Cerita Fiksi

Fanfiksi: Tipe Cewek Favorit

Disclaimer: Scrambled ~We Are Scrambled!~ © Rosalina Lintang

Tidak ada keuntungan yang didapat dari tulisan ini kecuali kepuasan karena memenuhi hasrat menulis author yang sempat hilang.


Warning(s):
1. Alur mengikuti komiknya (bukan pakai alur di instagram komikus @lintankleen yang ceritanya lebih berkembang dan update, jadi yang cuma nyimak instagramnya dan nggak baca komiknya pasti merasa beda).
2. Visi masih ‘naksir’ Valent.
3. Belum ada Carmell (cemewewnya Filan―canon instagram) dan Altan (sahabatnya Carmell).
4. Hosea belum jadi pacarnya Visi (semoga Hos nggak nangis baca ini, HAHAHA).
5. Berusaha IC, tapi maaf kalau OOC. :”)


Di suatu hari ketika orang tidur tidak bisa melek, anggota band Scrambled sedang berkumpul untuk latihan. Band yang beranggotakan empat laki-laki berstatus individu itu (mereka tidak mau dibilang jomblo) latihan di studio musik pribadi milik Hosea, senpai* yang jago main drum dan―omong-omong―punya tinggi badan yang tidak mau mengalah dengan pohon. Visi, satu-satunya anggota perempuan yang menjadi manajer mereka, juga hadir di sana untuk menemani latihan nge-band Scrambled untuk penampilan di penutupan acara Green Week di sekolahnya. Niat lainnya adalah mengagumi kesempurnaan Valent (minus sifat pelupanya) dan menjadi objek gombalan Hosea yang terangan-terangan naksir padanya.

Continue reading “Fanfiksi: Tipe Cewek Favorit”

Advertisements
#Noctober2017 · Sajak (-sajakan)

Aku dan Secangkir Kopi

Dulu, ia yang menemaniku di tengah sepi. Ia juga yang menemaniku berkutat dengan tugas hingga dini hari.

Dulu, beberapa makan malamku adalah secangkir kopi dan sepotong roti. Tidak perlu makanan ala restoran itali, aku sudah tenang asal perut terisi.

Kini, ia pula yang menemaniku di tengah sepi. Menemaniku berkutat dengan paper dan proyek menulis hingga pukul dua pagi.

Kini, beberapa makan malamku tak lagi sepotong roti, bukan pula makanan ala restoran itali. Hanya makanan rumahan penghangat hati, dan terkadang diakhiri secangkir kopi.

Katanya, kopi itu bikin tidak sehat diri. Tapi, sayang, ia sudah menjadi adiksi.

#Noctober2017 · Cerita Fiksi · Sajak (-sajakan)

Senyum Wanita Itu Seperti Sihir

Senyum wanita itu seperti sihir.

Satu senyum menyebar kebahagiaan;

dua senyum menularkan senyum;

satu tawa menerbitkan tawa bersama.


Sentuhan dari wanita itu seperti sihir.

Satu sentuhan menyiratkan rasa peduli;

dua sentuhan menyiratkan rasa afeksi;

satu pelukan menghapuskan gundah di hati.



Sebenarnya, ia bukanlah seorang penyihir.

Namanya Ibu, dan ia adalah wanita yang selalu mengasihi kita sepanjang masa. Tidak pernah pamrih, tidak pula meminta balas budi. Asal kita senang, maka ia akan ikut senang.

Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu. 

Sihir miliknya punya batas waktu. Batas yang tidak dapat ditawar―dan lebih menakutkannya, batas itu tidak dapat diterka.

Akan ada masanya ketika sihir itu meredup semakin usianya menyenja.

Lalu sihirnya akan hilang ketika ia dijemput oleh-Nya.

.

.

Depok, 2 Oktober 2017

#Noctober2017 #Noctober2017Day02

#Noctober2017 · Cerita Fiksi · Opini

Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan

Bagi semua orang, lampu jalanan mungkin hanya bermanfaat sebagai penerang jalan. Tidak sampai ke tengah, terkadang hanya pinggirnya saja. Bahkan rasanya kebermanfaatannya kurang terasa karena menyinarkan lampu temaram. Tidak pernah membuat nyaman seorang wanita yang melewati jalan itu sendirian.

Namun, bagi dia, lampu jalanan adalah harapannya.

Continue reading “Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan”

Pojok Visual · Sajak (-sajakan)

Jangan Lupa Bahagia

···

Hidup memang tidak mudah dilalui,

masalah kerap datang silih berganti,

tapi, sudahkah kita berbahagia hari ini?

Bertemu teman, ketawa-ketiwi.

Masih bernapas; adalah nikmat yang tidak bisa kita dustai.


Jangan terlalu tenggelam dalam kesibukan diri,

lantas lupa membahagiakan diri sendiri.

Berikan senyummu pada dunia,  minimal lima senti.


Jadi,

jangan lupa bahagia!

(Dan jangan lupa pula bersyukur kepada Sang Illahi, karena kita masih bisa hidup hingga hari ini)

.

.

rufindhi

Depok, 28 September 2017

Cerita Fiksi

“I Lied to Me”

“Teman-teman, mohon doanya ya untuk salah satu teman kita. Dia nggak bisa bergabung di kelas dengan kita karena lagi down banget dan saat ini sedang diterapi.” Begitu kata ketua kelas. Semua serempak menyahut, menunjukkan rasa simpati dengan doa. Pun dengan dia.

Ketika mendengar kabar barusan, ia tidak serta-merta berpikiran negatif. Seperti, “Padahal baru masuk kuliah, kok udah down aja,” atau “Dia tertekan sama tugas kampus? Padahal kan tugas kita sama. Aku juga capek,” dan dugaan tanpa dasar lainnya. Ia tidak akan pernah berpikir begitu. Sekali pun tidak akan.

Karena ia pernah dan sedang berada dalam posisi yang sama.

Continue reading ““I Lied to Me””

#ScrivenSeptember · Sajak (-sajakan)

Hal-hal yang Tidak Ada Batasnya

Infinity memiliki arti tanpa batas; tak terbatas. Meluap, bahkan terkadang ketidakterbatasannya sering tidak terkontrol.

Dan di hidup ini, banyak hal-hal kecil hingga besar yang tidak memiliki batas.

Seperti, harapan yang ingin dicapai,

wish-list buku yang ingin dibeli,

doa teruntuk diri sendiri dan yang dikasihi,

tujuan hidup yang masih dicari,

destinasi wisata yang ingin dikunjungi,

makanan enak yang ingin dicicipi,

juga tugas kampus yang setia menemani. :”)

30 Days Of Literature · Lainnya · Sajak (-sajakan) · September 2017

Masa Kecil

Masa kecilku adalah jajanan ciki harga lima ratusan.

Masa kecilku adalah boneka barbie yang hobi berganti pakaian. 

Masa kecilku adalah Sungai Kapuas yang dijadikan tempat bermain dengan teman.

Masa kecilku adalah permen kaki yang masih jadi favorit sampai kini.

Masa kecilku adalah bermain petak umpet, ular naga panjangnya, dan perosotan.

Apa lagi, ya? Nggak bisa mikir gara-gara ditagih adik untuk bantuin dua tugasnya. 😦