#AksaraAgustus2017 · Curhat · UI

Gelar Jepang UI 23 [Day 3]

[1]

bengkil² /beng·kil/ a, terbengkil-bengkil /ter·beng·kil-beng·kil/ a susah payah (melakukan sesuatu); ia berkayuh mudik menongkah arus itu dengan –.

***
[2]

pudat /pu·dat/ a penuh tumpat.

Seenggaksukanya aku dengan tempat panas, penuh, pudat, dan memiliki definisi menunggu, aku tetap saja nggak kapok, dan ini berlaku untuk acara Festival Kebudayaan Jepang yang tadi siang kukunjungi, yaitu GJUI.

Hari ini telah berlangsung hari puncak Gelar Jepang UI yang juga menginjak hari ketiganya. Dengan lokasi yang sedikit lebih luas serta booth merchandise, lembaga, dan komunitas yang lebih banyak dari dua hari sebelumnya, membuat hari ini menjadi hari terpudat bagi GJUI 23. Manusia tumpah ruah. Rasa-rasanya antrian sembako bisa kalah dari antrian kami yang hanya sedang menunggu giliran body checking dan masuk ke dalam area event.

Continue reading “Gelar Jepang UI 23 [Day 3]”

#AksaraAgustus2017 · UI

Gelar Jepang UI 23 [Day 2]

tumpat /tum·pat/ a 1 penuh padat (tt ruang, rongga, dsb); penuh krn terjejal; mampat: kamar itu pun — oleh buku; kota-kota sudah — oleh pengungsi; 2 ki tersuntuk akal (hilang akal, tidak tahu apa yg harus dikerjakan): pikirannya — krn kehilangan anaknya;

Sejak kemarin (Jumat), di kampusku sedang ada acara besar yang berasal dari program studi Sastra Jepang, yaitu Gelar Jepang Universitas Indonesia (selanjutnya disingkat GJUI). Kemarin aku nggak datang, tapi hari ini (Sabtu) aku datang. Acara Jepang ini bukan dari jurusanku memang, walaupun jurusanku juga punya acara nggak kalah menarik, tetapi kami berada dalam fakultas yang sama. Dan aku sudah cukup bangga dan senang karenanya.

Eh, ya, sedikit rasa sedih sih karena masuk Sastra Jepang adalah impianku sejak kelas 1 SMA, tapi gagal tercapai. :”)

Oke, skip. Kembali lagi ke GJUI.

Continue reading “Gelar Jepang UI 23 [Day 2]”

#AksaraAgustus2017 · Ospek

Maba Rawan Terpica

Setelah mengarungi KBBI di ponsel juga bantuan dari Om Gugel, akhirnya aku memilih kata pica sebagai kata pertama untuk membuka #AksaraAgustus2017 di sini. Ternyata agak sulit juga ya, terlebih aku harus paham cara memakai kata tersebut dalam sebuah kalimat. 😂

Nah, menurut hasil salin-tempel dari KBBI, pica atau terpica bermakna lengah, lalai, atau meleng. Dan entah kenapa sejak satu tahun yang lalu aku membuat hipotesis bahwa maba (mahasiswa baru) itu rawan terpica.

Continue reading “Maba Rawan Terpica”

#JumblingJuly2017 · Curhat · Kuliah · Nostalgia · Opini

Dukamu Bukan Dukaku

Bagi mahasiswa yang kuliahnya merantau ke luar kota atau pulau, banyak yang memutuskan untuk tinggal indekos. Aku termasuk yang pernah (terpaksa) indekos selama setahun. Tepatnya tahun 2015-2016 karena aku tinggal di Depok dan kampusku di Jatinangor (Sumedang). Bolak-balik naik angkot + bus saja bisa tiga jam, itu kalau nggak macet. Kalau macet ya … bisa dua sampai tiga kali lipatnya. Untuk alasan yang sangat masuk akal itu, aku nggak mungkin kuliah pulang-pergi dan memutuskan untuk indekos.

Ada sebagian mahasiswa baru yang sepertinya sangat mengimpikan kehidupan kuliah rasa indekos, bahkan rasanya nggak sedikit yang rumahnya di kota sebelah tapi ia indekos di dekat kampus. Alasannya ada dua: Nggak sanggup menerjang kemacetan (biasanya dia sudah pengalaman pulang-pergi naik kendaraan sendiri/umum tapi akhirnya lelah juga) atau pingin saja.

Iya, pingin. Banyak yang ingin merasakan kebebasan indekos karena jauh dari orang tua.

Continue reading “Dukamu Bukan Dukaku”

#JumblingJuly2017 · Curhat · Kuliah

Kelas Di-cancel

Ada satu hal yang nggak bakal terjadi di masa SMA, tapi sering (banget) kejadian di masa kuliah.

Kelas di-cancel.

Aku nggak tahu ini suka atau duka. Yang kuyakini adalah hanya kita yang bisa menentukan sendiri akan menjadikan fenomena “kelas di-cancel” itu sebagai kesialan atau keberuntungan. Faktor kelas mendadak dibatalkan ini biasanya hampir selalu karena dosen, entah dosen ada rapat mendadak, lagi sakit, izin ada urusan tertentu yang urgent atau mendadak, lagi pergi ke luar kota tapi lupa mengabari, dan masih banyak lagi. Menurut pemikiranku yang rada ngaco malam ini, seenggaknya bagi mahasiswa ada empat sudut pandang cara mereka menyikapi fenomena yang bagiku setengah nikmat dan setengah menyebalkan ini. Sudut pandangnya dibagi ke dalam dua kelompok besar, si Rajin dan si Malas; si Negative Thinking dan si Positive Thinking.

Continue reading “Kelas Di-cancel”

#JumblingJuly2017 · Curhat · Kuliah

Strategi Kemacetan

Sebagai pengendara bermotor di Kota Depok, macet sudah menjadi sesuatu yang nggak lagi bisa dihindari. Macet itu jadi momok yang … merusak mood iya, bikin telat iya, dan masih banyak lagi sisi negatifnya. Bahkan rasanya hampir nggak ada sisi positifnya―oh, dalam suatu kondisi tertentu bisa menjadi positif, sih. 

Aku selalu kena macet tiap berangkat ke kampus, bahkan aku sampai berusaha menghafal dan selalu memikirkan strategi biar mengurangi peluang kena macet yang parah.

Continue reading “Strategi Kemacetan”