#Noctober2017 · Curhat

Sulit Fokus

Fokus itu sulit―setidaknya bagiku.

Continue reading “Sulit Fokus”

Advertisements
Curhat

Serba-serbi Mimpi

aid149499-v4-728px-Lucid-Dream-Step-5-Version-3
source: wikiHow

Kamu pasti pernah bermimpi ketika tidur, kan? Pun aku.

Ada yang mengatakan mimpi itu cepat hilang, bahkan beberapa detik setelah kita bangun. Aku mengiyakan pernyataan itu. Makanya, ketika aku memimpikan hal yang menarik dan seru, baru melek pun aku langsung mencatat mimpi itu di notes ponsel.

Lumayan, bisa menjadi inspirasi cerita baru. Terkadang bisa lengkap dari awal sampai akhir, terkadang juga hanya garis besarnya saja karena detail-detailnya mulai pudar dan sulit diingat padahal baru saja bangun satu menit yang lalu. Walaupun begitu, semuanya sudah cukup untuk menjadi bahan re-call ketika aku membutuhkannya. Entah untuk apa.

Continue reading “Serba-serbi Mimpi”

#Noctober2017 · Curhat

Make-Up

Make-up adalah satu (atau dua?) kata yang akan membuatku memakai tanda elipsis (…) sebagai reaksi―alias aku akan no comment karena tidak pernah bisa nyambung.

Aku jarang memakai make-up atau bisa dibilang saat ini belum ada ketertarikan pada hal tersebut. Aku tidak mau bilang “tidak akan tertarik” karena aku sering kena karma sendiri, hahaha. Nanti pasti ada waktunya walaupun perangkatnya tidak akan selengkap mbak-mbak yang hobi merias hingga menyulap wajahnya karena hasil riasannya bisa jauh berbeda dengan yang asli.

Namun, tidak tertarik bukannya aku tidak pernah mencoba. Minimal aku mencoba untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Continue reading “Make-Up”

Curhat · Islam · Opini

Keputusan

Membuat keputusan itu selalu sulit untuk seorang aku―atau mungkin juga kamu, dia, dan mereka―karena di balik setiap keputusan selalu ada risiko yang harus kita hadapi. Suka tidak suka; senang tidak senang.

Dan sebagai seorang muslim, tentu saja aku mencoba untuk selalu membuat keputusan berdasarkan ajaran Islam. Sederhananya, jika aku ingin melakukan sesuatu, semuanya selalu kucoba diniatkan untuk Allah swt.

saved from pinterest

Continue reading “Keputusan”

30 Days Of Literature · Curhat · Islam · Opini · September 2017

Perkara Salam dan Salim

Kalau orang Thailand bersalaman dengan saling mengatupkan kedua tangannya dan orang Jepang dengan membungkukkan badannya, orang Indonesia akan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Budaya salaman ini memang sudah sangat melekat di dalam diri orang Indonesia. Bahkan karena umat Muslimnya mayoritas, jadi timbul budaya “salim” yang sering kita lakukan ketika pamit dengan Ibu setiap hendak berangkat sekolah dengan meraih tangan orang yang lebih tua dan ditempelkan ke hidung.

Dulu, aku merasa salaman atau saliman ini bukanlah hal yang musti dikhawatirkan. Toh, ini adalah bentuk dari rasa hormat kepada yang lebih tua, seperti kita yang menyalami guru, orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, hingga teman dari orang tua kita sendiri. Namun, lambat laun aku mulai berpikir, menghubungkannya dengan hukum agama yang semakin kupahami, dan teringat ada larangan non muhrim untuk bersentuhan.

Saat itu juga aku tersadar. Ayahnya teman kita kan non muhrim, teman laki-laki Ayah atau Ibu juga non muhrim, termasuk guru laki-laki di sekolah. Itu artinya, aku tidak boleh salim dengan mereka semua dong?

Continue reading “Perkara Salam dan Salim”

30 Days Of Literature · Curhat · September 2017

My (Not So) Deadly Sins

Aku suka diam-diam mengaktifkan tethering hotspot ponsel Ibu atau Ayah ketika sedang kehabisan kuota.

Aku pernah memasang foto selfie OSPEK jurusan ketika masih kuliah di kampus A untuk tugas selfie OSPEK fakultas di kampus B karena hopeless dan lelah OSPEK dua kali.

Aku pernah diam-diam mengambil “sedikit” makanan atau minuman milik kakak atau adik di kulkas dengan pikiran, “Mau nyoba aja kok, diambil cuma dikit kayaknya nggak bakal ketahuan.”

Aku pernah mendadak libur di hari reguler kuliah dan memanfaatkannya dengan tidur ronde dua padahal ada tugas untuk keesokan harinya.

Aku sering (banget) mengiyakan Ibu yang menyuruh jangan begadang, tapi sekalinya ditinggal malah begadang: Menonton film, mengerjakan tagihan desain, menggambar, atau menulis blog (karena siang hari tidak sempat). Kalau Ibu mendadak keluar kamar, langsung tutup laptop, lompat ke tempat tidur, dan pura-pura tidur di dalam selimut.

Waktu SMP, aku pernah disuruh tidur lebih awal, tetapi malah main laptop di dalam selimut―dan bodohnya brightness-nya dipasang full, alhasil pernah kepergok Pakde karena kelihatan terang dari jendela kamar yang menghadap teras.

Aku pernah malas merapikan kamar indekos, dan baru membereskannya ketika orang tua akan berkunjung.

Hmm, kedengarannya kurang deadly, ya?

Sebenarnya kalau ketahuan sama yang bersangkutan bisa gawat juga sih walaupun tidak akan sampai dead, hahaha. Contohnya ya … kayak yang kepergok main laptop di dalam selimut itu. :”)

.

.

sedang melakukan dosa juga, mengiyakan Ibu untuk tidur cepat, tapi justru membuat tulisan (dua pula) untuk blog,

Depok, 12 September 2017

Curhat · Islam · Kutipan

Alasan Bertahan

Bersabar tidak selalu terasa manis, pun bertahan tidak selalu terasa ringan.

Aku selalu mencoba bertahan dari segala masalah dan tantangan. Walaupun harus mengorbankan momen-momen tak tergantikan, banyak waktu tersita, pun menguras air mata; aku selalu mencoba bertahan. Berusaha memandang beban bukan sebagai beban, tetapi sebagai ujian berhadiah ilmu atau pelajaran hidup.

Ada sebuah kalimat ajaib yang membuatku memutuskan untuk tetap bertahan di ujung keputusasaan:

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

– Al Baqarah, 286

.

.

Depok, 8 September 2017