#BPN30daysChallenge [2018], Trivia

Di Balik Nama Rufindhi

Dulu sekali, sampai aku lupa kapan dulunya, aku pernah mau menulis tentang asal-usul di balik nama blog ini. Tidak ada alasan tertentu sih, cuma … biar ada tulisan setiap hari aja. Jadi, tema yang lewat apa aja aku tulis di sini, hahaha. 😂

Rufindhi! Tentu aku punya beberapa alasan kenapa memakai nama itu untuk blog ini alih-alih merancang nama baru yang lebih unch atau keren. Dan ‘menjual’.

(( ―laku tidaknya aku kurang tau sih, tapi traffic-ku kayaknya lumayan juga. 🤔 ))

Pertama, karena personal branding. Jadi, Rufin Dhi ini sebenarnya nama penaku dalam menulis. Di halaman sampul dua buku yang berhasil kuterbitkan tertulis nama Rufin Dhi sebagai nama penaku, pun di beberapa cerpen dan (satu) puisiku yang masuk buku antologi juga pakai nama pena yang sama. Rufin Dhi itu sendiri sudah ada sejak aku SMP, tepatnya kelas dua, waktu di mana aku pertama kali kirim naskah novel ke penerbit pakai nama pena ini.

Eh, jangan suruh aku menjelaskan asal-usul nama itu―setidaknya bukan di tulisan ini. Akan kujelaskan di tulisan lain, entah kapan, malu soalnya, hahaha. 😂

Balik ke pertanyaan ‘kenapa blog ini nggak pakai nama lain yang kreatif?’. Blog ini bukan blog pertama dalam sejarah hidup seorang Rifina, jadi―iya, aku pernah bikin blog yang namanya ngarang gitu. Di beberapa blog sebelum blog ini, aku pernah punya blog di Blogspot. Dulu aku belum menjadikan Rufin Dhi sebagai personal branding soalnya masih baru banget gitu, hot from the oven. Makanya aku berusaha (sok) kreatif bikin nama blog yang kece (baca: keren).

Bagi anak SMP saat itu, pakai bahasa Inggris sudah terhitung kece, jadi aku namain aja blognya Sharing Corner. Untuk pranala blognya sharingcorner-rifi gitu ya? Seingatku sih gitu. Ada Rifi-nya karena tetep mau ngeksis, hahaha. 😂

Nah, karena mencari aplikasi blog yang enak dipakai, akhirnya aku pindah ke WordPress dan bikin blog baru. Sengaja sih, soalnya mau reborn dan mengubur masa kealayan zaman SMP. Pas pindah blog saat itu aku sudah SMA, dan buku pertamaku yang memakai nama Rufin Dhi itu terbit di tahun yang sama. Nama pena itu pun kini kujadikan personal branding―dan nama blog ini juga. Toh, blogging judulnya masih ‘menulis’, jadi aku menyengajakan diri untuk memakai nama penaku.

Kedua, karena simple. Rufindhi―simple banget kan? 😆 Dan tetap tidak menghilangkan kekhasannya, hehe. Cita-citaku (?) juga sih, punya nama blog yang simple tapi tetap ‘keren’, tidak maksa (sok) kreatif kayak nama blog masa lampau. 😂

Ketiga, karena aku males mikir nama lain lagi. 😅 Aku payah kalau sudah soal membuat nama. Bahkan, nama tokoh-tokoh di cerpen dan novelku cuma sedikit yang pakai riset. Sisanya semacam nemu nama orang di Facebook (atau di mana kek gitu) dan bereaksi, “Ih, namanya bagus. Kujadiin nama tokohku ah!” lalu kupakai jadi nama tokoh utama, dan itu terjadi begitu saja. Atau, kalau mentok banget cari nama tokoh (apalagi yang sampingan) kuabsen aja nama-nama temanku dan kupilih beberapa di antaranya yang enak (?). 😐

Terakhir, konsep blogku yang ini (pada awalnya) adalah berbagi cerita tentang aku. Tentang seorang Rifina yang ada di balik nama pena Rufin Dhi. Itulah mengapa dulu aku tanpa pikir panjang langsung memakai nama Rufin Dhi untuk blog ini; blog yang isinya segala hal tentang Rifina, dari cerita random sehari-hari, hobi, ulasan, karya, sampai opini.

Dan tentu saja tetap tidak melupakan alasan kenapa aku menulis blog, yaitu berbagi di setiap tulisan yang kuhasilkan. 🌟

.

Depok (08.15)

#BPN30dayChallenge2018

Advertisements

2 thoughts on “Di Balik Nama Rufindhi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s