#BPN30daysChallenge [2018], Opini

Facebook, Twitter, dan Instagram

Facebook, Twitter, dan Instagram; aku punya definisi dan peran masing-masing dari ketiga media sosial itu.

Facebook

Aku mendefinisikan media sosial berwarna biru tua dan berlogo huruf f ini sebagai gerbangku menuju dunia maya, yang menjadi saksi masa ababilku (abege labil), dan juga tempat yang penuh energi negatif―pada satu waktu.

Facebook adalah media sosial yang pertama banget aku punya akunnya. Kalau kamu tanya, “Kok yang pertama bukan Friendster?” jawabannya, “Aku tau Friendster, tapi nggak kena booming-nya.” Masih terbayang, lo, tampilan muka Facebook pada waktu itu. Super sederhana, tidak sekompleks saat ini yang bahkan sudah ada fitur story-nya. 🤔 Waktu itu aku masih SD, antara kelas 5 atau 6. Singkatnya, sudah tidak bisa didefinisikan lagi deh kealayanku waktu itu. Bahkan aku takut sendiri untuk melihatnya, hahaha. 😂 Tapi, satu fakta yang tak terbantahkan, Facebook adalah gerbangku menuju dunia maya dan mengenal istilah teman-teman maya. Dan kalau boleh jujur, waktu itu aku lebih nyaman berinteraksi dengan teman mayaku daripada teman nyata. Apalagi waktu SMP aku tidak begitu punya banyak teman.

Walaupun begitu, Facebook lama-lama memberikan dampak negatif. Di Facebook-lah aku keranjingan main game online. Kalau kalian masih ingat, dulu ada game Pet Society. Lucu banget sih, aku yang sekarang pun masih mengakui kelucuan game itu―tapi dengar-dengar sudah lama tidak ada di Facebook lagi. Mungkin itu game online pertama yang benar-benar meracuniku. Tiap hari buka Facebook, tiap hari main Petsoc―begitu singkatannya. Bahkan, percaya atau tidak, aku juga mengeluarkan duit untuk membeli barang-barang di game itu….

Eh, pemasukannya juga ada kok, aku juga jualan dan membuat orang lain mengeluarkan duit. 😂 Waktu itu dibayar pulsa juga sudah bahagia, terus kupakai untuk main Facebook dan SMS-an deh, hehe. Tapi, jelas game itu bikin kecanduan selama beberapa tahun, dan candu itu baru berhenti sejak akhir kelas 3 SMP karena aku mulai hijrah ke Twitter―gerbang kedua yang akan kubahas setelah ini.

Sejak saat itu, aku (nyaris) tidak pernah buka Facebook. Alasannya? Karena sudah ada Twitter. Dan alasan kuat lainnya karena … semakin lama Facebook isinya orang-orang curhat semua, somehow. Kalau curhatnya menghibur atau memberi hikmah sih tidak mengapa, tapi ini curhat yang memberikan aura negatif. Apalagi baca status mereka pasti dalam hati kan, negatifnya langsung masuk deh tuh. 😓 Aku jelas paham diriku sendiri, makanya aku memutuskan untuk puasa Facebook bertahun-tahun demi menghindari sumber energi negatif itu.

Qadarullah, sekitar tiga tahun kemudian aku kembali ke FB karena sebuah kepanitiaan online yang kuikuti. Tapi masih jarang-jarang online-nya, soalnya buka di browser. Dan kondisi FB saat itu … makin negatif aja dong, heeem. 🙂 Makanya aku makin males buka FB, hahaha. Mungkin pengaruh ‘target pasar’ kepanitiaanku kala itu juga. Mereka rata-rata tipe orang yang mencurhatkan segala keluh-kesahnya di status FB dan semua itu didominasi oleh curhat negatif. Beberapa dari mereka berteman denganku, jadi mau tidak mau aku melihat status yang mereka publikasikan.

Tahun berikutnya, aku jadi panitia inti di acara yang sama. Dampaknya? Semakin banyak ‘mereka-mereka ini’ yang meminta pertemanan. Karena prinsip kepanitiaan kami adalah melayani, jadi kuterima semuanya. Risikonya? Wah, aura negatifnya nambah, Bung. Tak tertahankan. 😵 Sampai-sampai, jujur, beberapa dari mereka ada yang aku unfollow (stapi masih berteman) supaya aku tidak melihat statusnya di linimasa. Kesannya jahat ya … tapi aku tentu punya hak untuk itu―semacam hak prerogatif. Toh fiturnya disediakan, kan? Untuk apa kalau tidak difungsikan secara tepat? 😐

Yes, aku sangat tidak menyukai status penuh aura negatif yang sering mereka lontarkan. Ini adalah salah satu alasan kuat aku enggan membuka FB, bahkan ketika aku menjadi panitia inti. Sekalinya buka FB paling-paling tidak lebih dari satu jam (kecuali kalau briefing, itu pun cuma di messenger kan).

Tapi ternyata … setelah aku iseng menggali masa laluku di Facebook…. Wah, ternyata Rifina tahun 2012 tidak berbeda jauh dengan mereka-mereka yang kuhindari saat ini, Bung. 😂😂😂 Ternyata dulu aku juga sama-sama spam status kayak mereka, dan penuh aura negatif. Mengeluh-mengeluh-mengeluh―sampai aku yang 6 tahun kemudian ini syok dan tidak menyangka saat membacanya kembali.

Ternyata aku dulu pernah melakukan sesuatu yang tidak kusukai saat ini….

Jadi, pelajarannya adalah, jangan terlalu sok atau merasa diri ini sudah baik, lantas memandang miring orang-orang yang melakukan hal-hal yang ‘salah’. Justru kita harus berkaca, bisa jadi mereka-mereka yang kamu pandang miring ini adalah sosok dirimu di masa lalu. Kamu lupa pernah melakukan hal-hal yang ‘salah’ itu. 😅 Dijadikan introspeksi diri saja, dan tetap menghindari mereka yang memberi aura negatif ini agar tidak terpengaruh.

Atau … memengaruhi mereka balik dengan aura positif yang kita punya? Kalau bisa kan why not? 😆


Twitter

Lanjut ke media sosial kedua, Twitter.

Twitter bagiku adalah gerbang pertemanan yang jauh lebih luas daripada Facebook. Aku menemukan banyak teman baru dan kesukaan baru di sini. Ketika teman-teman dunia mayaku dari Facebook hanya sedikit saja yang masih saling kontak, teman maya di Twitter ini hampir semuanya masih bertahan sampai saat ini.

Aku tidak terlalu aktif di Twitter. Awal mula bikin Twitter, aku justru aktif di akun penggemar Detektif Conan. Di sanalah aku mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah. Ada yang dari Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, hingga Kalimantan dan Sumatra. Yang di Jabodetabek, minimal setahun sekali pasti beberapa di antara kami kumpul untuk bertemu. Bayangin deh, dari aku masih kelas 3 SMP sampai saat ini yang (harusnya) tahun keempat kuliahku. Bahkan salah satu dari kami sudah menikah awal Juli lalu dan kami menghadiri pernikahannya.

Namun, sejak pindah ke Instagram, aku mulai menelantarkan Twitter. Semacam hukum alamkah? 😂

Tapi, Twitterku tidak serta-merta kutinggalkan mati begitu saja. Aku menghubungkannya dengan WordPress. Jadi, setiap ada tulisan baru dari blogku, akan di-tweet secara otomatia di akunku. err, tapi kadang aku juga suka lupa sendiri sih karena keaktifan itu semu. Aku bahkan suka kaget kok ada notifikasi di Twitter, padahal buka aja hampir tidak pernah…. Ternyata itu notifikasi retweet dan love tweet dari WordPress. 😂 Selain itu, aku juga menghubungkan Postcrossing ke Twitter. Jadi, kalau aku mau ngirim kartu pos atau menerima kartu pos, pasti akan otomatis di-tweet gitu.

Bisa dibilang, belakangan ini Twitterku cuma kufungsikan sebagai sarana sharing nggak-sengaja. Biar aktif walaupun semu…. Tapi gapapa! Asal tulisan blogku bisa lebih tersebar. 😁


Instagram

Terakhir, Instagram!

Aku lupa kapan tepatnya punya Instagram, soalnya akun yang sekarang ini pun bukan akun pertama. Yang paling pertama? Lupa password, jadi bikin baru.

Bentar, kok alasanku ibu-ibu banget yaaa. 😂 Ibuku gitu soalnya, suka lupa password. Dan aku disuruh mengingat semua password-nya. Nah, lo. 😅

Hm? Apa peran Instagram bagiku, katamu? IG tuh apa lagi kalau bukan penyedot kuota nomor satu. Huft.

Tapi, alhamdulillah, aku menggunakan IG saat sudah dewasa (muda). Alayku sudah sirna (semoga). Eh, tapi aku mau klarifikasi dulu, banyak emot gini bukan alay, lo. Karena aku (hampir) selalu nulis diakhiri titik―termasuk chat. Jadi, emot adalah penyelamatku dari prasangka buruk orang lain yang mengiraku jutek, judes, galak, lagi marah, dsb. 😅

Balik lagi ke Instagram. Aku sudah bisa memanfaatkan IG dengan baik. Simply, I can develop any hobby with it. Iya, Rifina punya akun IG lebih dari satu. Bukan cuma second account, bahkan third dan fourth juga ada…. Tapi, tunggu dulu! Semua itu bukan akun bodong untuk curhat dan stalking semata. Selain akun utama, sisanya adalah akun terkait hobi yang sengaja kubedakan akunnya: gambar, buku, dan sahabat pena.

Di akun gambarku, akun yang kuikuti berhubungan dengan hal-hal terkait menggambar. Akun itu juga kufungsikan sebagai akun portofolio sekaligus referensi ide―bisa ide gambar, nulis, dsb. Di situ, aku mengikuti beberapa akun yang kujadikan referensi gambar dan nulis, seperti akun jualan baju (untuk ide baju), akun hairstyle (untuk ide rambut), dan lain sebagainya.

Di akun buku, aku fokus mengulas buku yang kupunya dan/atau kubaca dengan mencoba aesthetic ala Bookstagram. Teman-temanku di akun buku itu juga bisa ditebak: another bookstagramer, book publisher, and bookstore. Aku sengaja bikin akun lain karena tidak ingin ‘mengganggu’ temanku di akun utamaku yang tidak suka hal itu―termasuk ketika aku re-post foto saat mengikuti suatu giveaway buku. 😂

Terakhir, akun sahabat pena, adalah akun yang menunjang hobi kirim kartu pos dan surat-suratan dengan sahabat pena. Bisa dibilang, akun itu yang paling global di antara akunku yang lain karena teman-temanku lebih banyak yang dari luar negeri. Terlebih, orang luar Indonesia lebih aktif dalam hobi ini ketimbang masyarakat Indonesia sendiri.

Menyenangkan sih punya akun khusus gitu, jadi fokus dan lebih gampang mencari teman satu minat. Cuma ya jadi PR karena nambahin urusan diri sendiri. 😂 Dan … masalahku di Instagram cuma satu: kuotanya nggak kuat. 😓

Oh, pernah denger tentang puasa Instagram? Aku juga pernah mau melakukan itu, lo. Capek aku tuh kuota cepet sekarat mulu, hahaha. Sayangnya, aku tidak bisa ‘ikut-ikutan’. Aku butuh Instagram sebagai sarana pemberi ide; apa pun, dari gambar, nulis, bahkan sampai referensi foto ala bookstagram dan tips menghias surat untuk sahabat pena. Dan Instagram sangat menunjang sekali karena dia sifatnya visual.

Sayangnya kevisualan itulah yang membuat kuotaku sering mepet. 🙂

“Lalu, apa kesimpulan dari tulisan super panjangmu ini, Rifina?” 😂

Kesimpulannya … banyak. 😂 Aku serahkan pada pembaca. (?)

.

Depok (13.50)

#BPN30dayChallenge2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s