ala Rifina! Untuk finishing-nya bisa dihias pakai pita. Patut dicoba, lho! Bisa ditulisi Mail Tag, Playlist, Recommended Book/Movies, dll. Daripada berakhir di tempat sampah kan? =))

Apa lagi? Apa lagi?

Oh, brosur! Apalagi kalau yang bahannya bagus, jangan langsung dibuang! Brosur kan identik dengan promosi, dan promosi identik dengan ‘visual yang bagus’. Nah, bisa tuh dimanfaatkan. =)) Gambar-gambar di brosurnya bisa dipotong dan dibikin kolase di kertas HVS. Kalau punya kertas yang agak tebal (≧260gsm) bisa ditempelin juga jadi kolase atau jadi recycle postcard!

Yang lainnya … pasti pernah dong minum susu kotak? Makan Pocky dan sejenisnya? Atau beli bolu yang ada kardusnya? Nah, kardus-kardus kemasan itu jangan langsung dibuang, apalagi kalau yang gambarnya bagus dan bahan kardusnya cukup tebal―pokoknya recycle postcard-able. Tinggal bersihkan seperlunya (saranku jangan dibasahin), lalu gunting sesuai ukuran postcard (A6). Jadi deh, recycle postcard lainnya!

Mau yang lebih sederhana dan gampang? Coba deh cari koran bekas, tumpukan cetakan tugas sekolah yang tidak terpakai, atau tugas yang salah cetak. Itu bisa dipotong dan dipakai untuk menghias surat lho daripada dibuang gitu aja!

Lihat, banyak yang bisa dilakukan dengan sampah, kan? =))

Jadi, kalau lihat ‘sampah’, jangan langsung dibuang. Siapa tau bisa jadi hiasan surat, atau malah jadi hadiah kecil. ✨

.

Depok, 24 Agustus 2018

Advertisements

1 thought on “Dari Sampah Jadi Hadiah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s