Hari-hari, Opini

Kamis: UTS, Hujan Angin, dan Laki-laki di Berjaket Biru

Kok judulnya jadi menimbulkan kesan ada kejadian manis di tengah hujan gitu ya … padahal tidak ada manisnya sama sekali.

Pahit dan kedinginan sih iya. Basah kuyup aku tuh. 😅

Pagiku Kamis lalu sebenarnya cukup syahdu karena diawali dengan kabar kelas pagi yang kosong. Sebenarnya aku sudah siap, tapi untung aja aku sempatkan mengecek grup sebelum ambil jaket. Ternyata kelas paginya kosong, dan informasinya sudah disebar bahkan sebelum aku mandi. Tau gitu kan ngecek grup dulu, jadi sayang kan airnya. Huft. #eh

Informasi kelas kosong ini kusyukuri karena pas banget semalam sebelumnya baru tidur pukul 2 pagi gara-gara ketiduran setelah Maghrib, kebangun pukul 8 malam, dan malah menggambar komik strip di laptop sampai pukul 1. baru tidur lagi pukul 2. Paginya yang jelas jadi ngantuk kan. Alhamdulillah jam kosong―jam kosong pertama dalam semester ini yang dapat kunikmati! Akhirnya kosong itu kupakai untuk hal yang sangat berfaedah di dunia: tidur ronde II.

Oh, aku juga belajar buat UTS kelas siang kok!

Setelah dzuhur, aku berangkat ke kampus untuk UTS. Ini UTS ketiga dalam semester ini. Nah, namanya juga UTS, alhasil kalau dihitung tuh aku di kampus cuma sejam! Bahkan ujiannya sendiri cuma 50 menit. Ujian pakai SCeLE (daring gitu) yang mana entah mengapa sering alamat nilai jelek―dan … beneran. Berhubung ujiannya daring, PG 50 soal, pas di-submit atau tunggu aja waktunya habis nanti nilainya bisa langsung ketahuan. Aku hanya bisa terdism melihatnya, hem. Tapi, entah mengapa semenjak kuliah tuh tiap ujiannya berasa tidak berbeda satu sama lain antara kuis, UTS, dan UAS. Padahal pas SMA kerasa bedanya antara UH, UTS, dan UAS. Kayak tiap ujian ada atmosfer masing-masing.

Karena selesai awal, aku kelar pukul setengah tiga. Mendadak mikir kalau jamnya masih belum terlalu sore dan berniat untuk merealisasikan harapan sejak awal September lalu: pergi ke toko buku. Mampirlah aku ke toko buku di Margonda. Keliling di bazaar buku, lihat-lihat buku baru, keliling lagi di bagian alat tulis, dan akhirnya keluar tanpa membeli apa-apa.

Kayaknya aku ke sana cuma buat bayar parkir aja. 🙃 Itu pun aku memutuskan pulang setelah mendengar salah seorang pegawainya menceletuk kalau di luar hujan deras dan aku agak kaget.

Wah, alamat basah kuyup, deh, batinku sambil keluar dari Gramedia dan menolak mas-mas di depan toko buku yang ingin mencegat secara halus.

Langit mendung, jalanan sudah sedikit basah. Pas sudah keluar jalan raya, baru terasa gerimis dengan tetesan air yang cukup besar―kerasa gitu pokoknya. Masuk ke Juanda, hujan gerimis itu berubah menjadi hujan angin…. Siap. Di tengah Juanda aku sudah basah kuyup dan hujan masih berangin. Saking beranginnya tuh sampai pandangan jadi agak putih dan berkabut gitu. Lalu, entah kabar baik atau buruk, aku kena lampu merah perentahberapaan Juanda-Raya Bogor yang nunggunya seabad (baca: 6 menit).

Fyi, 10 detik diguyur hujan angin saja sudah basah kuyup, ini harus berhenti dan diguyur selama 6 menit. Kurang syahdu apa lagi. :”))

Aku tau sih masih banyak orang yang merutuk keberadaan hujan yang sebenarnya adalah keberkahan. Aku sendiri walaupun basah kuyup tetap berusaha berpikir bahwa hujan (angin) ini adalah rezeki. Justru kita harus berdoa, kan ada doa tuh saat hujan. Walaupun sama-sama kuyup, setidaknya aku lebih legowo disiram hujan dan ditiup angin selama 6 menit menunggu lampu merah Itu pun ditambah 10 detik disuruh bersabar karena ada rombongan mobil yang tetap menerobos. Sebal sih sebal, kalau mau disuruh bikin alasan juga gampang banget: orang di mobil itu tidak kehujanan, kami yang pengendara motor malah sudah kuyup―dan alasan-alasan pemantik emosi lainnya. Aku juga melihat ada bendera kuning di salah satu mobil, jadi aku maklumi saja.

Kemudian aku menyadari ada motor di sebelah kananku yang melaju sedikit. Laki-laki berjaket biru, dan aku melihat batik yang sangat familiar di balik jaketnya. Itu batik SMAku. Aku sudah merasa senang saja, hingga rasa senang itu langsung buyar ketika laki-laki itu membuka helmnya dan berteriak sambil mencaci-maki ke arah rombongan mobil yang sudah menjauh.

Aku syok.

Aku akan sangat paham akan ada orang yang emosi karena diguyur hujan angin, tapi tidak menyangka insiden serobot oleh rombongan mobil tadi justru memantik emosinya. Membuatnya berteriak di tengah hujan deras berangin dan rombongan mobil itu pun sudah menjauh. Semua orang tau―bahkan kurasa dia pun tau―kalau rombongan itu tidak akan bisa dengar, malah aku yang dengar. Malah pengendara lain di sebelahnya yang sama-sama diserobot, basah kuyup, dan kedinginan yang dengar.

Menyalurkan emosi? Hmm, hanya saja aku tidak paham faedahnya di mana. Yang ada malah emosinya bisa jadi salah alamat, lebih buruk lagi kalau ikut memantik emosi orang lain.

Yang bikin lebih syok lagi sih karena dia sekolah di SMAku. Aduh, Mas, batikmu itu kelihatan, lo. Kalau ada orang yang mengenal itu batik sekolah kita, Mas sudah menyumbang sebuah corengan di nama almamater. 😓

Dari kejadian seperti itulah dulu aku mengubah mind set-ku sendiri, baik mind set secara umum maupun terkhusus hujan. Hujan itu berkah, bukan musibah. Kejadian yang tampak sial di mata kita (basah kuyup kehujanan) sebenarnya hanya masalah perbedaan sudut pandang saja. Kalau saja kita mau memakai sudut pandang hujan adalah berkah, kupikir emosi yang muncul gara-gata kehujanan itu tidak akan ada.

Ya sudahlah, mari kita doakan saja semoga Mas berjaket biru itu diberi petunjuk dan tidak berkata kasar lagi. Alergi telingaku tuh kalau denger orang ngomong kasar, teriak pula. Huft.

Oke, lanjut lagi di perjalanan pulang Rifina di hari Kamis yang hujan berangin. Yuhu.

Omong-omong, berdasarkan pengamatan lapangan secara langsung, kalau Juanda hujan deras disertai angin entah mengapa Raya Bogor cuma ada hujannya saja. Kemarin pun begitu, tapi aku juga melihat sisa-sisa angin kencang sebelumnya dari jalanan yang dipenuhi daun hingga ranting berserakan sih. Jadi kotor dan berantakan gitu deh jalannya. Namun, semakin mendekat ke kompleks rumahku, entah mengapa (lagi) hujannya semakin mereda dan…

… kok kompleksku cuma basah segini doang?

Kayak cuma kena gerimis sebentar yang numpang lewat, coba. 😓 Kadang aku heran sama Depok. Wilayah UI sampai Juanda hujan deras, tapi rumahku damai-damai aja, basah cuma seadanya…. Depok bala apa gimana deh, hahaha.

Bukan masalah di hujannya sih, tapi tau kan rasanya basah kuyup sebadan-badan terus memasuki wilayah rumahmu hujannya udahan dan orang-orang memandangmu penuh heran karena kamu basah sendiri padahal langit cerah? Nah, itu aku banget tadi sore. :”)

Sampai rumah kemudian disambut mati lampu. Hore~

Jadi, begitulah hari Kamis yang penuh dinamika itu, hahaha. Banyak kejadian yang ingin kurekam memorinya lewat tulisan tidak jelas ini. Hari ini pun aku belajar hal baru lagi tentang kehidupan. Lewat UTS, hujan berangin, dan laki-laki berjaket biru di persimpangan jalan.

.

Depok (17.11)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s