Hari-hari, Menulis Se-tema

Sabtu Malam yang Lalu

Selamat Sabtu malam―karena bagi jomlo, istilah malam Minggu hanya sebuah mitos.

Kalau aku bicara tentang Sabtu malam, wah, jangan bayangkan satnite yang sering dibangga-banggakan para pasangan di luar sana. Entah mereka yang punya kencan makan malam berdua, atau hanya bertemu di telepon saja. Namun, bukan Sabtu malam hari ini yang akan kubahas, melainkan Sabtu malam seminggu yang lalu.

Sabtu malamku yang lalu rasanya … biasa saja. Tidak ada suatu hal istimewa yang membuatnya terkenang sepanjang masa. Palingan dihiasi pusing kepala karena tugas tidak ada habisnya. Mau serius mengerjakan, tapi … yah, suka ada saja kan distraksinya. Beberapa distraksi kadang justru aku sengajakan saking mumetnya.

Ibu yang melihat wajah kusutku itu pun menyahut dari kamarnya, “Ke rumah Tantemu yuk, Mbak.” Begitu katanya. Mendengar ajakannya, aku yang butuh distraksi ini tentu langsung mengiyakan dengan semangat.

“Sekalian jajan di Hebu, ya!” seruku sambil memasang cengiran. Ibu mesem-mesem, tapi permintaan bak anak kecil dari putri semata wayangnya itu tetap ia kabulkan. Hitung-hitung bawa jajan buat dimakan bersama di sana, mungkin begitu pikirnya.

Rumah tanteku tidak jauh, hanya berbeda beberapa gang saja. Ibu kadang suka minta naik motor ke sana, tapi aku yang bosan naik motor karena kuliah sudah naik motor pun menyarankan untuk jalan kaki saja.

“Sekalian turunin makan malam, jalan kaki biar sehat,” tukasku sok bijak. Padahal kalau ada waktu luang ujung-ujungnya tidur juga.

Aku suka jalan kaki, sebenarnya. Apalagi waktu malam hari; agak gelap, sepi, dan sejuk udaranya. Mungkin deskripsi barusan terdengar menyeramkan, tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain sebenarnya itu menyenangkan! Sambil jalan kaki, kami mengobrol ringan. Menciptakan momen singkat yang berkualitas ibu dan anak perempuannya, berdua saja.

Kami mampir dulu ke Hebu di tengah perjalanan. Hebu sebenarnya sebuah toko yang ada di persimpangan jalan. Toko itu buka Senin-Sabtu saja; Minggu mereka tutup, entah kenapa. Aku berkeliling di etalase, mencari kue yang sekiranya sedang ingin kumakan. Setelah mengambil 1 biskuit cokelat, 1 roti kasur, 2 kopi, dan 2 sereal instan, ibu membawanya ke kasir untuk dihitung jumlahnya. Aku lanjut keliling di dalam toko, melihat-lihat. Sempat hampir memboyong kertas kado dan beberapa cemilan berbungkus kecil untuk hobi surat-suratan dengan sahabat pena. Kertas kadonya untuk bikin amplop, cemilannya untuk diselipkan di surat sebagai hadiah. Untung saja niat itu masih bisa kutahan atau dompetku akan jebol untuk ke sekian kalinya.

Oh, ya. Sebuah fakta, aku suka melihat etalase. Rasanya terhibur aja gitu―entah kenapa. Ada yang tau ini philia jenis apa, ya? :”)

Setelah semuanya dibayar, kami melanjutkan jalan kaki ke rumah tante di ujung sana. Perumahan kami kalau malam memang agak sepi, paling hanya ada beberapa orang yang duduk di bangku batu yang ada di trotoar, kadang satu dua motor dan mobil ada yang lewat. Kami berbelok saat melewati sebuah TK yang sudah tutup dan tampak gelap. Gang rumah tanteku persis di sebelah TK lama. Dulu itu TK adikku, namanya Tunas Harapan. Tapi, rasanya tempat itu tampak tidak lagi bisa memberi harapan…. 😅

Berkunjung ke rumah tante sebenarnya sudah menjadi rutinitas mingguan. Sejak tanteku ini pindah dari Pontianak tahun 2012 (kalau tidak salah) dan mengontrak rumah sejak 2015, ibu jadi rajin bertandang ke sana. Penat di kantor, katanya. Ingin mengobrol bersama adiknya, sambil minum segelas kopi berdua―dengan aku, tentunya. Terlalu banyak yang kami bicarakan sampai-sampai aku lupa obrolan apa saja yang kami bahas.

Tidak terasa jam pun menunjukkan pukul sembilang kurang, Ibu sudah memberi sinyal-sinyal ingin pulang. “Yuk, Mbak. Itu kopinya masih sisa, habisin aja,” ujarnya. Aku tidak menolak, senang malahan. Tegukan terakhir selalu terasa nikmat.

Akhirnya kami pulang, pada tante kami berpamitan. Aku dan ibu berjalan pelan di bawah sinar rembulan, bersama kantung plastik berisi sebungkus sereal instan.

“Ini buat aku besok pagi, ya?” pintaku, tapi seolah tidak menerima jawaban selain ‘iya’. Ibu mengerti, lalu mengangguk saja.

“Rutinitas pagi, ya?”

“Iya,” sahutku dengan anggukan. Aku selalu senang dengan akhir pekan, terutama pagi hari di mana aku melakukan rutinitas pukul 6-7 pagi: duduk-duduk di kursi teras, ditemani segelas minuman panas. Kalau langit mendung apalagi gerimis, beuh, aduhai nikmatnya.

Yah, setidaknya aku harus mengukir pagi yang indah sebelum pusing lagi karena tugas di malam harinya.

.

Depok (18.39)

Challenge 1: Malam Minggu yang Lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s