#BPN30daysChallenge [2018], Postcrossing

Kebanyakan Hobi, Kebanyakan Koleksi

Karena faktor kebanyakan hobi, aku jadi punya banyak hal yang dikoleksi. 🤔 Tapi, ada dua hobi yang benar-benar menyumbang koleksi, yaitu hobi membaca dan hobi berkirim surat + kartu pos! 📚📮

Novel

Aku mengoleksi novel, terutama novel penulis-penulis favoritku, seperti Tere Liye, Lexie Xu, Akiyoshi Rikako, dan Sumino Yoru. Hmm … tapi biasanya aku beli yang Pre-Order sih, soalnya lebih murah―kadang dapat bonus juga, hehe. Harga novel sekarang tuh sudah tidak berperikemahasiswaan. :”)) Jadi kangen harga novel cuma Rp30.000…. Kapan ya itu? Pas aku SMP?

Tapi, yang paling konsisten aku beli tuh bukunya Akiyoshi Rikako sama Sumino Yoru, buku terjemahan. Alasannya masih berhubungan sama harga. Tere Liye sama Lexie Xu suka bikin novel tuebel banget, dan ketebalan buku berbanding lurus dengan harga buku itu sendiri. Semakin tebal, semakin mahal … dan kalian pasti sudah tau lanjutannya―antara aku tidak (sanggup) beli dan nunggu diskonan. 😶

Komik

Selain novel, aku juga koleksi komik. Sejujurnya, aku lebih suka koleksi komik karena harga pengeluaran satu komik itu relatif murah. Sekarang sih Rp25.000 normalnya. Walau sebenarnya itu terhitung mahal sih, soalnya aku pernah merasakan harga komik Rp11.000. Kelas 3 SD kalau tidak salah. Komik yang konsisten kukoleksi sejak SD sampai sekarang―bahkan selalu kutunggu-tunggu volume barunya―adalah Detektif Conan (94~), Yotsuba&! (14~), Komikus Shojo Nozaki (9~), Hai! Miiko (30~), Topeng Kaca (26~), Barakamon (16~), dan Scrambled! (2~).

Yang Conan sebenarnya aku justru baru suka pas kelas 3 SMP. Waktu itu temanku bawa komiknya ke kelas, volume 62 dan 63. Aku baca di kelas, dan … langsung suka detik itu juga. Padahal dulunya aku menebak diriku ini tidak akan betah baca komik Conan karena isinya pasti banyak teorinya (yak benar), tulisannya dempet-dempet (yak benar), dan akan membosankan (tetot~). Terus aku kena karma. Terus aku langsung hunting Conan volume 1 sampai 63, dan pengoleksiannya dilanjut sampai sekarang. 😂

Kartu Pos

Selanjutnya, yang kukoleksi adalah kartu pos. Pengoleksian ini dimulai sejak Januari 2018, dan jumlah kartu pos yang kudapatkan semakin membludak ketika aku mulai aktif main di Postcrossing dan Direct Swapping di Instagram.

Yang aku gantung itu cuma sebagian kartu yang ada. Mostly, kartu pos yang kumiliki datang dari Cina karena banyak orang Cina yang mengajak direct swap di Instagram. Mereka itu benar-benar banyak, like, bejibun. Setiap aku unggah beberapa kartu pos baru, minimal banget ada 2 orang Cina yang ngajak swapping. 🤔

Aku tidak pernah menolak karena ya aku bukan tipe yang picky―pemilih. Kalau ada yang ngajak ya hayu. Aku selalu melayani mereka yang mau bertukar denganku. Alasan lainnya, aku tidak bisa menolak ajakan tukeran kartu pos dari Cina karena … KARTU POS MEREKA LUCU-LUCU DONG. Bahkan aku selalu kesulitan memilih…. 😔 Favoritku itu seri kartu pos Ever&Ein karena ala watercolor gitu. 💛

Surat dari Sahabat Pena

Tapi, karena basic-ku adalah menulis panjang dan kartu pos space nulisnya super sempit, aku pun mencoba aliran lain dari kirim-kiriman pos ini, yaitu penpalling atau surat-suratan sama sahabat pena. Bahasa lainnya itu snail mailing, atau surat siput―karena memang lama banget sampainya kayak siput. Dari hobi ini, aku jadi mengoleksi―lebih tepatnya, menyimpan―surat-surat dari sahabat pena.

Beberapa sahabat pena sangat antusias sekali dalam menghias suratnya. Kalau kamu melihat-lihat foto-foto di tagar #snailmailrevolutin atau #penpalling, kamu bakal menemukan surat-surat yang dihias begitu aesthetic. Indah banget pokoknya. Favoritku yang bertema vintage dengan dominasi warna coklat. 💛

Prangko

Dari surat sahabat pena dan kartu pos, aku juga jadi mengoleksi prangko! Niat untuk mengoleksi prangko ini juga diprakarsai oleh hobi lawas ibu yang dulunya filatelis. Aku juga pengen punya koleksi prangko sendiri, dan alhamdulillah terwujud.

Kalau ditanya, “Prangko di suratnya kamu copotin, Pin?” Jawabannya: iya. 😅 Kalau suratnya artistic, aku berusaha kuat untuk tidak merusak suratnya. Kalau kartu pos, hanya beberapa saja yang kucopot prangkonya, seperti prangko yang memang lemnya mudah dilepas atau prangko yang bergambar sama. Soalnya ada yang bilang kartu pos tanpa prangko tuh kayak hampa gitu―dan iya memang terlihat begitu sih. Maafkan daku. 😂

Jadi, bisa dibilang koleksiku itu ya gara-gara hobi. Kebanyakan koleksi gara-gara kebanyakan hobi. Tapi tidak apa-apa toh asal hobinya positif. 😁

Kalau kamu, ngoleksi apa di rumah? :))

.

Depok (23.50)

#BPN30dayChallenge2018

Advertisements

8 thoughts on “Kebanyakan Hobi, Kebanyakan Koleksi”

      1. aku kalau nulis surat justru suka banget.. tpi hias2 dan ngirim ke posnya tu yg mager wkwkw xD Kalau nggak dihias2 rasanya ga totalitas, kalo ke posnya pake ngedumel rasanya belum ikhlas. Aku gitu sih, banya suka banyak ga nya juga.. magernya aja sih ini yg kelallallaaa-an. kzl wkwk xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s