Arsip Karya, Buku

The Man Who Plays Piano: Open Pre-Order!

Novel keduaku akhirnya buka Pre-Order, wankawan!

Harganya Rp53.600 (dari harga normal Rp67.000). Masih cukup ‘terjangkau’ untuk ukuran novel masa kini yang harganya udah pada selangit. 😅

Periode Pre-Order dibuka dari tanggal 9 Mei sampai 2 Juni 2018. Dapet bonus Dreaming Pen! Bisa dipesan melalui akun Instagram @Twigorashop atau melalui Whatsapp di 085880095599.

Jangan lupa beli, ya! Sebarin ke teman-teman kalian juga. =))

Dan di bawah ini penampakan dummy-nya. 😆

Advertisements
30 Hari Bercerita [2018], Cerita Fiksi

Fiksi: Penangkal Andalan

Minggu pagi ini aku bangun diiringi teriakan ibu dari dapur. Aku buru-buru bangun dari tidur pura-puraku, beranjak dari tempat tidur, lalu bertingkah seolah baru saja tidur nyenyak.

Padahal aku bergadang semalam suntuk demi menyelesaikan sebuah naskah novel. Namun, aku menyerah melanjutkannya, tepat setelah menuliskan adegan konyol untuk tokoh antagonis yang mengganggu kesejahteraan hidup tokoh utamaku. Aku membuatnya didorong anak kecil. Alih-alih memeluk lelaki tampan, ia kubuat memeluk tiang listrik.

Omong-omong, nama tokoh antagonisnya dari cewek menyebalkan yang kemarin mengejek gaya rambutku di sekolah. Karena tidak bisa kubalas langsung, jadi kubalas lewat ceritaku saja. Hahaha, rasain!

“Kamu pasti pura-pura tidur, ya?” tuduh ibu tiba-tiba.

Gawat. Bagaimana ibu bisa tahu?

“Nggak apa-apa, kan libur.” Aku menyahut asal.

“Pasti nonton drama,” tebak ibu lagi.

“Ih, ngetik cerita dong. Naskah novel.” Aku berkilah. “Pusing, Bu. Aku buntu ide. Entahlah mau diapakan ceritanya. Apa aku menyerah saja, ya?”

“Masa mau menyerah begitu saja?” tanya ibu sambil mencuci piring. “Seingat Ibu, dulu kalau kamu sedang mentok ide, kamu selalu punya penangkalnya. Penangkal andalan, kamu bilang.”

Penangkal andalan?

“Memangnya apa?” Aku kembali bertanya, kali ini penuh harap. Aku benar-benar membutuhkan penangkal kebuntuan ide.

Tapi ibu malah cengar-cengir sambil terus mencuci. “Masa sudah lupa? Masih muda kok pikun.”

Aku merutuk sebal. Ibuku mendadak menyebalkan ketika aku benar-benar membutuhkan penangkal andalan itu. Saat ini aku sedang buntu ide menulis. Aku membutuhkannya, tapi Ibu malah bikin penasaran macam sinetron bersambung.

“Ibu pelit, nih,” sahutku, lalu berlari ke kamar sebelum dicipratkan air sabun.

Apa, ya? Penangkal andalan di saat mentok ide?

Berpikir, berpikir, berpikir. Berpikir lagi, lalu sekejap aku teringat.

Aku tahu. Aku tahu! Penangkal andalan saat terkena writer block, pasti yang itu.

Aduh, kenapa aku bisa lupa? Writer block-ku kan selalu hilang kalau aku menulis lagi, asalkan diiringi musik dangdut!

.

.

Depok, 21 Januari 2018

P.S. Mengarang dengan melanjutkan tiga prompt (yang digarisbawahi) dari penyelenggara.

#30haribercerita #30hbc18mengarang #30hbc1821

Arsip Karya, Menulis

Annual Writing Self-Evaluation 2017 [Fanfiction]

Annual Writing Self-Evaluation 2017 [Fanfiction] adalah evaluasi menulis (khususnya fanfiksi) yang bersifat tahunan. Akan ada dua belas pertanyaan evaluasi beserta jawabannya. Cuma iseng aja sih, sempat jadi bandwagon di kalangan author fanfiksi di Facebook. Aku agak terlambat bikin, jadi di-post hari ini aja deh~

So, here we go~

Continue reading “Annual Writing Self-Evaluation 2017 [Fanfiction]”

Cerita Fiksi

Fanfiksi: Tipe Cewek Favorit

Disclaimer: Scrambled ~We Are Scrambled!~ © Rosalina Lintang

Tidak ada keuntungan yang didapat dari tulisan ini kecuali kepuasan karena memenuhi hasrat menulis author yang sempat hilang.


Warning(s):
1. Alur mengikuti komiknya (bukan pakai alur di instagram komikus @lintankleen yang ceritanya lebih berkembang dan update, jadi yang cuma nyimak instagramnya dan nggak baca komiknya pasti merasa beda).
2. Visi masih ‘naksir’ Valent.
3. Belum ada Carmell (cemewewnya Filan―canon instagram) dan Altan (sahabatnya Carmell).
4. Hosea belum jadi pacarnya Visi (semoga Hos nggak nangis baca ini, HAHAHA).
5. Berusaha IC, tapi maaf kalau OOC. :”)


Di suatu hari ketika orang tidur tidak bisa melek, anggota band Scrambled sedang berkumpul untuk latihan. Band yang beranggotakan empat laki-laki berstatus individu itu (mereka tidak mau dibilang jomblo) latihan di studio musik pribadi milik Hosea, senpai* yang jago main drum dan―omong-omong―punya tinggi badan yang tidak mau mengalah dengan pohon. Visi, satu-satunya anggota perempuan yang menjadi manajer mereka, juga hadir di sana untuk menemani latihan nge-band Scrambled untuk penampilan di penutupan acara Green Week di sekolahnya. Niat lainnya adalah mengagumi kesempurnaan Valent (minus sifat pelupanya) dan menjadi objek gombalan Hosea yang terangan-terangan naksir padanya.

Continue reading “Fanfiksi: Tipe Cewek Favorit”

#Noctober2017, Sajak (-sajakan)

Aku dan Secangkir Kopi

Dulu, ia yang menemaniku di tengah sepi. Ia juga yang menemaniku berkutat dengan tugas hingga dini hari.

Dulu, beberapa makan malamku adalah secangkir kopi dan sepotong roti. Tidak perlu makanan ala restoran itali, aku sudah tenang asal perut terisi.

Kini, ia pula yang menemaniku di tengah sepi. Menemaniku berkutat dengan paper dan proyek menulis hingga pukul dua pagi.

Kini, beberapa makan malamku tak lagi sepotong roti, bukan pula makanan ala restoran itali. Hanya makanan rumahan penghangat hati, dan terkadang diakhiri secangkir kopi.

Katanya, kopi itu bikin tidak sehat diri. Tapi, sayang, ia sudah menjadi adiksi.

#Noctober2017, Cerita Fiksi, Sajak (-sajakan)

Senyum Wanita Itu Seperti Sihir

Senyum wanita itu seperti sihir.

Satu senyum menyebar kebahagiaan;

dua senyum menularkan senyum;

satu tawa menerbitkan tawa bersama.


Sentuhan dari wanita itu seperti sihir.

Satu sentuhan menyiratkan rasa peduli;

dua sentuhan menyiratkan rasa afeksi;

satu pelukan menghapuskan gundah di hati.


Sebenarnya, ia bukanlah seorang penyihir.

Namanya Ibu, dan ia adalah wanita yang selalu mengasihi kita sepanjang masa. Tidak pernah pamrih, tidak pula meminta balas budi. Asal kita senang, maka ia akan ikut senang.

Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu.

Sihir miliknya punya batas waktu. Batas yang tidak dapat ditawar―dan lebih menakutkannya, batas itu tidak dapat diterka.

Akan ada masanya ketika sihir itu meredup semakin usianya menyenja.

Lalu sihirnya akan hilang ketika ia dijemput oleh-Nya.

.

.

Depok, 2 Oktober 2017

#Noctober2017 #Noctober2017Day02

#Noctober2017, Cerita Fiksi, Opini

Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan

Bagi semua orang, lampu jalanan mungkin hanya bermanfaat sebagai penerang jalan. Tidak sampai ke tengah, terkadang hanya pinggirnya saja. Bahkan rasanya kebermanfaatannya kurang terasa karena menyinarkan lampu temaram. Tidak pernah membuat nyaman seorang wanita yang melewati jalan itu sendirian.

Namun, bagi dia, lampu jalanan adalah harapannya.

Continue reading “Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan”