Hari-hari, Jalan-jalan

158,4 kilometer

Kadang aku mager minta ampun, tapi ada kalanya aku melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan orang mager.

Salah satu hal mustahil itu adalah yang kulakukan Rabu 7 Agustus lalu.

Continue reading “158,4 kilometer”

Advertisements
Curhat

Partner-in-Maso

Pengakuan dosa dulu. 😂 Sebenarnya ini tulisan lama. Tadi lagi iseng ngecek draf, lalu menemukan draf tentang seorang teman dan mendadak ingin merampungkannya.

Nama teman ini adalah Rana. Dia orang pertama yang memiliki banyak kesamaan minat dan hobi denganku. Terlalu banyak malah. Partner sehati bangetlah. Walau ada sebutan partner-in-crime, aku lebih suka menyebut hubungan kami sebagai partner-in-maso.

Karena kami selalu menjadi partner dalam berbagai proyek kemasoan.

Continue reading “Partner-in-Maso”

Curhat

Nunggak Blog Lagi

Coba tebak, siapa yang di awal Ramadan bilangnya mau nulis setiap hari, tapi malah nunggak enam hari?

Aku, hehe. ( ;∀;)

Kuakui memang salahku, aku tidak boleh menyalahkan yang lain sebagai pembelaan diri ‘kan, hahaha. Sedikit-banyak ada kesengajaan untuk tidak menulis sih. Sebab utamanya karena satu tema yang terlewat kutulis. Sayangnya, ketika mau kutebus utang tulisannya … kok malah blank mau menulis apa.

Aku akan tetap mengejar ketertinggalan ini. Duh, mana ada banyak hal yang mau kutuliskan juga pula.

Inilah akibat nyata dari hanca, wankawan. Jadi, jangan coba-coba, ya. ( ;∀;)

.

Depok, 18 Mei 2019

Curhat, Opini

Sebenarnya…

Ketika isi blogku tampak adem ayem damai sentosa, sebenarnya aku juga kerap lelah dengan segala keributan di dunia maya.

Hanya saja, saking lelahnya, aku jadi malas menanggapi, hahaha.

Pada dasarnya, aku memang tidak suka berdebat. Jika ada keributan antarkelompok, aku cenderung diam. Jadi penonton. Kadang sikap ini tampak salah, tapi juga bisa jadi langkah yang tepat. Aku tidak suka terlibat dalam konflik, memang. Apalah aku yang ingin hidup damai sentosa, tetapi kenyataan tidak mengabulkannya begitu saja.

Saking seringnya―tanpa sengaja―melihat perdebatan dua kelompok, kadang aku bertanya-tanya dalam hati. Mereka tidak lelah ya saling gontok-gontokan seperti itu? Aku yang melihatnya saja lelah.

Suatu ketika aku juga merasa bersalah dengan sifat pasifku ini. Namun, berhubung aku tipe orang yang mikiran, tidak baik ketika perasaan bersalah itu tetap kusimpan. Memikirkan mana yang benar; kemudian jadi berlanjut, benar menurut siapa? Aku atau orang lain? Jadi, sebelum pikiran itu berkepanjangan, aku menyimpulkan bahwa mungkin cara hidupku memang begini. Pasif. Aku tidak cocok untuk terlibat dalam hal pelik yang berkonotasi negatif. Berada di lingkaran kenegatifan akan memengaruhi jasmani dan rohaniku. Maka, biarlah jika dalam panggung dunia ini peranku hanya figuran semata.

Tulisan kali ini terlalu acak, ya? Entah mengapa hanya ingin menuliskan isi pikiran. Siapa tau setelah ditulis begini, aku tidak begitu memikirkannya lagi. 😌

.

Depok, 8 Mei 2019