#Noctober2017 · Opini

Hujan: Musibah atau Berkah?

Apa arti hari hujan bagimu? Baik atau buruk?

Pernah mengeluh seperti ini?

“Duh, hujan lagi.”

“Yah, pakai hujan segala lagi. Basah deh ini sepatu baru dicuci.”

“Aku nggak suka hujan. Kalau naik motor suka kecipratan air gara-gara mobil!”

“Ini kenapa tiba-tiba hujan deh, jemuran masih di luar….”

“Hari ini jangan hujan dong, plis.”

“Yah, hujan. Batal deh rencana jalan-jalan outdoor kita.”

Sebenarnya, in my opinion, berpikir seperti itu manusiawi kok. Hujan yang mendadak bisa saja membatalkan rencana yang sudah disusun sejak jauh hari, atau bahkan membuat jemuran gagal kering berhari-hari.

Tapi, jangan lupa fakta bahwa hujan adalah salah satu sarana Allah untuk mengirim berkah dan rahmat kepada seluruh ciptaannya di bumi.

Continue reading “Hujan: Musibah atau Berkah?”

Advertisements
#Noctober2017 · Cerita Fiksi · Opini

Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan

Bagi semua orang, lampu jalanan mungkin hanya bermanfaat sebagai penerang jalan. Tidak sampai ke tengah, terkadang hanya pinggirnya saja. Bahkan rasanya kebermanfaatannya kurang terasa karena menyinarkan lampu temaram. Tidak pernah membuat nyaman seorang wanita yang melewati jalan itu sendirian.

Namun, bagi dia, lampu jalanan adalah harapannya.

Continue reading “Menggantungkan Harapan pada Lampu Jalanan”

Opini · Pojok Visual

Berbagi Kebaikan

Berbagi kebaikan itu punya berbagai definisi. Turun langsung sebagai relawan di lokasi bencana alam itu kebaikan. Mengirim donasi melalui bank elektronik di ponsel juga salah satu definiai kebaikan yang lain.

Tidak ada alasan untuk saling nyinyir. Tapi, sayangnya entah mengapa kecanggihan teknologi membuat kegiatan nyinyir ini menjadi mudah dilakukan dan banyak yang melakukannya tanpa berpikir panjang.

“Ah, dia enak mentang-mentang duitnya banyak, bantuinnya nyumbang doang.”

“Halah, paling relawan itu cuma cari muka.”

Stop.

Hari gini masih nyinyir? Duh.

Mari introspeksi diri. Sudahkah kita berbuat kebaikan juga? Sudahkah kita meluangkan waktu seperti relawan itu? Dan sudahkah kita ikhlas menyisihkan sebagian harta kita untuk orang yang membutuhkan?

Kamu yang tahu jawabannya.

Dan bentuk berbagi kebaikan versi aku, sebagai mahasiswa yang masih berusaha mencari uang sendiri dari karya, adalah menyumbang kebaikan dalam bentuk karya juga. =)

.

.

Depok, 30 September 2017

p.s. dua komik strip di atas adalah bentuk kontribusiku untuk event #untuksemua, yaitu satu komik strip = satu paket buka puasa untuk anak jalanan pada bulan Ramadhan lalu, yang diadakan ciayo.com.

Curhat · Islam · Opini

Keputusan

Membuat keputusan itu selalu sulit untuk seorang aku―atau mungkin juga kamu, dia, dan mereka―karena di balik setiap keputusan selalu ada risiko yang harus kita hadapi. Suka tidak suka; senang tidak senang.

Dan sebagai seorang muslim, tentu saja aku mencoba untuk selalu membuat keputusan berdasarkan ajaran Islam. Sederhananya, jika aku ingin melakukan sesuatu, semuanya selalu kucoba diniatkan untuk Allah swt.

saved from pinterest

Continue reading “Keputusan”

30 Days Of Literature · Opini · September 2017

You’re (Not?) Worth It

Kita layak untuk dicintai.

Kita layak untuk disayangi.

Kita layak untuk mendapat segala perasa positif dari orang lain. Entah karena kebaikan kita, kerendahhatian kita, kemurahhatian kita, ataupun jasa-jasa kita.

Adalah hal yang layak bagi kita untuk merasa dicintai dan disayangi banyak orang.

Namun, jangan lupa, bahwa kita pun layak dibenci.

Continue reading “You’re (Not?) Worth It”

30 Days Of Literature · Curhat · Islam · Opini · September 2017

Perkara Salam dan Salim

Kalau orang Thailand bersalaman dengan saling mengatupkan kedua tangannya dan orang Jepang dengan membungkukkan badannya, orang Indonesia akan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Budaya salaman ini memang sudah sangat melekat di dalam diri orang Indonesia. Bahkan karena umat Muslimnya mayoritas, jadi timbul budaya “salim” yang sering kita lakukan ketika pamit dengan Ibu setiap hendak berangkat sekolah dengan meraih tangan orang yang lebih tua dan ditempelkan ke hidung.

Dulu, aku merasa salaman atau saliman ini bukanlah hal yang musti dikhawatirkan. Toh, ini adalah bentuk dari rasa hormat kepada yang lebih tua, seperti kita yang menyalami guru, orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, hingga teman dari orang tua kita sendiri. Namun, lambat laun aku mulai berpikir, menghubungkannya dengan hukum agama yang semakin kupahami, dan teringat ada larangan non muhrim untuk bersentuhan.

Saat itu juga aku tersadar. Ayahnya teman kita kan non muhrim, teman laki-laki Ayah atau Ibu juga non muhrim, termasuk guru laki-laki di sekolah. Itu artinya, aku tidak boleh salim dengan mereka semua dong?

Continue reading “Perkara Salam dan Salim”

#ScrivenSeptember · Opini

Nasihat Orang Tua

Ketika orang tua kita menasihati X pada kita, lalu kita tolak dengan dalih “ini hidupku sendiri”, tetapi beberapa lama kemudian kita mendadak sadar bahwa X itu benar adanya bahkan hingga menjadikannya sebagai keyakinan diri―itulah yang kusebut sekakmat.

Orang tua kita tidak akan pernah berhenti menasihati anaknya. Jika tidak mengetahui tujuan sesungguhnya yang terkadang terselimuti emosi, biasanya nasihat itu terlihat seperti hal-hal yang berada di luar prinsip kita. Di luar keyakinan kita. Di luar jiwa anak muda yang kita aku-akui.

Lantas kita lupa, bahwa mereka juga pernah muda.

Continue reading “Nasihat Orang Tua”