#BPN30daysChallenge [2018], Nostalgia

Kota-kota yang Menjadi Saksi

Harusnya hari ini nulis tentang 10 blog favorit untuk blogwalking, tapi aku jarang blogwalking. Agak kesulitan untuk mengumpulkan blog-blog itu, hmm (ada saran? 🤔). Makanya, hari ini aku akan memanfaatkan tema penyelamat yang kedua, yaitu kota-kota yang pernah kamu tinggali.

Definisi tinggal yang akan kugunakan adalah minimal satu tahun dan maksimal tidak terhingga. Ada tiga kota yang pernah aku tinggali, yaitu Pontianak, Sumedang, dan Depok.

Kalau diurutkan dari waktunya, aku awalnya tinggal di Pontianak, sebuah kota di Kalimantan Barat yang terkenal dengan Tugu Khatulistiwanya. Jangankan tinggal, lahir pun aku di sana. 😂 Namun, aku ‘cuma’ enam tahun saja tinggal di sana. Keluarga kami harus bertolak ke kota lain demi mengikuti ayah yang dimutasi ke lain pulau. Nasib anaknya PNS, akan ada kemungkinan nomaden. Sebenarnya ayah juga sudah sering kena mutasi, tapi mtadinya masih di kalimantan. Sayangnya kali ini mutasinya ke luar pulau.

Pulau itu adalah pulau Jawa, dan Ayah dimutasi ke Jakarta. Walaupun begitu, keluarga kami memutuskan untuk tinggal di kota Depok. Kami pindah tahun 2004 saat aku naik ke kelas 2 SD. Semuanya benar-benar menjadi baru―rumah baru, tetangga baru, sekolah baru, suasana baru. Tidak ada lagi tetangga sepermainanku, Adit, Ami, Ivan, dan Devi yang kerap mengajakku bermain. Eh, jadi curiga, apa ini menjadi salah satu faktor mengapa aku,berujung jadi introvert? Entahlah ya, kupikir sedikit-banyak itu memengaruhi juga. 🤔 Hidup baru ini jelas bukan hal yang mudah pada awalnya, tidak hanya bagiku, tapi juga bagi seluruh anggota keluargaku.

Kota Depok menjadi saksi Rifina yang masih bocah beranjak ke remaja. Tepatnya sampai SMA aku betah di Depok ketika teman SMAku sudah ada yang dari kota lain, setauku ada yang dari Bekasi dan Bontang. Mungkin ada yang lainnya juga, hanya aku saja yang tidak tau. Pun aku juga menjadi saksi kota Depok yang berubah banyak. Margo City dulu belum ada, jalanan juga masih lapang. Sekarang mah di mana-mana macet. Soalnya banyak pekerja di Jakarta yang rumahnya di Depok karena letaknya di pinggiran. 😅

Takdir Allah mengatakan sudah saatnya aku menjamah kota lain. Hidup di perantauan. Tahun 2015, tepat lulus SMA, aku mendapat PTN di Jatinangor (Sumedang). Jatinangor, atau Sumedang, ini menjadi tempat kedua yang aku tinggali. Depok-Jatinangor lebih jauh daripada Depok-Bandung, omong-omong. Bisa dibayangkanlah ya durasi perjalanannya selama apa. 😂 Sebagai anak yang pertama kali hidup ngekos dan ‘merantau’, pengalaman kali pertama ini bukan hanya milikku saja. Orang tua dan kakak-adikku juga pertama kalinya menghadapi situasi ini, ketika anak perempuan semata wayangnya harus ‘pergi’ dari rumah dan hidup di kota lain. sedih memang. Segala kesulitan harus coba kuhadapi sendiri.

Namun, tinggal seorang diri membuatku belajar banyak hal, terutama belajar kemandirian. Aku daftar ulang mahasiswa baru sendirian ketika yang lain ditemani orang tua hingga neneknya. Bersih-bersih sendiri, makan sendiri, tidur sendiri (yaiyalah 😂). Serba sendiri. Tidak ada yang namanya makanan siap sedia ketika aku membuka pintu rumah (kosan), yang menyambutku hanya kamar kosong (soalnya aku ngekos sendiri sih, hehe). Tapi, yah, aku percaya apa yang kuhadapi ini, misalnya kuanggap sebagai ‘ujian’, pasti mampu dilewati oleh seorang aku. Seorang Rifina.

Buktinya, semester satu aku cuma balik ke Depok dua kali: pas libur idul adha 4 hari sama libur akhir semester. 😂 Padahal ya kalau mau naik bus juga sampai. Itulah mengapa aku belajar hal baru lagi di semster dua: naik bus sendirian Depok-Jatinangor. Setelah itu? Aku pulang seminggu sekali~ 😂 Saking ‘jagonya’, aku sampai membuatkan tutorial-nya di blog ini dan sudah dibaca banyak orang―termasuk 10 tulisan paling banyak dibaca malah. 😁 Pulang ini disuruh ibu juga sih, ya makin nurut aja kan akunya. //yha

Pertimbanganku sering pulang lainnya tuh, pertama, kuliahku di semester 2 cuma 3 hari: Selasa-Rabu-Kamis. Jumat-Sabtu-Minggu-Senin suci, men. Dan kedua, ogah banget aku menghabiskan kesendirian dan berlumut di kosan. Mending di rumah sekalian perbaikan gizi. 😀 Intinya, Rifina berhasik bertahan hidup dengan ngekos dan bolak-balik Depok-Jatinangor. Namun, ternyata tahun 2016 adalah tahun terakhirku di Jatinangor.

Aku masih ingin mengejar passion: kuliah Sastra Jepang. Ibu ingin aku kuliah dekat rumah, tapi musti PTN, ya … PTN yang dekat di Depok mah di mana lagi kalau bukan UI? 😅 Akhirnya aku ikut SBMPTN lagi, kali ini pilihannya bunuh diri semua alias UI semua.

Dan qadarullah aku lolos, dan berhasil masuk UI walaupun―lagi-lagi―gagal dapat Sastra Jepang. 😂 Ya sudahlah~ Ini jelas pertanda bahwa aku akan meninggalkan Jatinangor dan kembali melanjutkan hidup di Depok.

Dan di sinilah aku, di kota yang sering dijuluki kota Belimbing. Kota yang sudah sering macet. Kota yang kalau akhir pekan di mana-mana macet. Kota yang kalah adem sama Jatinangor. Mengulang kuliah dari semester satu lagi, menghadapi rangkaian ospek lagi; beradaptasi lagi. Semuanya jelas tidak mudah.

Hal yang kupelajari dari pindah-pindah kota ini adalah … hidup itu pilihan. Keluarga kami bisa saja memutuskan untuk tidak ikut pindah ke pulau Jawa―kalau begini jadinya, aku belum tentu pernah mencicipi tinggal di Jatinangor.

Aku bisa saja melepaskan pengumuman SBMPTN pertama yang mengharuskanku tinggal mengekos sendirian―kalau begini jadinya, pasti aku kalah mandiri dari aku yang sekarang.

Aku bisa saja tetap di Unpad dan melepaskan pengumuman SBMPTN kedua yang mengharuskanku pindah kampus dan kuliah dari awal lagi, ikut ospek lagi―kalau begini jadinya, aku pasti masih sering mrasa kesepian, dan menjadi pejuang pulang-pergi Depok-Jatinangor setiap minggunya.

Semua pilihan jelas ada risikonya. Maka, sebelum memilih―apalagi pilihan sulit, alangkah baiknya dikomunikasikan ke Maha Pencipta. InsyaAllah akan dimudahkan; InsyaAllah pilihan yang kita pilih adalah yang terbaik. Risiko dan kesulitan akan tetap bermunculan, dan tugas kita adalah melewatinya dengan sebaik yang kita bisa. Karena aku selalu percaya ada kemudahan di balik kesulitan. Sungguh, ada kemudahan di balik kesulitan.

Terakhir, jangan lupa bahagia. 😊

.

Depok (23.23)

#BPN30dayChallenge2018

Advertisements

2 thoughts on “Kota-kota yang Menjadi Saksi”

  1. Aku juga nulis kota yang ditinggali karena jarang blog walking XD
    Tapi definisi ‘tinggal’ buatku ‘udah nginap, berarti udah tinggal, biar sehari’, wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s