#ScrivenSeptember2017, Hari-hari

Rabu Kelabu

Pagiku tadi disambut sayup-sayup suara hujan dari pintu ruang tamu yang terbuka. Aku bisa mengukur kederasannya dari suara hujan yang jatuh mengenai asbes di langit-langit kamar mandi di dalam kamar tidur. Suaranya menggema. Menghasilkan kesimpulan bahwa hujan sedang deras.

Hari ini ada kelas pagi, kuis pula. Tidak ada alasan untuk bandel dan mangkir kuliah walaupun kelas siang tidak ada.

Continue reading “Rabu Kelabu”

Advertisements
#ScrivenSeptember2017, Nostalgia

Surat untuk Masa Depan

Rekam memori itu tidak selalu berupa foto, tetapi juga bisa melalui tulisan. Contohnya adalah surat.

Zaman sekarang memang sudah serba teknologi. Apa-apa teknologi. Hingga eksistensi surat pun mulai memudar. Padahal aku tertarik untuk mengirimi surat kepada seseorang, seperti teman pena … eh, sahabat pena, ya? Nah, sayangnya aku tidak ada teman yang bisa dikirimi surat begitu. Ada keinginan untuk mencari sahabat pena ke luar negeri, tapi masalah biaya kirim membuatku berpikir ulang.

Kemudian, tercetuslah ide yang konyol tapi seru.

Kenapa aku tidak mengirim surat ke diriku sendiri saja?

Continue reading “Surat untuk Masa Depan”

#ScrivenSeptember2017, Islam

Pertemuan Rahasia Dini Hari

Aku punya secret affair―pertemuan rahasia―setiap pukul tiga pagi. Dan tidak ada yang tahu tentang ini.

Orang tuaku tidak tahu, apalagi adik dan kakakku. Aku selalu melakukannya diam-diam. Ketika mereka semua orang telah jatuh tertidur, kami bertemu diam-diam. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia dan aku, di tempat yang minim cahaya.

Kami beberapa kali bertemu dalam satu hari, tetapi ketika hari sudah gelap dan bulan mulai singgah dari tempatnya, kami akan lebih intim dari biasanya. Ia yang paling tahu segala masalahku, cerita bahagiaku, isi hatiku, juga dosa-dosaku di dunia. Ia yang paling mengerti aku.

Ia adalah tempatku mengadu ketika aku merasa sendiri. Ia tempatku berpangku ketika aku sedang gundah gulana.

Ya, tidak ada yang lain selain diri-Nya. Ia yang selalu ada untukku membuat pertemuan kami yang diam-diam itu selalu kutunggu―dan kusukai.

Pukul tiga pagi,

di tempat gelap,

berdua saja.

.

.

Depok, 25 September 2017

#ScrivenSeptember2017, Curhat

Aku, Rumah, dan Kosan

Sebagai orang yang cenderung introvert, aku lebih senang tinggal di rumah daripada melanglang buana. Terlebih, hobiku memang lebih banyak yang lebih pas dan bisa dilakukan di rumah, seperti membaca dengan suasana tenang, mengetik, menggambar digital, memasak, bermusik, dan deretan ini masih akan terus berlanjut. 😂

Namun, di sudut hati kecilku, aku juga punya impian untuk menjelajah tempat baru seorang diri―mungkin ini sedikit tersalur melalui salah satu kegemaranku, yaitu keliling mall/toko buku sendirian.

Yah, tetap saja sih seluruh hatiku tertinggal di rumah. 😂

Continue reading “Aku, Rumah, dan Kosan”

#ScrivenSeptember2017, Curhat, Islam, Opini

Perkara Salam dan Salim

Kalau orang Thailand bersalaman dengan saling mengatupkan kedua tangannya dan orang Jepang dengan membungkukkan badannya, orang Indonesia akan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Budaya salaman ini memang sudah sangat melekat di dalam diri orang Indonesia. Bahkan karena umat Muslimnya mayoritas, jadi timbul budaya “salim” yang sering kita lakukan ketika pamit dengan Ibu setiap hendak berangkat sekolah dengan meraih tangan orang yang lebih tua dan ditempelkan ke hidung.

Dulu, aku merasa salaman atau saliman ini bukanlah hal yang musti dikhawatirkan. Toh, ini adalah bentuk dari rasa hormat kepada yang lebih tua, seperti kita yang menyalami guru, orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, hingga teman dari orang tua kita sendiri. Namun, lambat laun aku mulai berpikir, menghubungkannya dengan hukum agama yang semakin kupahami, dan teringat ada larangan non muhrim untuk bersentuhan.

Saat itu juga aku tersadar. Ayahnya teman kita kan non muhrim, teman laki-laki Ayah atau Ibu juga non muhrim, termasuk guru laki-laki di sekolah. Itu artinya, aku tidak boleh salim dengan mereka semua dong?

Continue reading “Perkara Salam dan Salim”

#ScrivenSeptember2017, Sajak (-sajakan)

Hal-hal yang Tidak Ada Batasnya

Infinity memiliki arti tanpa batas; tak terbatas. Meluap, bahkan terkadang ketidakterbatasannya sering tidak terkontrol.

Dan di hidup ini, banyak hal-hal kecil hingga besar yang tidak memiliki batas.

Seperti, harapan yang ingin dicapai,

wish-list buku yang ingin dibeli,

doa teruntuk diri sendiri dan yang dikasihi,

tujuan hidup yang masih dicari,

destinasi wisata yang ingin dikunjungi,

makanan enak yang ingin dicicipi,

juga tugas kampus yang setia menemani. :”)