30 Days of Literature (2017)

Aku (Tidak) Menyesal

Aku tidak pernah menyesal menekuni bidang kepenulisan. Menyelami sampai bertahun-tahun lamanya. Berkali-kali mencicipi kegagalan, hingga akhirnya bisa mengumpulkan keberhasilan-keberhasilan yang tertunda.

Continue reading “Aku (Tidak) Menyesal”

Advertisements
30 Days of Literature (2017), Curhat

My (Not So) Deadly Sins

Aku suka diam-diam mengaktifkan tethering hotspot ponsel Ibu atau Ayah ketika sedang kehabisan kuota.

Aku pernah memasang foto selfie OSPEK jurusan ketika masih kuliah di kampus A untuk tugas selfie OSPEK fakultas di kampus B karena hopeless dan lelah OSPEK dua kali.

Aku pernah diam-diam mengambil “sedikit” makanan atau minuman milik kakak atau adik di kulkas dengan pikiran, “Mau nyoba aja kok, diambil cuma dikit kayaknya nggak bakal ketahuan.”

Aku pernah mendadak libur di hari reguler kuliah dan memanfaatkannya dengan tidur ronde dua padahal ada tugas untuk keesokan harinya.

Aku sering (banget) mengiyakan Ibu yang menyuruh jangan begadang, tapi sekalinya ditinggal malah begadang: Menonton film, mengerjakan tagihan desain, menggambar, atau menulis blog (karena siang hari tidak sempat). Kalau Ibu mendadak keluar kamar, langsung tutup laptop, lompat ke tempat tidur, dan pura-pura tidur di dalam selimut.

Waktu SMP, aku pernah disuruh tidur lebih awal, tetapi malah main laptop di dalam selimut―dan bodohnya brightness-nya dipasang full, alhasil pernah kepergok Pakde karena kelihatan terang dari jendela kamar yang menghadap teras.

Aku pernah malas merapikan kamar indekos, dan baru membereskannya ketika orang tua akan berkunjung.

Hmm, kedengarannya kurang deadly, ya?

Sebenarnya kalau ketahuan sama yang bersangkutan bisa gawat juga sih walaupun tidak akan sampai dead, hahaha. Contohnya ya … kayak yang kepergok main laptop di dalam selimut itu. :”)

.

.

sedang melakukan dosa juga, mengiyakan Ibu untuk tidur cepat, tapi justru membuat tulisan (dua pula) untuk blog,

Depok, 12 September 2017

30 Days of Literature (2017), Keluarga

True Love

Sebenarnya mau komentar dulu, tema 30 Days Of Literature hari ini romance banget ya secara kasat mata. Padahal aku paling lemah bikin romance, duh, kalimatnya till death do us part pula. Aku yang pengalaman mentok di mantan gebetan bisa apa? Berat tahu, berat. Hahaha. =))

Tapi, kalau bicara soal cinta yang tetap bersama, bahkan saking selalu setianya hingga hanya kematian yang bisa memisahkan, aku jadi ingat orang tuaku sendiri.

Continue reading “True Love”

30 Days of Literature (2017), Cerita Fiksi

Cerita Fiksi: Tukang Sayur Kekinian

Hampir semua orang sudah tahu kalau sekarang sudah memasuki era informasi. Namun, siapa yang tahu bahwa ada seseorang yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi masa kini pada profesinya yang tidak biasa?

Sebut saja Ujang. Pemuda berperawakan tinggi yang masih single. Namanya memang pasaran, tetapi ia terkenal di kalangan kaum hawa. Ia selalu dikejar, dicari, dan dinanti. Seperti artis, bedanya ia tidak dimintai tanda tangan. Coba tebak, apa pekerjaannya?

Tukang sayur keliling di kompleks perumahan.

Walaupun namanya tukang sayur, ia menjual banyak hal lain, seperti bumbu dapur, ikan, micin, dan kerupuk. Seperti tukang sayur pada umumnya, ya? Namun, ia punya prinsip hidup yang kekinian sekali, “be different“. Jadi, ia bukan sembarang tukang sayur, tetapi tukang sayur yang memanfaatkan ICT, alias Information and Communication Technology dengan baik.

Continue reading “Cerita Fiksi: Tukang Sayur Kekinian”

#ScrivenSeptember2017, 30 Days of Literature (2017), Cerita Fiksi

Cerita Fiksi: Biarkan Waktu Berbicara

Time capsule. Pernah mendengarnya? Aku mengetahuinya dari seorang gadis yang kukenal dalam hidupku. Gadis bermata cokelat, dengan rambut panjang berwarna hitam yang terurai lembut. Ia baik hati. Wajahnya manis, senyumnya tidak pernah luntur. Kekurangannya hanya satu.

Hidupnya sudah tidak akan lama lagi.

Semuanya berawal sejak dua bulan yang lalu, ketika aku sedang menjenguknya di rumah sakit entah untuk yang ke berapa kalinya―aku berhenti menghitung setelah angka tiga ratus. Di salah satu bangsal, sore hari, ketika angin bertiup halus dari jendela diiringi gemirisik daun yang telah mengering.

Continue reading “Cerita Fiksi: Biarkan Waktu Berbicara”

30 Days of Literature (2017), Opini

Realita atau Kira-kira

Apa yang kamu tahu dari seorang anak perempuan dari pejabat sibuk yang tinggal di rumah mewah?

Apa yang kamu tahu dari seorang anak laki-laki yang sering absen sekolah tanpa kabar?

Apa yang kamu tahu dari seorang mahasiswa yang kerjaannya hanya kuliah lalu pulang?

Dan segudang pertanyaan lainnya; apa yang kamu ketahui dari hidup mereka?

Continue reading “Realita atau Kira-kira”

30 Days of Literature (2017), Cerita Fiksi

Cerita Fiksi: Pizza dan Cinta

Seloyang pizza hangat dengan topping utama daging giling dan jamur ada di depan mata. Asap sisa dipanggang di oven masih tersisa walaupun sudah melewati perjalanan panjang dengan tukang delivery. Irisan paprika hijau dan bawang bombay menyebar, merata di antara topping utama. Dan terakhir, lapisan keju mozarella yang meleleh, menyatukan setiap topping juga saus pizza pada rotinya.

Kelvin menarik pizza miliknya secara perlahan. Keju mozarella yang meleleh dan lengket itu tertarik secara dramatis. Niko, sohib seperalayannya di SMA, hampir saja meneteskan ludah karena tidak menjaga pandangan dalam sesaat sebelum kemudian dia membuang muka lagi.

Niko suka sekali dengan pizza. Itu makanan favoritnya. Lelehan keju mozarella adalah definisi seksi milik Niko―tenang, dia masih suka cewek kok. Namun, kali ini ia harus menahan nafsunya karena suatu hal. Sekalipun di depan matanya ada pizza, gratisan pula. Sekalipun orang yang mengaku sohibnya itu mengganggunya sedemikian rupa; ia harus tahan.

Continue reading “Cerita Fiksi: Pizza dan Cinta”

30 Days of Literature (2017), Cerita Fiksi

Cerita Fiksi: Obrolan Manis

“Gula.”

“Madu.”

“Susu.”

“Memangnya susu manis? Yang putih tawar, tuh.”

“Susu kental manis,” jawabmu cepat.

“Curang.” Aku menggerutu. “Umm … tebu.”

“Memangnya tebu manis?” tanyamu, seakan ingin membalasku untuk yang barusan.

“Gula tebu manis.” Aku berkelit, tidak mau kalah. Aku melihat wajahmu, ekspresi yang tidak bisa menerima alasanku begitu saja. Namun, aku melirik detik jam agar bisa menghentikan pertanyaanmu yang lain. “Hayo, waktumu lima detik lagi!”

Kamu berdecih, berpikir cepat. “Mangga.”

“Mangga kan asam.”

“Ada yang manis, kok.” Kamu tidak terima dibantah olehku―kamu memang tidak mau mengalah, padahal ini hanya permainan konyol.

Aku melanjutkan. “Cokelat.”

Kamu mendadak terdiam, bergumam panjang.

“Hayo apa hayo, bingung ya, hahaha.”

Kamu masih bergumam, melihat sekeliling―tetapi di taman ini hanya ada bangku, lampu taman, pepohonan, dan kita. Tidak ada hal manis yang bisa ditemukan.

“Dua detik lagi,” kataku, bersiap menyerukan kemenangan. Kamu justru memandang mataku. “Satu detik―”

“Kamu.”

“… aku?”

“Iya, kamu,” ulangmu. “Kamu manis.”

Aku terdiam, wajahku mendadak panas. Dalam sepersekian detik aku jadi gagap.

“H-hah?” Aku masih memahami apa yang sedang terjadi, memegang kedua pipi. “A-apaan kok ti-tiba-tiba―”

“Tetot. Sepuluh detikmu habis.” Kamu tersenyum jahil. “Aku menang.”

“Curang!” sungutku kesal, tapi pipiku masih panas.

Kamu beranjak dari kursi, “Tapi yang terakhir itu betulan kok.”

Aku kembali terdiam.

Sepertinya, kamu tidak hanya memenangkan permainan konyol itu,

tapi juga … aku.