#Noctober2017 · Cerita Fiksi · Sajak (-sajakan)

Senyum Wanita Itu Seperti Sihir

Senyum wanita itu seperti sihir.

Satu senyum menyebar kebahagiaan;

dua senyum menularkan senyum;

satu tawa menerbitkan tawa bersama.


Sentuhan dari wanita itu seperti sihir.

Satu sentuhan menyiratkan rasa peduli;

dua sentuhan menyiratkan rasa afeksi;

satu pelukan menghapuskan gundah di hati.



Sebenarnya, ia bukanlah seorang penyihir.

Namanya Ibu, dan ia adalah wanita yang selalu mengasihi kita sepanjang masa. Tidak pernah pamrih, tidak pula meminta balas budi. Asal kita senang, maka ia akan ikut senang.

Namun, ada satu hal yang perlu kamu tahu. 

Sihir miliknya punya batas waktu. Batas yang tidak dapat ditawar―dan lebih menakutkannya, batas itu tidak dapat diterka.

Akan ada masanya ketika sihir itu meredup semakin usianya menyenja.

Lalu sihirnya akan hilang ketika ia dijemput oleh-Nya.

.

.

Depok, 2 Oktober 2017

#Noctober2017 #Noctober2017Day02

Advertisements
#Noctober2017 · Cerita Fiksi · Opini

Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan

Bagi semua orang, lampu jalanan mungkin hanya bermanfaat sebagai penerang jalan. Tidak sampai ke tengah, terkadang hanya pinggirnya saja. Bahkan rasanya kebermanfaatannya kurang terasa karena menyinarkan lampu temaram. Tidak pernah membuat nyaman seorang wanita yang melewati jalan itu sendirian.

Namun, bagi dia, lampu jalanan adalah harapannya.

Continue reading “Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan”

Pojok Visual · Sajak (-sajakan)

Jangan Lupa Bahagia

···

Hidup memang tidak mudah dilalui,

masalah kerap datang silih berganti,

tapi, sudahkah kita berbahagia hari ini?

Bertemu teman, ketawa-ketiwi.

Masih bernapas; adalah nikmat yang tidak bisa kita dustai.


Jangan terlalu tenggelam dalam kesibukan diri,

lantas lupa membahagiakan diri sendiri.

Berikan senyummu pada dunia,  minimal lima senti.


Jadi,

jangan lupa bahagia!

(Dan jangan lupa pula bersyukur kepada Sang Illahi, karena kita masih bisa hidup hingga hari ini)

.

.

rufindhi

Depok, 28 September 2017

Cerita Fiksi

“I Lied to Me”

“Teman-teman, mohon doanya ya untuk salah satu teman kita. Dia nggak bisa bergabung di kelas dengan kita karena lagi down banget dan saat ini sedang diterapi.” Begitu kata ketua kelas. Semua serempak menyahut, menunjukkan rasa simpati dengan doa. Pun dengan dia.

Ketika mendengar kabar barusan, ia tidak serta-merta berpikiran negatif. Seperti, “Padahal baru masuk kuliah, kok udah down aja,” atau “Dia tertekan sama tugas kampus? Padahal kan tugas kita sama. Aku juga capek,” dan dugaan tanpa dasar lainnya. Ia tidak akan pernah berpikir begitu. Sekali pun tidak akan.

Karena ia pernah dan sedang berada dalam posisi yang sama.

Continue reading ““I Lied to Me””

#ScrivenSeptember · Sajak (-sajakan)

Hal-hal yang Tidak Ada Batasnya

Infinity memiliki arti tanpa batas; tak terbatas. Meluap, bahkan terkadang ketidakterbatasannya sering tidak terkontrol.

Dan di hidup ini, banyak hal-hal kecil hingga besar yang tidak memiliki batas.

Seperti, harapan yang ingin dicapai,

wish-list buku yang ingin dibeli,

doa teruntuk diri sendiri dan yang dikasihi,

tujuan hidup yang masih dicari,

destinasi wisata yang ingin dikunjungi,

makanan enak yang ingin dicicipi,

juga tugas kampus yang setia menemani. :”)

30 Days Of Literature · Lainnya · Sajak (-sajakan) · September 2017

Masa Kecil

Masa kecilku adalah jajanan ciki harga lima ratusan.

Masa kecilku adalah boneka barbie yang hobi berganti pakaian. 

Masa kecilku adalah Sungai Kapuas yang dijadikan tempat bermain dengan teman.

Masa kecilku adalah permen kaki yang masih jadi favorit sampai kini.

Masa kecilku adalah bermain petak umpet, ular naga panjangnya, dan perosotan.

Apa lagi, ya? Nggak bisa mikir gara-gara ditagih adik untuk bantuin dua tugasnya. 😦

Cerita Fiksi

Fictogemino: Menunggumu

Photo © Aisha Yusaf

Apakah lebih baik aku lupakan saja pernah ada “kita” di antara aku dan kamu?

Aku mulai lelah menunggumu.

Waktu terus bergulir, dan batang hidungmu tidak kunjung kujumpai. Dua jam yang lalu kamu mengajakku bertemu, dan kini aku berada di sebuah restoran cepat saji di pinggir jalan kota, menunggumu sejak satu jam yang lalu. Setelah mendapat respon terakhir itu, aku kembali membisu dan duduk menunggu.

Seorang pegawai mengatakan pesananku akan diantar sebentar lagi. Aku kembali melihat-lihat menu, sengaja mencari paket makanan yang lebih mahal dari biasanya. Aku bosan, dan aku lapar. Sementara kamu yang kutunggu tidak kunjung datang.

Hujan di luar masih turun dengan deras, membasahi siapa pun di bawahnya tanpa ampun. Aku duduk di sebuah kursi di ujung restoran, merapatkan jaket. Dingin. Jalan raya dan semua hal di bawah langit menjadi basah. Aku kembali menembus dinding kaca, dan mataku menangkap keramaian serta kesibukan di luar sana.

Padahal hari ini adalah hari terakhir orang kerja di minggu ini. Namun, fakta itu tidak membuat suasana restoran berubah banyak. Orang yang selesai makan akan digantikan dengan orang kelaparan yang baru. Mereka ada yang datang bertiga, ada pula yang berdua. Walaupun pengunjung di sini sebagian besar datang sendiri, mungkin hanya aku yang sedang menunggu sampai kebosanan. Dan kebosanan ini membuatku kembali mengalihkan objek pandang.

Di ujung restoran aku melihat anak kecil berlarian sambil tertawa, kemudian dipanggil oleh ibunya. Beralih ke sisi kanan, aku melihat sekumpulan anak muda yang saling bercengkerama, tertawa bersama. Mataku berulang kali menatap dinding kaca di belakang sepasang pengunjung lain, titik-titik air hinggap di permukaannya. Di luar masih hujan. Aku masih menunggu, sambil menghitung waktu.

Tidak terasa hari semakin gelap saja.

Ditambah tak ada senja, hanya ada langit kelabu. Kamu tahu, menunggu itu membosankan, apalagi tanpa pemandangan kamu. Minumanku kini sudah hampir tandas, tetapi makananku belum kunjung tiba. Sebenarnya aku tidak suka menunggu. Tadi aku sudah memesan, makanan cepat saji yang katanya diantar sebentar lagi itu sudah 15 menit kutunggu. Sejenak rasanya aku seperti dilupakan semua orang, oleh pegawai kasir, koki di dapur, pengunjung restoran―dan juga dirimu.

Iya, kamu.

Di sini masih hujan, dan aku memutuskan untuk tetap menunggumu.

.

.

Fictogemino: Fiksi yang memiliki alur ganda. Bisa dibaca dari atas ke bawah dan sebaliknya (per kalimat atau paragraf―di sini kucoba bisa dibaca ke atas atau ke bawah per kalimatnya). Bisa memiliki akhir cerita serupa, atau justru berbeda. 

.

.

rufindhi

Depok, 13 September 2017

#ScrivenSeptember · Sajak (-sajakan)

Ilusi

Aku begitu dipuja dan disyukuri. Kamu mau apa? Aku bisa membelikan semua yang ada di sini. Buku kuliah atau makanan sehat bergizi. Ambil saja semua, aku yang urusi.

Namun, itu dulu.

Umurku dimakan waktu. Habis, habis; semua demi memenuhi keinginanmu. Padahal kalau tak ada aku, kamu hanyalah butiran debu. Mau makan pun kau harus berutang dulu.

Hingga pada akhirnya, aku hanya membisu. Dulu aku memang berjaya, tapi kini aku tak lagi bisa membantu. Walaupun jadi merana, kamu harus sabar menunggu.

Karena aku ibarat fatamorgana di gurun sahara; hanya ilusi, di akhir bulan mahasiswa.

.

with love,

uang bulanan.

#ScrivenSeptember · 30 Days Of Literature · Cerita Fiksi · Lainnya · September 2017

Cerita Fiksi: Biarkan Waktu Berbicara

Time capsule. Pernah mendengarnya? Aku mengetahuinya dari seorang gadis yang kukenal dalam hidupku. Gadis bermata cokelat, dengan rambut panjang berwarna hitam yang terurai lembut. Ia baik hati. Wajahnya manis, senyumnya tidak pernah luntur. Kekurangannya hanya satu.

Hidupnya sudah tidak akan lama lagi.

Semuanya berawal sejak dua bulan yang lalu, ketika aku sedang menjenguknya di rumah sakit entah untuk yang ke berapa kalinya―aku berhenti menghitung setelah angka tiga ratus. Di salah satu bangsal, sore hari, ketika angin bertiup halus dari jendela diiringi gemirisik daun yang telah mengering.

Continue reading “Cerita Fiksi: Biarkan Waktu Berbicara”