Ngabubu-write [2019]

Hanya Ingin Menulis

“Kenapa menulis saat Ramadan?”

Jawaban simpelnya: pengin aja. 😌

Continue reading “Hanya Ingin Menulis”

Advertisements
Curhat

Kabar Habit Menulis Bulan Ini

Wah, gawat ini. Mentang-mentang tantangan nulis tiap hari Blogtober di bulan Oktober udah kelar, aku jadi santai-santai gini.

Masa’ habit nulisnya mau dibiarkan hilang gitu aja? Bangunnya susah, lo, kemarin aja konsisten nulis 31 hari penuh banyak godaannya. 😂

Continue reading “Kabar Habit Menulis Bulan Ini”

30 Hari Bercerita (2018)

Kilas Balik #30HariBercerita 2018

Halo, hari terakhir bulan Januari. Selain menandakan bahwa proyek menulis #30HariBercerita sudah selesai, berakhirnya bulan ini juga menandakan liburanku yang sebentar lagi habis dan ‘kenyataan’ mulai muncul ke permukaan.

Maafkan feeds yang tidak indah (aku mah nggak mikirin estetika feeds instagram, wkwkwk)

Dan … akhirnya tercapai juga, menulis sebulan penuh tanpa bolong sehari pun! Berikut ini kurekap tulisan-tulisan yang kubuat di Instagram (karena main event-nya berlangsung di sana) dan kemudian kuterbitkan juga di blog ini beserta pranalanya.

Continue reading “Kilas Balik #30HariBercerita 2018”

30 Hari Bercerita (2018), Menulis

Bergerak; Memulai Kebiasaan Menulis Setiap Hari

Bergerak adalah kata kerja. Akan ada banyak hal yang bisa menunjukkan kalau kamu―kalau kita―sudah atau sedang ‘bergerak’ dalam satu hal.

Salah satu ‘bergerak’ yang kualami, ya, menulis setiap hari seperti yang sudah kulakukan hampir sebulan penuh ini.

Continue reading “Bergerak; Memulai Kebiasaan Menulis Setiap Hari”

30 Hari Bercerita (2018), Curhat

Januari Berfaedah

Source: https://pinterest.com/pin/534239574533764574/?source_app=android

Berhubung sedang liburan semester ganjil, aku ingin mengembalikan kebiasaan yang susah payah kubangun sejak Juni tahun lalu, yaitu menulis di blog setiap hari, minimal satu tulisan. Dan alhamdulillah, sampai hari ini, niat itu bukan sekedar wacana.

Continue reading “Januari Berfaedah”

Menulis, Opini

FFn Vs. Wattpad

Karena aku sedang kurang kerjaan (atau kadang sih membuat diri sendiri terlihat kurang kerjaan padahal aslinya lagi digempur UAS dan proyek akhir), beberapa hari yang lalu aku memeriksa summary pencarian search engine dan melihat banyak manusia-manusia tersesat yang history pencariannya adalah mencari pencerahan antara FanFiction.Net dan Wattpad.

Karena aku pengertian(?) dan kebetulan topik ini menarik untuk dibahas, aku akan menulis tulisan khusus mengenai dua platform menulis ini, khususnya dalam menulis fanfiksi.

Continue reading “FFn Vs. Wattpad”

#ScrivenSeptember2017, Nostalgia

Surat untuk Masa Depan

Rekam memori itu tidak selalu berupa foto, tetapi juga bisa melalui tulisan. Contohnya adalah surat.

Zaman sekarang memang sudah serba teknologi. Apa-apa teknologi. Hingga eksistensi surat pun mulai memudar. Padahal aku tertarik untuk mengirimi surat kepada seseorang, seperti teman pena … eh, sahabat pena, ya? Nah, sayangnya aku tidak ada teman yang bisa dikirimi surat begitu. Ada keinginan untuk mencari sahabat pena ke luar negeri, tapi masalah biaya kirim membuatku berpikir ulang.

Kemudian, tercetuslah ide yang konyol tapi seru.

Kenapa aku tidak mengirim surat ke diriku sendiri saja?

Continue reading “Surat untuk Masa Depan”

30 Days of Literature (2017), Curhat

My (Not So) Deadly Sins

Aku suka diam-diam mengaktifkan tethering hotspot ponsel Ibu atau Ayah ketika sedang kehabisan kuota.

Aku pernah memasang foto selfie OSPEK jurusan ketika masih kuliah di kampus A untuk tugas selfie OSPEK fakultas di kampus B karena hopeless dan lelah OSPEK dua kali.

Aku pernah diam-diam mengambil “sedikit” makanan atau minuman milik kakak atau adik di kulkas dengan pikiran, “Mau nyoba aja kok, diambil cuma dikit kayaknya nggak bakal ketahuan.”

Aku pernah mendadak libur di hari reguler kuliah dan memanfaatkannya dengan tidur ronde dua padahal ada tugas untuk keesokan harinya.

Aku sering (banget) mengiyakan Ibu yang menyuruh jangan begadang, tapi sekalinya ditinggal malah begadang: Menonton film, mengerjakan tagihan desain, menggambar, atau menulis blog (karena siang hari tidak sempat). Kalau Ibu mendadak keluar kamar, langsung tutup laptop, lompat ke tempat tidur, dan pura-pura tidur di dalam selimut.

Waktu SMP, aku pernah disuruh tidur lebih awal, tetapi malah main laptop di dalam selimut―dan bodohnya brightness-nya dipasang full, alhasil pernah kepergok Pakde karena kelihatan terang dari jendela kamar yang menghadap teras.

Aku pernah malas merapikan kamar indekos, dan baru membereskannya ketika orang tua akan berkunjung.

Hmm, kedengarannya kurang deadly, ya?

Sebenarnya kalau ketahuan sama yang bersangkutan bisa gawat juga sih walaupun tidak akan sampai dead, hahaha. Contohnya ya … kayak yang kepergok main laptop di dalam selimut itu. :”)

.

.

sedang melakukan dosa juga, mengiyakan Ibu untuk tidur cepat, tapi justru membuat tulisan (dua pula) untuk blog,

Depok, 12 September 2017