#AksaraAgustus2017

Mengalah pada Kecoa

nanap /na·nap/ v 1 terbuka lebar-lebar (tt mata); melihat dng mata tidak berkedip; terbeliak: matanya sedang — menatap ke depan; perempuan tua itu menatap anaknya yg pingsan dng — dan bersimbah air mata; 2 Jk terkejut: dia — dr tidurnya;

menanap /me·na·nap/ v memandang dng mata terbeliak; melihat dng teliti: hatinya sedih dan geram ~ seluruh ruangan yg sudah diacak-acak pencuri.

Mungkin orang melihat bahwa hanya butuh seekor kecoa untuk membuatku menanap, lalu aku menyingkir segera dari area yang dijangkau serangga berwarna cokelat yang mirip buah kurma itu.

Mungkin orang lain menganggap bahwa hanya butuh seekor kecoa untuk membuatku yang sedang santai tiba-tiba nanap ketika makhluk kecil itu lewat di dekat kaki. Lantas aku terjengkang, lalu bergeser menjauh. Takut kalau ia mendadak mengaktifkan mode terbangnya.

Tolong catat. Aku adalah manusia yang selalu berusaha positive thinking.

Tidak. Aku tidak takut. Aku hanya mengalah dari makhluk kecil itu serta menghindari kontak tubuh dengannya.

:”—–)

.

.

yang baru saja dikejutkan kecoa di dapur

Depok, 10 Agustus 2017

Menulis · #AksaraAgustus2017

Thesaurus ≠ Tyrannosaurus


tesaurus /té·sau·rus/ n 1 buku referensi berupa daftar kata dengan sinonimnya; 2 buku referensi berupa informasi tentang berbagai perangkat konsep atau istilah dalam pelbagai bidang kehidupan atau pengetahuan.

cuai /cu·ai/ a 1 remeh; tidak penting; tidak berharga; 2 lalai;

mencuaikan /men·cu·ai·kan/ v 1 mengabaikan; memandang rendah (hina, tidak berharga, dsb); 2 tidak mengindahkan; mengabaikan: ~ peringatan

lazim /la·zim/ a sudah biasa; sudah menjadi kebiasaan; sudah umum (terdapat, terjadi, dilakukan, dsb): sekarang sudah — wanita berambut pendek;

antarmuka pengguna adalah bagian dari desain sebuah komputer, perangkat, atau program yang menerima perintah dari pengguna dan mengembalikan informasi kepada pengguna; padanan bahasa Indonesia untuk kata user interface.

daring /da·ring/ n akr dalam jaring(an), terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya; padanan bahasa Indonesia untuk kata online.

Sebelum mengenal tesaurus (thesaurus), aku nggak tahu apa fungsinya dan nggak ada keinginan untuk mencari tahu. Cenderung mencuaikannya. Bahkan, sebelumnya kupikir ia sejenis dinosaurus dan bersaudara dekat dengan Tyrannosaurus (T-rex). 😂

Tapi, nggak mengenal bukan berarti nggak pernah mendengarnya. Aku sering mendengar istilah tesaurus, apalagi sejak aku kuliah di jurusan Ilmu Perpustakaan istilah itu sudah lazim di telingaku. Untuk mengelompokkan suatu klasifikasi sebuah buku, biasanya dibutuhkan kepemahaman terhadap tesaurus untuk memudahkan ‘pekerjaan’ dalam mengelompokkan isi buku tersebut.

Continue reading “Thesaurus ≠ Tyrannosaurus”

#AksaraAgustus2017 · Menulis

Writer Block = Mitos!

canang /ca·nang/ n gong kecil (untuk memberi alamat, menguar-uarkan pengumuman, dan sebagainya); — besar; gong;
mencanangkan /men·ca·nang·kan/ v 1 menguar-uarkan; mempermaklumkan kepada umum (dengan memukul canang); 2 ki mempropagandakan; menggembar-gemborkan;

“Btw aku mau nulis lagi tapi tentang apa ya….” Aku mengetikkan sebuah pesan kepada partner menulisku melalui online chatting. Bahasa kerennya, aku mendadak terkena writer block.

“Aku belum nulis :(” Ia membalas cepat. Padahal ia sudah menulis tiga siang tadi―yang beberapa menit kemudian diakui sebagai utang menulis untuk dua hari yang bolong. Dijawab begitu, pada akhirnya, aku tetap nggak mendapat ide untuk menulis juga ide untuk mencari kosakata baru dari sebuah tema tulisan.

Lalu aku memutuskan untuk menjadikan chat itu sebagai bagian pembuka tulisan ini, sambil aku memikirkan topik utama yang akan kubawa melalui tulisan ini. 

Continue reading “Writer Block = Mitos!”

#AksaraAgustus2017 · Opini

Kejemuan dalam Rutinitas

jemu /je·mu/ a sudah tidak suka lagi (makan, melihat, dan sebagainya) karena terlalu sering dan sebagainya; bosan: saya sudah — dengan keadaan seperti ini;

— jelak; kenyang sekali;

menjemukan /men·je·mu·kan/ v membosankan; menyebabkan jemu: gaya pidatonya —;

jemuan /je·mu·an/ n 1 hal-hal yang menjemukan; 2 cepat jemu;

kejemuan /ke·je·mu·an/ n perasaan bosan; kebosanan: bekerja tanpa kegairahan akan cepat menimbulkan –.

“Aku lagi nggak mood belajar, kira-kira harus ngapain ya biar ada motivasi?” tanya Adikku suatu malam.

Pernah mengalami hal yang sama seperti yang Adikku rasakan? Aku pun pernah. Jika kita melakukan sesuatu yang sama secara terus-menerus tentu akan muncul fase jenuh. Itu adalah fase di mana kita mulai kehilangan motivasi, sesuatu untuk bersandar dan bertahan. Contoh mudahnya, sekolah, bekerja, atau belajar.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan rasa jemu itu?

Continue reading “Kejemuan dalam Rutinitas”

#AksaraAgustus2017 · Curhat · UI

Gelar Jepang UI 23 [Day 3]

[1]

bengkil² /beng·kil/ a, terbengkil-bengkil /ter·beng·kil-beng·kil/ a susah payah (melakukan sesuatu); ia berkayuh mudik menongkah arus itu dengan –.

***
[2]

pudat /pu·dat/ a penuh tumpat.

Seenggaksukanya aku dengan tempat panas, penuh, pudat, dan memiliki definisi menunggu, aku tetap saja nggak kapok, dan ini berlaku untuk acara Festival Kebudayaan Jepang yang tadi siang kukunjungi, yaitu GJUI.

Hari ini telah berlangsung hari puncak Gelar Jepang UI yang juga menginjak hari ketiganya. Dengan lokasi yang sedikit lebih luas serta booth merchandise, lembaga, dan komunitas yang lebih banyak dari dua hari sebelumnya, membuat hari ini menjadi hari terpudat bagi GJUI 23. Manusia tumpah ruah. Rasa-rasanya antrian sembako bisa kalah dari antrian kami yang hanya sedang menunggu giliran body checking dan masuk ke dalam area event.

Continue reading “Gelar Jepang UI 23 [Day 3]”

#AksaraAgustus2017 · UI

Gelar Jepang UI 23 [Day 2]

tumpat /tum·pat/ a 1 penuh padat (tt ruang, rongga, dsb); penuh krn terjejal; mampat: kamar itu pun — oleh buku; kota-kota sudah — oleh pengungsi; 2 ki tersuntuk akal (hilang akal, tidak tahu apa yg harus dikerjakan): pikirannya — krn kehilangan anaknya;

Sejak kemarin (Jumat), di kampusku sedang ada acara besar yang berasal dari program studi Sastra Jepang, yaitu Gelar Jepang Universitas Indonesia (selanjutnya disingkat GJUI). Kemarin aku nggak datang, tapi hari ini (Sabtu) aku datang. Acara Jepang ini bukan dari jurusanku memang, walaupun jurusanku juga punya acara nggak kalah menarik, tetapi kami berada dalam fakultas yang sama. Dan aku sudah cukup bangga dan senang karenanya.

Eh, ya, sedikit rasa sedih sih karena masuk Sastra Jepang adalah impianku sejak kelas 1 SMA, tapi gagal tercapai. :”)

Oke, skip. Kembali lagi ke GJUI.

Continue reading “Gelar Jepang UI 23 [Day 2]”