Proyek Menulis

Serba-serbi Menulis Novel (Bagian 2)

Aku memutuskan untuk melanjutkan serba-serbi menulis novel ini di tulisan baru, biar tulisanku nambah, hehe.

Omong-omong, kali ini aku bakal menyinggung proses pramenulis novel. Alias riset, outline, dan kawan-kawannya.

Sebelum menulis sebuah novel (atau tulisan apa pun itu), tanyakan pada dirimu sendiri:

Mau Nulis Cerita Apa?

Ini pertanyaannya simpel, tapi jawabannya susah-susah gampang. Walaupun begitu, mari coba untuk menjawabnya dengan mudah, hehe. Bayangin aja ini lebih ke pertanyaan informal yang menanyakan, “Kamu mau nulis tentang apa? Mau menyampaikan pesan apa? Mau nulis cerita yang kayak gimana?”

Jawabannya suka-suka kita. Misal, mau bikin cerita yang karakternya kayak mencerminkan diri sendiri (biar gampang karakterisasinya), mau nulis cerita tentang detektif polisi, atau … mau nulis novel yang pesan moralnya ajakan untuk self-love? Bebas~

FYI, seorang penulis selalu punya alasan ketika menciptakan tulisan. Sekalipun ‘penulis’ status yang curhat di media sosial. Dia menuliskannya untuk mengeluarkan uneg-uneg, dan itu sudah jadi alasan mengapa dia menulis. Aku pun sama. Di naskah yang sedang kugarap ini aku mengambil genre spiritual. Sederhananya, berhubungan dengan agama. Sejak awal sebelum menulis, ada suatu pesan yang ingin kusampaikan melalui jalinan cerita yang kurangkai di naskah ini. Untuk saat ini belum bisa kubocorkan sih, hehe.

photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Intinya adalah tentukan tujuan. 😁 Hasil dari tahap ini adalah pesan moral yang akan kita sampaikan; atau plot utama dari naskah kita nantinya.

Selanjutnya? Membuat Outline!

Saatnya membuat outline, yeay!

Jangan bilang haduh, ya. Hahaha. Aku pribadi senang menulis outline walaupun memikirkannya juga tidak mudah. Simpelnya, outline ini berisi kerangka cerita kita dari awal sampai akhir―iya, itu memang tidak simpel, haha. Yang paling mudah bisa dimulai dengan penjabaran beberapa adegan utama dari cerita kita. Karena ini novel, ‘kan harus panjang ya, jadi jangan lupa tambahkan adegan pendukung lainnya.

Terkait adegan pendukung aku selalu berusaha menambahkan yang betulan mendukung adegan utama. Untukku pribadi, ini bikinnya susah-susah gampang. Jangan lupa juga bikin opening dan ending. Masih merasa belum cocok sama opening dan ending yang sudah direncanakan? Tidak apa-apa, pasang aja yang sudah ada ke outline. Nanti seiring ceritanya berjalan biasanya sering dapat ide dadakan yang kadang cocok sama ceritanya, dan kita tidak dilarang untuk mengubahnya. 😁

Perihal Tokoh

Di cerita umumnya terdapat tokoh. Di naskah yang kugarap pun sama. Kalau pengalamanku pribadi, aku sudah memegang karakterisasi dasar para tokoh agar bisa membuat outline. Namun, mereka belum memiliki nama. Jadi, di outline itu para tokohnya masih kulabeli alfabet A, B, C, D. Urut sesuai keutamaan perannya.

Kalau strategi kalian adalah menentukan nama dulu, itu tidak masalah. 😁 Karena aku membuat outline dulu baru nama tokoh, aku mencari nama tokoh yang artinya sesuai dengan sifat para tokoh tersebut. Silakan atur strategi senyamannya kita saja.

Aku sering menggunakan nama Indonesia, Sansekerta, dan Arab. Kalau nama sih masalah cocok-cocokan juga sama tokoh-tokoh kita. Genre yang kugunakan saat ini spiritual, jadi ya cocoknya pakai nama Arab Indonesia, hehe.

Lantas, di mana aku menemukan nama-nama itu?

Obrak-abrik Situs Nama Bayi

Percaya tidak? 😀 Aku hobi banget menilik situs-situs nama bayi kalau lagi bikin nama untuk tokoh ceritaku. Jadi, bukan hanya calon orang tua yang butuh situs nama bayi untuk menamakan anaknya, tapi juga calon penulis yang mau punya anak (baca: buku). Hehe. Situsnya apa saja―bisa dilihat di google, ya. Buanyak kok.

Ada cara lain nggak selain lihat di situs nama bayi? Ada dong.

Comot Nama Orang Asli

… dan aku kerap melakukannya, hahaha. Termasuk di naskah yang sedang kutulis. 😂

Ada satu tokoh yang namanya kuambil dari orang yang kukenal. Oh, bahkan kayaknya dua orang deh, tapi yang salah satunya kupakai untuk tokoh utama sampingan. Jadi, aku cukup sering mengetikkan namanya, hahaha. Awal-awal mungkin kebayang orang aslinya, tapi kalau kita punya bayangan karakter sendiri sih akan bergeser dengan sendirinya (?). Begitulah.

Lalu, ada nggak tips untuk punya bayangan karakter tiap tokoh? Ada.

photo by Markus Spiske on Unsplash

Coba Cari Personifikasi

Aku dapat tips ini dari temanku. Carilah sosok yang bisa menggambarkan tokoh-tokohmu―aku menyebutnya personifikasi. Caranya dengan memilih satu orang, bisa artis atau siapa pun, yang kira-kira pas menjadi sosok tokoh kita. Yah, mirip-mirip casting tokoh kali, ya? Hehe. Mau menggunakan wajah artis? Silakan saja.

Saranku sih kalau ceritanya dia adalah orang Indonesia, usahakan jangan pakai prsonifikasi orang barat. Nggak nyambung. Kecuali kita punya latar belakang yang kuat mengapa tetap bersikukuh. Terkait personifikasi, ini cukup membantu kita saat menulis cerita. Walaupun nantinya pembaca akan tetap pada imajinasinya, tetap patut dicoba. 😁


Segitu aja sih. Eh, tapi aku punya cerita penutup.

Jadi gini…

Barusan aku bilang kalau ada satu nama tokoh yang kuambil dari nama seseorang di dunia nyata, ya? Jadi, dia betulan ada di dunia nyata. Saat ini masih dalam jangkauan, tapi kami hampir tidak pernah berinteraksi. Aku menggunakan namanya karena satu dan lain hal.

Lucunya, yang biasanya kami tidak pernah berinteraksi, ada satu situasi di mana kami baru-baru ini (pertama kali) berbalas pesan. Untuk suatu keperluan sih, jadi ya normal-normal aja. Tapi, aku merasa aneh aja ketika di-chat orang yang namanya kita pakai untuk nama tokoh. Udah gitu, kalau lagi menulis ‘kan pasti nama tokoh itu kita ketik terus. Entah di dialog, entah di narasi. Saat mengetikkan namanya di naskah sih biasa saja. Bagaimana kalau kondisinya diubah: orang sungguhannya mengirim pesan ke kita? 😂

Kalau aku, kagetnya double, hahaha. Satu, kaget karena ujug-ujug orangnya mengirim pesan. Dua, kaget karena yang mengirim pesan adalah dia yang namanya kupakai untuk nama tokoh. Pas kubalas pesannya kayak lagi chat sama tokoh sendiri.

Apakah dia keluar dari naskahku?

Begitulah, hahaha. Pengalaman yang menarique.

Di cerita-cerita yang pernah kubuat sebelumnya pun aku sering menggunakan nama teman-temanku. Ada kalanya aku menggunakan nama teman yang menyebalkan sebagai karakter jahat yang akhirnya sengsara.

Berhati-hatilah dengan penulis, hahaha. 😁

.

Depok, 25 November 2019

Advertisement

11 thoughts on “Serba-serbi Menulis Novel (Bagian 2)”

  1. QOTD: “Berhatilah-hatilah dengan penulis” 😁
    …. karena suatu saat nanti orang-orang di dekat penulis, atau yg menyebalkan buat penulis, bisa jadi inspirasinya untuk menulis, ya, Kak? 😂

  2. Wkwkw jadi ingat dengan quotes yang entah siapa pencetusnya: “Jangan sekali-kali menyakiti hati seorang penulis atau kau akan abadi dalam karyanya.” Hiyaaaa~ Btw aku jadi pengen miliki buku Kak Rifi, nanti deh cari di toko buku hihi🌻

    1. Ini bener bangeet hahaha. XD Soalnya di salah satu bukuku ada cerita yang konsepnya dari kisah nyata. Walaupun namanya bukan nama dia, tapi kejadian bikin sakit hati itu abadi beneran, wkwk. 😅 Ditunggu lho~

  3. Terima kasih sudah menuliskan sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini, Mbak. Terutama soal penokohan dalam menulis novel dan bagaimana kita memilih nama untuk tokoh yang ada dalam cerita kita.
    Saya rasa, penting juga untuk memberi nama yang disertai makna. Persis seperti memberi nama pada bayi beneran hahaha. Jadi, ketika kita membaca novel atau kisah yang ditulis, kita akan ingat dengan tokoh ini, lalu ingat dengan kisahnya dan ingat dengan siapa penulisnya. Aaaa…Asik buangettt!!!

    1. Bener, Mbakk. Bahkan ada yang serius banget soal penokohan ini. Selain ngasih nama yabg maknanya sesuai banget, personality-nya juga dicari sampai tuntas dan detail. Repot di awal, tapi jelas bakal membantu pas nulis. 😁 Makasih atas insight-nya, Mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s