30 Hari Bercerita (2018)

Kilas Balik #30HariBercerita 2018

Halo, hari terakhir bulan Januari. Selain menandakan bahwa proyek menulis #30HariBercerita sudah selesai, berakhirnya bulan ini juga menandakan liburanku yang sebentar lagi habis dan ‘kenyataan’ mulai muncul ke permukaan.

Maafkan feeds yang tidak indah (aku mah nggak mikirin estetika feeds instagram, wkwkwk)

Dan … akhirnya tercapai juga, menulis sebulan penuh tanpa bolong sehari pun! Berikut ini kurekap tulisan-tulisan yang kubuat di Instagram (karena main event-nya berlangsung di sana) dan kemudian kuterbitkan juga di blog ini beserta pranalanya.

Continue reading “Kilas Balik #30HariBercerita 2018”

Advertisements
30 Hari Bercerita (2018), Menulis

Bergerak; Memulai Kebiasaan Menulis Setiap Hari

Bergerak adalah kata kerja. Akan ada banyak hal yang bisa menunjukkan kalau kamu―kalau kita―sudah atau sedang ‘bergerak’ dalam satu hal.

Salah satu ‘bergerak’ yang kualami, ya, menulis setiap hari seperti yang sudah kulakukan hampir sebulan penuh ini.

Continue reading “Bergerak; Memulai Kebiasaan Menulis Setiap Hari”

30 Hari Bercerita (2018), Islam

Hoaks dalam Bercanda

hoaks /ho•aks/ n berita bohong

Hoaks mengenai beras plastik hingga kutukan anak durhaka mah sudah ‘biasa’, ya. Apalagi di dunia perpolitikan, apa pun dilakukan demi menjaga citra dan menyelamatkan diri sendiri, salah satunya dengan membuat hoaks hingga sandiwara.

berita /be•ri•ta/ (1) n cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; kabar. (2) n laporan. (3) n pemberitahuan; pengumuman.

Tapi, hoaks itu ternyata nggak cuma ada di berita yang berseliweran di televisi atau media sosial, tetapi juga ada dalam senda gurau.

Continue reading “Hoaks dalam Bercanda”

30 Hari Bercerita (2018), Curhat

Godaan Stationery dan Penangkalnya

Aku lemah kalau sudah melihat barang-barang stationery. Itu tuh, kayak pulpen yang bentuknya lucu, notes-notes dengan cover aesthetic yang menggugah kekhilafan, day hingga year planner elegan yang harus merogoh saku dalam-dalam demi membelinya―untuk kemudian dibiarkan kosong karena sayang diisi (duh), sticker post-it yang berwarna indah, washi-tape lucu yang bikin anak kos puasa lima hari, dan maaasih banyak lagi.

Continue reading “Godaan Stationery dan Penangkalnya”

30 Hari Bercerita (2018), Keluarga

Teh Manis Panas

“Minumnya apa, Mbak?” Begitu tanya ibu padaku setiap kami sekeluarga makan di rumah makan. Pertanyaan itu pasti dilontarkan setelah semua makanan dipesankan, tapi aku biasanya hanya bergumam sambil melihat deretan minuman di menu.

Aku payah dalam memilih―atau membuat keputusan. Biasanya aku lebih suka memberi jawaban terserah (yang membuat sebal kebanyakan orang, lol), tapi sekalinya sudah pernah menentukan pilihan dan ‘nyaman’ pasti aku akan memilih itu terus. Contohnya, ya … memilih minuman di rumah makan.

Continue reading “Teh Manis Panas”

30 Hari Bercerita (2018), Cerita Fiksi

Fiksi: Penangkal Andalan

Minggu pagi ini aku bangun diiringi teriakan ibu dari dapur. Aku buru-buru bangun dari tidur pura-puraku, beranjak dari tempat tidur, lalu bertingkah seolah baru saja tidur nyenyak.

Padahal aku bergadang semalam suntuk demi menyelesaikan sebuah naskah novel. Namun, aku menyerah melanjutkannya, tepat setelah menuliskan adegan konyol untuk tokoh antagonis yang mengganggu kesejahteraan hidup tokoh utamaku. Aku membuatnya didorong anak kecil. Alih-alih memeluk lelaki tampan, ia kubuat memeluk tiang listrik.

Omong-omong, nama tokoh antagonisnya dari cewek menyebalkan yang kemarin mengejek gaya rambutku di sekolah. Karena tidak bisa kubalas langsung, jadi kubalas lewat ceritaku saja. Hahaha, rasain!

“Kamu pasti pura-pura tidur, ya?” tuduh ibu tiba-tiba.

Gawat. Bagaimana ibu bisa tahu?

“Nggak apa-apa, kan libur.” Aku menyahut asal.

“Pasti nonton drama,” tebak ibu lagi.

“Ih, ngetik cerita dong. Naskah novel.” Aku berkilah. “Pusing, Bu. Aku buntu ide. Entahlah mau diapakan ceritanya. Apa aku menyerah saja, ya?”

“Masa mau menyerah begitu saja?” tanya ibu sambil mencuci piring. “Seingat Ibu, dulu kalau kamu sedang mentok ide, kamu selalu punya penangkalnya. Penangkal andalan, kamu bilang.”

Penangkal andalan?

“Memangnya apa?” Aku kembali bertanya, kali ini penuh harap. Aku benar-benar membutuhkan penangkal kebuntuan ide.

Tapi ibu malah cengar-cengir sambil terus mencuci. “Masa sudah lupa? Masih muda kok pikun.”

Aku merutuk sebal. Ibuku mendadak menyebalkan ketika aku benar-benar membutuhkan penangkal andalan itu. Saat ini aku sedang buntu ide menulis. Aku membutuhkannya, tapi Ibu malah bikin penasaran macam sinetron bersambung.

“Ibu pelit, nih,” sahutku, lalu berlari ke kamar sebelum dicipratkan air sabun.

Apa, ya? Penangkal andalan di saat mentok ide?

Berpikir, berpikir, berpikir. Berpikir lagi, lalu sekejap aku teringat.

Aku tahu. Aku tahu! Penangkal andalan saat terkena writer block, pasti yang itu.

Aduh, kenapa aku bisa lupa? Writer block-ku kan selalu hilang kalau aku menulis lagi, asalkan diiringi musik dangdut!

.

.

Depok, 21 Januari 2018

P.S. Mengarang dengan melanjutkan tiga prompt (yang digarisbawahi) dari penyelenggara.

#30haribercerita #30hbc18mengarang #30hbc1821