Curhat, Islam

Belajar Khusnudzon

Lagi, aku memetik pelajaran dengan berkhusnudzon pada ketetapan yang Allah berikan.

Kejadiannya sudah lewat sih. Tulisan ini juga sudah kubuat sejak beberapa hari setelah kejadian itu, akunya aja yang lupa melanjutkan tulisan ini, ehe.

Kira-kira Rabu dua minggu lalu, aku benar-benar super demotivasi. Kuliahnya cuma satu, bahasa Isyarat, tapi pengaruh demotivasi ini begitu luar biasa. Padahal bahasa Isyarat ini menyenangkan, lo. Teori pun tidak ada, pokoknya kelas favoritku semester ini. Tapi, fakta itu ternyata tetap tidak bisa menggeser demotivasi yang mengganjal di pikiran.

Akhirnya aku memutuskan untuk rehat (baca: absen).

Aku sudah paham sekali kalau setiap keputusan pasti akan ada risikonya, dan risiko dari absen ini sudah tampak sejak hari Jumat. Ada PR baru dari kelas Isyarat, rekam video isyarat mencakup tiga materi. Dua materi awalnya sih aman, materi terakhirnya ini yang tidak aman karena baru dibahas saat aku tidak masuk. Namanya juga risiko, jadi aku harus belajar ekstra, usaha sendiri untuk mencari gerak isyarat materi terakhir di Youtube dan bertanya ke teman.

Masalah PR beres, tapi masalah lainnya datang. Selasa malam aku berencana mengerjakan PR 2 yang dikumpulkan malam itu juga, tahu-tahu di grup ada daftar pasangan dialog untuk UTS.

Ulangi: UTS. Dan dialog.

“Ya Allah, apa salah hamba,” inginnya bertanya demikian, tapi seketika sadar, “salahmu adalah membolos minggu lalu, Rifina.” 😓

Jadi, minggu itu tuh kelas Isyarat sudah dijadwalkan UTS, sudah ada di SAP juga, cuma aku saja yang lupa lihat. Saat UTS, kami diharuskan berdialog berdua dan dialog itu sudah mencakup semua materi yang sudah diajarkan. Kami harus pintar-pintar merangkum semuanya dalam tiga menit saja. Aku dan temanku, Zahra, sama-sama absen, jadi kami tidak dapat pasangan sampai H-1 UTS. Pasangan kami baru ditentukan pukul 00.32 oleh pengajarnya. Itu bahkan sudah hari Rabu, dan Rabu pukul 14.00 kami sudah ujian. Belum bikin dialog dan sebagainya―tapi kerangka dialognya sudah kubuat.

Ternyata, ada lima orang yang belum dapat pasangan karena sama-sama absen, dan 1 dari 5 orang itu adalah laki-laki. Entah bagaimana ceritanya, justru aku yang kedapatan berdialog dengan yang laki-laki itu ketika aku ingin dapat teman dialog perempuan saja. 😓 Temanku, Zahra, aman-aman saja karena teman dialognya adalah teman sejurusan kami. Lalu, yang terakhir itu anak Sastra Jawa. Dia sendirian, tapi bisa bebas minta bantuan ke siapa saja (bisa temannya sendiri, kan). Intinya, mereka dapat teman dialog bersama orang-orang yang membuat mereka nyaman. Tidak ketar-ketir.

Demi mengetahui semua itu, untuk sesaat saja, aku merasa tidak beruntung.

Tapi, di saat yang sama pula, aku mencoba berkhusnudzon. Toh penentuan partner dialog ini benar-benar tidak bisa kami prediksi, jadi kupastikan itu benar-benar keputusan dari Allah sajadan keputusan-Nya pasti selalu baik walau tampak tidak baik untuk kita. Kurang lebih begitu hiburku pada diri sendiri.

Dan ternyata, partner dialogku ini gercep (baca: gerak cepat) banget. Ketika aku baru buat kerangka dialog (berencana mengetiknya di kampus saja), pagi-pagi sekali dia mengirimiku pesan dan bilanh sudah buat dialognya, tinggal kuedit dan cetak saja.

Terus, ternyata ritme gerakan isyarat kami sama―agak cepat. Kalau kami berdialog, hasilnya tidak akan terlihat timpang, bahkan kami jadi saling mengimbangi.

Ternyata lagi, kami bisa menguasai naskah dialog dalam waktu dua jam sebelum praktik dialog untuk UTS di depan pengajarnya. Dengan ritme kami yang sama-sama cepat itu.

Detik itu pula aku berpikir, mungkin ini maksud Allah nggak membuatku sekelompok sama temanku sendiri.

Mungkin ini maksud Allah memberiku partner yang laki-laki―karena dari empat orang yang ada, laki-laki itu memang ritme isyaratnya paling cepat atau mirip denganku.

Jadi, lagi-lagi aku kembali belajar bahwa ketetapan Allah yang tidak kita sukai, bisa jadi itu yang terbaik untuk kita.

Pesan dari kejadianku hari itu: simpan perasaan tidak beruntungmu itu, dan coba lihat dirimu di masa mendatang ketika kamu menuai hasil yang tak terduga.

.

Depok (7.52)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s