Doraemon dan Nostalgia

Siang tadi, aku pergi ke toko buku di dekat kampus bersama seorang teman. Awalnya dia kuajak karena aku mendapat promo makan bakso gratis mi ayam di retail restoran bakso yang ada di dalam toko buku tersebut, tetapi … yah, namanya juga sudah di toko buku, kurang lengkap rasanya kalau tidak berkeliling di bagian buku dan alat tulis.

Saat itulah, ketika berkeliling di rak-rak komik, kami berhenti di rak komik yang mengenang masa kecil kami, yaitu Doraemon.

Continue reading “Doraemon dan Nostalgia”

Advertisements

“Awas, ada ular!”

Waktu masih kecil, pasti kita disuruh tidur cepat padahal masih mau lari-larian. Dan orang dewasa selalu punya banyak cara untuk membuat para anak kecil itu minimal naik ke tempat tidur dan nggak turun ke lantai lagi. Nanti lama-lama juga merem sendiri.

Continue reading ““Awas, ada ular!””

Karaoke Keluarga di Akhir Minggu

Terima kasih untuk Mata Kuliah English for Information Professional yang dosennya dua dan memberi satu hari kosong sebagai tanda pergantian dosen setelah UTS. :”) Kalau bukan karena kelas pagi esok hari ditiadakan, mustahil jam segini aku masih melek. Menyempatkan nulis blog pula bukannya belajar buat UTS, hahaha. (jangan ditiru)

Karena aku mau refreshing lewat menulis blog. Dan prompt kali ini adalah … karaoke!

Ada masa ketika keluargaku pernah ketagihan karaoke keluarga seminggu sekali. Tapi, kini Sudah tidak lagi. Bahkan saking tidak pernah dilakukan lagi, aku hampir lupa pernah ada kebiasaan ini di keluargaku dulu.

Dan aku jadi ingin bernostalgia.

Continue reading “Karaoke Keluarga di Akhir Minggu”

Confetti Spesial Ulang Tahun

Biasanya kalau di perayaan ulang tahun atau selamatan apa gitu, suka ada potongan kertas warna-warni yang ditabur-taburkan. Bahasa kerennya confetti.

Tapi kalau confetti kertas warna-warni itu biasa. Aku pernah punya pengalaman waktu berulang tahun, saat itu yang ke-16 atau ke-17 tahun gitu aku lupa pokoknya masih SMA, dengan confetti yang sangat tidak biasa.

Continue reading “Confetti Spesial Ulang Tahun”

Surat untuk Masa Depan

Rekam memori itu tidak selalu berupa foto, tetapi juga bisa melalui tulisan. Contohnya adalah surat.

Zaman sekarang memang sudah serba teknologi. Apa-apa teknologi. Hingga eksistensi surat pun mulai memudar. Padahal aku tertarik untuk mengirimi surat kepada seseorang, seperti teman pena … eh, sahabat pena, ya? Nah, sayangnya aku tidak ada teman yang bisa dikirimi surat begitu. Ada keinginan untuk mencari sahabat pena ke luar negeri, tapi masalah biaya kirim membuatku berpikir ulang.

Kemudian, tercetuslah ide yang konyol tapi seru.

Kenapa aku tidak mengirim surat ke diriku sendiri saja?

Continue reading “Surat untuk Masa Depan”